Bibit.id dorong edukasi nabung rutin lewat Pekan Reksa Dana 2026

Upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia kembali diperkuat melalui penyelenggaraan “Road to Pekan Reksa Dana 2026” yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia dan pelaku industri pasar modal.

Update: 2026-04-14 07:10 GMT

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Indomie

Upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia kembali diperkuat melalui penyelenggaraan “Road to Pekan Reksa Dana 2026” yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia dan pelaku industri pasar modal. Kegiatan yang berpusat di beberapa kota seperti Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, dan Makassar ini menjadi momentum strategis dalam mendorong masyarakat untuk semakin memahami instrumen investasi, khususnya reksa dana, sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Mengusung semangat edukasi dan inklusi, rangkaian kegiatan “Road to Pekan Reksa Dana 2026” menekankan pentingnya investasi yang mudah diakses, aman, dan sesuai dengan profil risiko masyarakat Indonesia. Kampanye seperti #ReksaDanaAja dan PINTAR Reksa Dana juga dihadirkan untuk menyederhanakan pemahaman publik terhadap investasi reksa dana.

Sejalan dengan inisiatif tersebut, Bibit.id, aplikasi investasi digital terdepan di Indonesia, menegaskan perannya sebagai pelopor program Systematic Investment Plan (SIP) atau Nabung Rutin. Program ini mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara konsisten dan disiplin, tanpa harus menunggu modal besar. Bibit telah lama mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya investasi berkala sebagai strategi membangun kekayaan secara berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang membutuhkan solusi investasi sederhana namun efektif.

Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, menyampaikan, “Kami senang sekali menyaksikan gerakan yang Bibit dorong sejak lama kini menjadi agenda bersama regulator dan para pelaku industri. Terima kasih kepada OJK, BEI, teman-teman di industri, dan rekan-rekan media. Bersama kita perkuat industri reksa dana dan membantu masyarakat Indonesia membangun masa depan keuangan yang lebih baik.”

Elshinta Peduli

Pekan Reksa Dana 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kampanye sesaat, tetapi juga menjadi katalis bagi perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan. Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan platform digital seperti Bibit menjadi kunci dalam mempercepat transformasi literasi keuangan di Indonesia.

Terkait dengan tema utama dalam gerakan bersama ini, Systematic Investment Plan (SIP) merupakan gabungan dari strategi the power of compounding dan Dollar Cost Averaging. SIP mewajibkan investor untuk menyetorkan uang ke reksa dana dalam jumlah yang sama, terjadwal, dan dalam horizon waktu yang sudah disesuaikan dengan tujuan keuangan mereka. Misalnya, apabila investor ingin membeli hunian impian dalam waktu 10 tahun ke depan, maka strategi SIP sangat cocok untuk membantunya berinvestasi dengan disiplin, mudah, fleksibel, dan tentunya dalam portofolio yang terdiversifikasikan.

Dede Suryanto, praktisi perencana investasi, dosen Universitas Indonesia pada Program Studi Administrasi Keuangan dan Perbankan, dan Ketua Digital Financial Center (DFC) Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa konsep menabung dulu dan kini sangat jauh berbeda.

“Dulu kita mengartikan menabung adalah investasi yaitu menyisihkan uang secara rutin dan menyimpannya di rekening tabungan atau deposito sebuah bank. Namun dewasa ini fungsi menabung telah bergeser dari sekedar menyimpan uang, yang mana nilai uang kita lama-lama berkurang karena tergerus biaya administrasi, pajak dan tentu saja inflasi, kini beralih dengan menyimpannya dalam bentuk instrumen investasi yang relatif aman dan lebih menguntungkan, misalnya reksa dana,” kata Dede mengawali.

Menurut Dede, untuk mencapai financial goals yang diinginkan, disiplin dalam berinvestasi dan ketepatan dalam memilih jenis instrumen investasi merupakan kunci penting keberhasilan investor dalam mewujudkan tujuan keuangannya. “Systematic Investment Plan pada dasarnya adalah menyisihkan dana secara rutin dalam jangka waktu tertentu, berkomitmen mewujudkan tujuan keuangan, dan di saat yang sama menahan godaan untuk menjual reksa dana sebelum goals kita tercapai,” katanya.

Dede menambahkan, esensi dari SIP adalah mengajak setiap investor agar bisa disiplin berinvestasi secara rutin dan terencana, bukan anjuran investasi dalam jumlah besar. Ia juga menekankan pentingnya melakukan diversifikasi untuk mengurangi risiko berinvestasi pada satu instrumen saja. “SIP merupakan strategi investasi yang aman, terbukti menguntungkan, dan merupakan alternatif investasi untuk jangka panjang,” imbaunya.

Menurut India Times, Systematic Investment Plan (SIP) adalah strategi investasi di mana investor menginvestasikan jumlah uang dengan nominal yang sama ke reksa dana tertentu secara berkala atau rutin. Salah satu alasan mengapa SIP menjadi kian populer adalah tersedianya dukungan dari berbagai teknologi finansial. Di India, sejak digulirkannya kampanye “Mutual Fund Sahi Hai” (reksa dana adalah pilihan tepat) oleh Association of Mutual Funds in India (AMFI) di tahun 2017, SIP terbukti menjadi strategi yang berhasil mengubah lanskap investasi di negara tersebut. Dari periode Februari 2017 sampai Maret 2019, Average Assets Under Management (AAUM) reksa dana di India bertumbuh 33%. Yang lebih mencengangkan lagi, dari akhir tahun 2019 sampai akhir 2023, AAUM di reksa dana di India tercatat tumbuh dua kali lipat.

“Berkaca dari kisah sukses di India, tentu saja kami optimis kita bersama dapat mencapai kesuksesan yang sama di Indonesia. Terlebih, data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan hal yang menggembirakan: di akhir tahun 2022, jumlah investor reksa dana mencapai 9,6 juta investor, sementara di akhir Januari 2026 angkanya telah naik dua kali lipat lebih mencapai 19,84 juta investor,” tutup William.

Elshinta Peduli

Similar News