Inflasi bulanan Maret turun ke angka 0,41 persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Maret 2026 turun menjadi 0,41 persen (month-to-month/mtm) dari sebelumnya 0,68 persen (mtm) pada Februari 2026.

Update: 2026-04-01 13:20 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Indomie

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Maret 2026 turun menjadi 0,41 persen (month-to-month/mtm) dari sebelumnya 0,68 persen (mtm) pada Februari 2026.

Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,57 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026.

“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen, dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers Rilis BPS di Jakarta, Rabu.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok pengeluaran tersebut adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi.

Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03 persen.

Bila ditinjau berdasarkan komponen, inflasi pada Maret 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) dengan andil inflasi sebesar 0,27 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging sapi.

Selanjutnya, komponen inti (core inflation) memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.

Sedangkan komponen harga diatur pemerintah (administered price) memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Secara wilayah, secara bulanan tercatat 34 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen.

Adapun inflasi tahunan tercatat sebesar 3,48 persen (year-on-year/yoy) dan inflasi tahun kalender 0,94 persen (year-to-date/ytd).

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News