Dugaan pelecehan di kampus UBL, Rektor tegaskan Zero Tolerance
Rektor Universitas Budi Luhur tegaskan tak ada toleransi pelecehan, dosen dinonaktifkan.
Elshinta/ Irza Farel
Universitas Budi Luhur secara konsisten terus berkomitmen penuh dalam menciptakan
lingkungan kampus yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi dengan menerapkan prinsip zero tolerance.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan langsung oleh Rektor Agus Setyo Budi dalam konferensi pers yang digelar di kampus Budi Luhur University, Jakarta Selatan.
"Atas nama Rektor Universitas Budi Luhur, kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada korban atas situasi dan kondisi yang terjadi. Terima kasih sedalam-dalamnya kepada
seluruh pihak yang sudah memberikan dukungan moril untuk bersama kami berada di sisi korban" Kata agus.
Budi Luhur menegaskan kembali bahwa pihaknha merespons serius dan menindaklanjuti
segala laporan terkait dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Berdasarkan hasil investigasi dan pemeriksaaan Tim Satgas PPKPT, maka Universitas
Budi Luhur telah mengambil langkah tegas, cepat dan terstruktur dengan
menonaktifkan melalui penerbitan SK Rektor Nomor: K/UBL/REK/000/006/02/26
tentang Pembebasan Tugas Bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi Dosen pada Semester
Genap Tahun Akademik 2025/2026 sejak tanggal 27 Februari 2026.
“Penonaktifan ini bertujuan agar proses investigasi berjalan objektif dan optimal. Selama masa tersebut, yang bersangkutan tidak menjalankan tugas akademik sama sekali,” tegas Agus.
Universitas Budi Luhur menjadikan hal ini sebagai pembelajaran yang sangat berharga dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan yang lebih baik, dalam memberikan ruang aman dan nyaman bagi civitas akademika di lingkungan kampus Budi Luhur.
Budi Luhur University juga siap memberikan rekomendasi kepada pelapor serta menawarkan pendampingan psikologis guna membantu pemulihan trauma.
(Irza Farel)


