Pengamat: Mundurnya Dirut BEI imbas isu transparansi dan tata kelola

Update: 2026-01-30 16:10 GMT
Elshinta Peduli

Pengamat pasar modal David Sutyanto menilai pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman merupakan dampak dari persoalan tata kelola dan transparansi yang belakangan disorot oleh lembaga indeks global MSCI.

David mengatakan, keputusan tersebut mengejutkan pelaku pasar. Namun, menurutnya, langkah mundur itu merupakan bentuk tanggung jawab atas dinamika yang terjadi di BEI dalam beberapa waktu terakhir.

“Ini tentu mengejutkan semua pelaku pasar. Tapi kalau melihat ke belakang, isu yang disorot MSCI terkait transparansi, khususnya data free float dan kepemilikan saham, sebenarnya bukan hal baru,” kata David dalam wawancara di Radio Elshinta, Jumat (30/1/2026) siang.

Ia menjelaskan, MSCI telah mencermati persoalan tersebut sejak Februari tahun lalu. Isu serupa kembali mengemuka pada Oktober dan Desember, bahkan BEI telah melakukan pertemuan langsung dengan MSCI. Namun, langkah perbaikan yang dilakukan dinilai belum memadai sehingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya turun tangan.

David juga menyoroti pernyataan OJK yang akan berkantor di BEI sebagai bentuk perhatian khusus terhadap kinerja bursa. Hal ini muncul di tengah tekanan pasar yang menyebabkan penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir, yang menghapus capaian penguatan IHSG selama sekitar enam bulan sebelumnya.

Meski demikian, David mencatat selama kepemimpinan Iman Rachman sejak 2022, terdapat sejumlah capaian penting. Di antaranya peningkatan jumlah investor ritel ke level tertinggi, aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) yang sangat aktif, serta penerbitan berbagai regulasi baru.

Elshinta Peduli

Namun, sejumlah kebijakan tersebut juga menuai pro dan kontra. Salah satunya penerapan Full Call Auction (FCA) yang dinilai sebagian pelaku pasar sebagai bentuk intervensi. Investor global pun memandang kebijakan tersebut berpotensi mengganggu mekanisme pasar.

Selain itu, praktik suspensi saham yang cukup aktif juga menjadi perhatian MSCI. Menurut David, suspensi saham yang hanya disebabkan kenaikan harga dapat mengganggu daya tarik investasi karena saham yang disuspensi tidak bisa masuk ke indeks internasional dalam periode tertentu.

“Ini berdampak pada minat investor asing karena saham-saham tersebut akhirnya tidak eligible masuk indeks global,” ujarnya kepada News Anchor Telni Rusmitantri.

David menambahkan, penutupan kode broker serta klasifikasi investor asing dan domestik yang kurang transparan juga membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah transaksi asing dalam beberapa waktu terakhir.

Terkait respons pasar atas pengunduran diri Dirut BEI, David menilai reaksi awal cenderung negatif karena pelaku pasar bersikap hati-hati. Namun, kepercayaan mulai pulih setelah pasar melihat operasional bursa tetap berjalan normal dan adanya komitmen OJK untuk mengawal BEI.

“IHSG sempat rebound cukup baik, hampir mendekati dua persen. Ini menunjukkan pasar cukup menerima situasi ini,” katanya.

Ke depan, tantangan terbesar bagi pelaksana tugas maupun Dirut BEI yang baru adalah mengembalikan kepercayaan investor, khususnya investor asing. Menurut David, hal itu hanya bisa dilakukan dengan memperkuat fundamental pasar, meningkatkan transparansi, serta memperbaiki komunikasi publik.

“Dalam krisis dua hari kemarin, seharusnya bisa selesai di hari pertama jika ada respons dan komunikasi yang cepat. Ini menjadi pelajaran penting,” ujarnya.

David juga mengapresiasi keputusan Iman Rachman mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral. Meski demikian, ia menilai krisis ini belum sepenuhnya selesai karena MSCI masih memberlakukan status freeze terhadap Indonesia hingga setidaknya Mei 2026.

“Kita berharap dengan komunikasi aktif dari pemerintah dan rampungnya peraturan baru, status freeze ini bisa dicabut lebih cepat, bahkan sebelum Mei,” tambahnya.

Ia menegaskan, secara fundamental pasar modal Indonesia masih sangat potensial. Tantangan utamanya bukan pada prospek ekonomi, melainkan pada tata kelola, transparansi, dan cara membangun kembali kepercayaan investor.

Dwi Iswanto/Ter

Elshinta Peduli

Similar News