Menteri Trenggono ungkap dampak BBM dan El Nino terhadap ekspor perikanan Indonesia
Raker Komisi IV DPR RI dan Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono, di Jakarta, Selasa (7/4/2026)
Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono mengingatkan besarnya dampak dinamika geopolitik global terhadap sektor kelautan dan perikanan nasional, mulai dari operasional nelayan hingga daya saing ekspor produk perikanan Indonesia.
Hal itu disampaikan Trenggono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (7/9/2026).
“Seperti kita ketahui bahwa dinamika geopolitik global, saya kira semua sudah tahu, sangat berdampak kepada salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan juga sangat berdampak. Di antaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak untuk para nelayan, yang 100% hingga saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak,” ujar Trenggono.
Ia menjelaskan, ketergantungan nelayan terhadap bahan bakar minyak (BBM) menjadi tantangan utama di tengah kenaikan harga energi global. Selain itu, gangguan distribusi juga berdampak pada rantai pasok hasil perikanan.
“Lalu kemudian harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor, hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global,” lanjutnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mewaspadai ancaman perubahan iklim ekstrem yang berpotensi memperburuk kondisi sektor kelautan dan perikanan.
Trenggono mengungkapkan, berdasarkan kajian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena iklim ekstrem yang disebut Godzilla El Nino pada tahun 2026.
“Adapun berdasarkan kajian badan riset dan inovasi nasional (BRIN), Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena Godzilla El Nino yang ditandai dengan anomali iklim ekstrim pada periode April hingga Oktober 2026,” jelasnya.
Ia menambahkan, fenomena tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang perlu diantisipasi secara cermat oleh pemerintah dan pelaku sektor perikanan.
“Situasi ini menghadirkan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan yaitu tantangan yang harus diwaspadai sekaligus peluang yang perlu dimanfaatkan secara cermat,” katanya.
Lebih lanjut, Trenggono memaparkan sejumlah risiko yang dapat ditimbulkan, mulai dari kerusakan ekosistem hingga meningkatnya ancaman terhadap budidaya perikanan.
“Dari perspektif risiko, fenomena tersebut berpotensi memicu tekanan serius di wilayah daratan, pesisir, maupun lautan termasuk peningkatan kerentanan terhadap kerusakan ekosistem, pesisir, dan laut,” ungkapnya.
Selain itu, peningkatan suhu dan evaporasi juga dapat berdampak pada kualitas lingkungan perairan.
“Tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas, yang berimplikasi pada meningkatnya risiko wabah penyakit pada komoditas budidaya, serta berpotensi mempercepat degradasi ekosistem karbon biru yang pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan,” pungkasnya.
Arie Dwi Prasetyo/Ter


