Prasasti proyeksikan ekonomi RI tumbuh capai 5,3 persen di 2026

Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan mencapai kisaran 5,0-5,3 persen pada 2026.

Update: 2026-01-30 09:20 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta Peduli

Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan mencapai kisaran 5,0-5,3 persen pada 2026.

Research Director Prasasti Gundy Cahyadi dalam Prasasti Economic Forum 2026 "Navigating Indonesia's Next Chapter" di Jakarta, Kamis, mengatakan proyeksi itu ditopang oleh sejumlah faktor utama.

Faktor utama itu, pertama, konsumsi domestik yang diperkirakan menunjukkan perbaikan seiring stabilisasi kepercayaan konsumen, meskipun ruang akselerasinya masih terbatas.

Kedua, kualitas dan efektivitas eksekusi fiskal akan menjadi faktor kunci, terutama di tengah ruang penerimaan negara yang relatif sempit, serta ketiga, dinamika nilai tukar rupiah perlu dicermati secara hati-hati.

“Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, namun pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” ujar Gundy.

Prasasti menekankan pentingnya penguatan investasi sebagai mesin pertumbuhan jangka menengah dan panjang, disertai percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi nasional.

Dalam kesempatan ini, Board of Advisors Prasasti Burhanuddin Abdullah menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak semata bersifat siklis, melainkan struktural.

Elshinta Peduli

Ia mengapresiasi fakta bahwa selama lebih dari satu dekade, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen secara konsisten.

Namun demikian, menurutnya, capaian itu sekaligus mencerminkan keterbatasan kemampuan ekonomi nasional untuk berakselerasi ke tingkat yang lebih tinggi.

“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas. Tantangan kita bukan kurangnya pertumbuhan, melainkan bagaimana keluar dari pola yang membuat pertumbuhan sulit dipercepat,” ujar Burhanuddin.

Sebagai upaya keluar dari inersia tersebut, menurutnya, dibutuhkan keberanian kebijakan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor.

"Kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan menjadi fondasi penting dalam mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif," ujar Burhanuddin.

Sementara itu, Executive Director Prasasti Nila Marita menegaskan peran Prasasti sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan perspektif pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung perumusan kebijakan publik yang inklusif dan berorientasi ke depan.

“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama: rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi. Melalui forum ini, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai tantangan dan peluang ekonomi Indonesia, serta mendorong pertukaran gagasan yang tidak hanya konstruktif, tetapi juga aplikatif,” ujar Nila.

Prasasti menyelenggarakan Prasasti Economic Forum 2026 sebagai ruang dialog strategis untuk membahas arah perekonomian Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Forum ini menjadi momentum penting untuk memperdalam diskusi mengenai tantangan struktural ekonomi nasional, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Prasasti menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendukung proses perumusan kebijakan ekonomi yang berbasis data dan berorientasi solusi.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News