Telkom optimistis bertahan di tengah persaingan global

Komisaris Telkom Rizal Mallaranggeng menilai Telkom mampu tumbuh berkelanjutan di tengah ketatnya persaingan global dan transformasi digital.

Update: 2026-02-07 03:06 GMT

laporan kontributor EKO SULESTYONO

Elshinta Peduli

Komisaris PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Rizal Mallaranggeng, menyatakan optimisme bahwa Telkom mampu bertahan dan terus tumbuh di tengah persaingan global yang semakin ketat. Rizal mengungkapkan, dari lebih dari 1.000 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada saat ini, sekitar separuhnya justru mengalami kerugian dan berpotensi membebani perekonomian nasional.

“Dalam kondisi terus merugi, BUMN justru menjadi beban negara, bukan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian,” ujar Rizal, Jumat (6/2).

Ia menambahkan, dari sekitar 500 BUMN yang masih mencatatkan keuntungan, sebagian besar keuntungannya relatif kecil. Meski demikian, Rizal mengakui terdapat sejumlah BUMN yang berhasil tumbuh dengan baik, khususnya di sektor perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara), seperti BRI, BNI, dan Bank Mandiri.

Mengutip arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Rizal menyampaikan bahwa pemerintah mendorong perampingan jumlah BUMN. Dari lebih 1.000 BUMN saat ini, ke depan ditargetkan hanya sekitar 300 perusahaan.

“Bapak Presiden menekankan bahwa BUMN perlu dikecilkan. Yang paling penting swasta harus berkembang, sementara pemerintah berperan sebagai booster melalui regulasi yang sehat, ramah, dan terbuka,” jelasnya.


Rizal menegaskan, Telkom sejak awal berdiri hingga saat ini mampu bertahan dan terus berkembang di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Menurutnya, Telkom telah melewati berbagai fase revolusi digital selama lebih dari empat dekade atau sekitar 40 tahun. Transformasi dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penggantian kabel tembaga ke serat optik hingga pengembangan layanan IndiHome.

Elshinta Peduli

“Telkom mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp20 triliun hanya dalam beberapa tahun terakhir,” tegas Rizal.

Ia optimistis, ke depan Telkom mampu mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional yang rata-rata 5 persen, bahkan berpotensi tumbuh hingga 7–8 persen. Rizal mencontohkan kehadiran Starlink, layanan internet satelit milik Elon Musk, yang berpotensi mengubah lanskap industri telekomunikasi global.

“Dua tahun lalu pendapatan Starlink nol, sekarang bisa mencapai Rp800–850 miliar tanpa modal besar karena seluruh infrastrukturnya memanfaatkan SpaceX,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Telkom bersama Danantara mengambil langkah strategis dengan mengembangkan bisnis data center, menara telekomunikasi melalui Mitratel, serta memperkuat solusi digital bagi segmen korporasi dan pemerintahan.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News