Ekonom: RI jangan hanya jadi pasar dalam perjanjian tarif dengan AS
Ekonom yang juga peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan perjanjian tarif resiprokal, yang akan ditandatangani Indonesia dan Amerika Serikat pada pekan depan, tidak menjadikan Indonesia sekadar pasar bagi produk asing.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Ekonom yang juga peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan perjanjian tarif resiprokal, yang akan ditandatangani Indonesia dan Amerika Serikat pada pekan depan, tidak menjadikan Indonesia sekadar pasar bagi produk asing.
Menurut Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Jumat, kesepakatan ini harus memastikan adanya manfaat nyata bagi industri dalam negeri.
Ia menilai komoditas yang mendapat pengecualian tarif dari AS, seperti sawit, kakao, kopi, dan teh, pada dasarnya bukanlah produk yang bersaing langsung dengan industri domestik negara tersebut. Karena itu, konsesi yang diberikan AS dinilai relatif terbatas.
"Sebaliknya, komitmen Indonesia untuk membuka akses pasar dan mengurangi hambatan nontarif bisa menyentuh sektor yang jauh lebih luas dan sensitif, termasuk manufaktur dan ekonomi digital," ujarnya.
Ia menekankan beban penyesuaian terbesar justru berpotensi berada di sisi Indonesia.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya memastikan kesepakatan ini tidak hanya membuka pintu bagi produk asing, tetapi juga memberikan peningkatan akses signifikan untuk produk bernilai tambah tinggi, serta disertai komitmen investasi dan transfer teknologi yang konkret dari AS.
Dia juga mengingatkan bahwa manfaat perjanjian dagang tidak otomatis terwujud hanya karena tarif diturunkan.
Menurut dia, tanpa kesiapan struktur industri, logistik, dan daya saing pelaku usaha, Indonesia berisiko hanya mengalami kenaikan impor sementara ekspor stagnan.
"Kesepakatan ini berpotensi positif, tetapi sangat bergantung pada detail implementasi dan strategi domestik. Jika tidak dikelola dengan cermat, risiko ketimpangan manfaat antara kedua negara cukup besar," katanya.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan terbang ke AS pada Kamis (19/2/2026) untuk menandatangani dokumen final kesepakatan tarif resiprokal Indonesia-AS bersama Presiden AS Donald Trump setelah penyusunan draf perjanjian rampung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perjanjian timbal balik ini masih dalam proses finalisasi, sehingga besaran tarif dagang yang disepakati kedua negara belum dapat dipastikan.
Meski demikian, dalam perjanjian ini, Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk AS, mengatasi hambatan non-tarif, serta memperkuat kerja sama perdagangan digital, teknologi, dan keamanan.
Sebaliknya, AS akan memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di Negeri Paman Sam, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh.


