Eks Dirut PIS sebut sewa kapal saat ini 9 kali lebih mahal, ungkap fakta di sidang korupsi
Sidang perkara dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang mengungkap fakta baru terkait biaya sewa kapal tanker.
Sumber foto: Supriyarto Rudatin/elshinta.com.
Sidang perkara dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang mengungkap fakta baru terkait biaya sewa kapal tanker. Mantan Direktur Utama PT Pertamina International Shipping (PIS), Yoki Firnandi, menyebut harga sewa kapal saat ini melonjak hingga sembilan kali lipat dibandingkan periode saat kontrak dengan PT Jenggala Maritim Nusantara (JMN) berlangsung.
Hal itu disampaikan Yoki saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam persidangan terdakwa mantan Direktur Niaga PIS Arief Sukmara dan Business Development Manager PT Mahameru Kencana Abadi, Indra Putra.
Dalam persidangan, penasihat hukum Arief Sukmara, Adry Julian, memperlihatkan data penyewaan kapal dari Clarkson yang menjadi acuan industri pelayaran global. Menanggapi hal tersebut, Yoki menjelaskan kapal tanker jenis Suezmax yang dilengkapi scrubber saat ini disewakan dengan harga mencapai 339 ribu dolar Amerika Serikat per hari.
Menurut Yoki, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tarif sewa kapal milik JMN, yakni sekitar 37 ribu dolar Amerika Serikat per hari pada saat kontrak berlangsung.
“Itu artinya kapal sejenis yang dulu disewa, sekarang harganya sudah jauh lebih mahal. Kondisi ini tentu berdampak pada beban biaya operasional,” ujar Yoki di hadapan majelis hakim.
Yoki menegaskan, pada saat kontrak dilakukan, nilai sewa tersebut masih dalam kategori wajar dan sesuai dengan kondisi pasar. Ia juga menyebut, hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak menemukan adanya indikasi kerugian negara dari transaksi tersebut.
“Berdasarkan audit, tidak ada temuan yang menyatakan harga sewa itu tidak wajar atau merugikan negara,” katanya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Supriyarto Rudatin, Rabu (1/4).
Lebih lanjut, Yoki menjelaskan tidak digunakannya kapal JMN saat ini, seiring dinamika kasus hukum yang berjalan, berpotensi meningkatkan biaya yang harus ditanggung oleh Pertamina. Kebutuhan pengangkutan minyak mentah tetap harus dipenuhi melalui pasar global dengan tarif yang jauh lebih tinggi.
Ia juga menyoroti tingginya permintaan kapal jenis Suezmax, seiring meningkatnya impor minyak mentah Indonesia dari kawasan Afrika dan Timur Tengah. Kapal berkapasitas besar tersebut dinilai paling efisien untuk pengangkutan jarak jauh.
Menurut Yoki, keputusan penyewaan kapal pada saat itu merupakan bagian dari strategi bisnis yang mempertimbangkan efisiensi biaya, keberlanjutan operasional, serta ketahanan pasokan energi nasional.
“Keputusan tersebut diambil untuk memastikan kelancaran distribusi dan menjaga pasokan energi tetap aman,” katanya.


