Konflik AS-Iran, Densus 88 tingkatkan pengawasan ancaman terorisme
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme menyusul terjadinya konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme menyusul terjadinya konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa peningkatan itu merupakan tindak lanjut arahan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo terkait dinamika situasi global saat ini.
“Sebagaimana arahan Kapolri, terhadap adanya penilaian bahwa situasi global sedang memanas saat ini yang mana selain melibatkan banyak negara, juga melibatkan banyak kelompok dan kepentingan. Oleh karena itu, Densus 88 turut meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu keamanan masyarakat,” tuturnya.
Dalam rapat koordinasi (rakor) terkait kesiapan Operasi Ketupat 2026 pada Senin (2/3), Kapolri meminta Densus 88 untuk mempertahankan keberhasilan zero terrorist attack yang dicapai selama tiga tahun terakhir, pada masa Lebaran 2026.
Ia mengatakan bahwa Polri telah melakukan berbagai upaya, salah satunya preventive strike dengan mengamankan 51 tersangka pada tahun 2025.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa masih ada 13.252 target yang dalam pantauan. Terlebih, saat ini terjadi konflik AS-Iran yang berpotensi membangkitkan geliat pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
“Apalagi Iran telah mengibarkan bendera merah sebagai simbol pembalasan dan pertanda serangan yang terjadi di Iran, dan ini tentunya menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi rekan-rekan, khususnya Densus 88, untuk bisa mempertahankan zero terrorist attack,” ucapnya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, Polri mengamankan tujuh orang target pada masa mudik.
Maka dari itu, ia meminta Densus 88 untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mencegah ancaman terorisme pada masa mudik kali ini.
“Tolong ini betul-betul kerja sama yang baik dengan seluruh jajaran intelijen, kemudian koordinasi dengan rekan-rekan dari TNI, pemerintah daerah, bagaimana kita memantau pendataan ulang terkait dengan kelompok-kelompok teroris dan aktif teror yang saat ini sedang kita ikuti,” katanya.

