Sosiolog: Perang sarung berubah berbahaya karena minimnya ruang ekspresi remaja
Minim fasilitas publik dinilai picu pergeseran permainan jadi aksi kekerasan
Ilustrasi AI
Sosiolog Universitas Nasional, Firdaus Syam, menilai perang sarung yang marak di sejumlah wilayah telah berubah dari permainan menjadi aksi berbahaya. Ia menyebut perubahan itu dipicu minimnya ruang ekspresi dan fasilitas publik bagi remaja.
“Dulu bagian dari bermain, lucu-lucuan. Sekarang di dalamnya diisi batu, diputar-putar, bisa melukai bahkan menyebabkan kepala bocor,” ujar Firdaus dalam wawancara di Radio Elshinta, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, fenomena ini harus dilihat dalam konteks sosial. Remaja berada pada fase pencarian jati diri dengan energi besar dan dorongan mencoba hal baru. Tanpa wadah yang tepat, energi itu dapat tersalurkan ke perilaku menyimpang.
Ia mencontohkan kawasan padat seperti Tambora yang membutuhkan pembinaan serius. Keterbatasan ruang terbuka dan sarana bermain membuat remaja sulit mendapat kegiatan alternatif yang produktif.
Firdaus juga mengkritik program pembinaan pemerintah daerah yang dinilai belum menyentuh akar masalah. Sejumlah program masih bersifat seremonial dan kerap digelar di hotel, bukan di tengah masyarakat.
“Pembinaan remaja jangan berbasis proyek. Program harus lebih populis, dilakukan di ruang publik, bekerja sama dengan RW dan kelurahan, serta menyasar kelompok remaja yang benar-benar berisiko,” katanya.
Ia menegaskan penanganan perang sarung tidak cukup dengan penindakan. Tanpa perbaikan tata kelola ruang kota dan kebijakan ramah anak, konflik serupa akan terus berulang.
Stefi Anastasia

