Industri sawit berpotensi terapkan ekonomi sirkular

Limbah sawit diolah jadi produk bernilai, dorong ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Update: 2026-04-15 06:15 GMT
Indomie

Industri kelapa sawit di Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan model ekonomi sirkular, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Dosen sekaligus peneliti di Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin, mengatakan bahwa model ekonomi sirkular memungkinkan limbah sawit diolah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.

“Model ekonomi sirkular memang harus diterapkan di industri kelapa sawit. Untuk itu tentu dibutuhkan ilmu dan teknologi yang memadai,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Kelapa sawit dikenal sebagai tanaman zero waste crop atau nihil limbah. Seluruh bagian tanaman, mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang, dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang berguna.

Siti mencontohkan, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat diolah menjadi biomaterial seperti helm, rompi antipeluru, hingga sepatu. Ia mengaku telah melakukan berbagai penelitian yang menghasilkan inovasi produk berbahan dasar limbah tersebut.

Selain itu, cangkang sawit atau palm oil shell juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, termasuk sebagai bahan bakar boiler, campuran beton dan material bangunan, hingga bahan baku biobriket dan biopellet yang mendukung energi terbarukan.

“Pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi produk biomaterial merupakan salah satu upaya nyata penerapan ekonomi sirkular di industri sawit,” jelasnya.

Elshinta Peduli

Peneliti dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University ini juga menyebutkan bahwa dirinya mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam melakukan riset terkait inovasi sawit.

“Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan industri sawit di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dari produk turunan sawit.

Selain itu, model ini juga berpotensi memberikan dampak sosial dengan melibatkan masyarakat sekitar perkebunan atau pabrik dalam pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah.

“Jika tidak semua diolah oleh perusahaan, masyarakat sekitar dapat dilibatkan. Hal ini tentu memberikan dampak ekonomi yang positif bagi mereka,” pungkasnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News