Apa itu La Nina & alasan mengapa hujan terus mengguyur

La Nina adalah kondisi iklim yang membuat hujan terus mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia karena suhu laut Pasifik yang lebih dingin memicu konveksi.

Update: 2026-02-25 13:30 GMT

Menurut prakiraan BMKG, La Nina lemah diperkirakan masih bertahan hingga awal kuartal pertama tahun 2026. (Sumber: Vecteezy)

Indomie

Fenomena La Nina merupakan salah satu fenomena iklim yang memengaruhi pola cuaca di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini sering dikaitkan dengan meningkatnya curah hujan berkepanjangan, terutama saat La Nina masih aktif. Tapi sebenarnya, apa itu La Nina? Dan apa alasan mengapa hujan terus mengguyur beberapa waktu belakangan? Berikut ulasannya.

Apa itu La Nina?

La Nina adalah fase dari siklus iklim El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai oleh suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik khatulistiwa yang lebih rendah dari kondisi rata-rata.

Saat La Nina terjadi, angin pasat di Pasifik cenderung lebih kuat, mendorong air permukaan yang lebih dingin naik ke permukaan laut (upwelling) di wilayah ekuator timur.

Perubahan suhu ini kemudian memengaruhi pola tekanan udara dan aliran angin di atmosfer, yang pada gilirannya memicu perubahan besar dalam distribusi hujan dan cuaca global.

Menurut analisis iklim musiman terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), La Nina lemah masih terdeteksi di Pasifik khatulistiwa dan memengaruhi pola curah hujan hingga musim Maret–April–Mei 2026, meskipun sedang melemah dan cenderung menuju kondisi ENSO-netral dalam beberapa bulan ke depan.

Bagaimana La Nina memengaruhi hujan

1. Perubahan suhu laut memicu konveksi

Salah satu karakteristik La Nina adalah suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur yang di bawah rata-rata, sedangkan bagian barat cenderung relatif lebih hangat.

Perbedaan inilah yang meningkatkan gradien suhu timur-barat, menstimulasi konveksi tropis, sebuah proses di mana udara hangat naik dan membentuk awan hujan.

Elshinta Peduli

Akibatnya, wilayah tropis di Samudra Pasifik dan Asia Selatan, termasuk Indonesia, cenderung mengalami peningkatan peluang hujan lebat.

2. La Nina dan pola angin global

Selain suhu laut, La Nina memperkuat angin pasat timur di ekuator. Angin ini membawa kelembapan lebih banyak ke wilayah barat Pasifik dan Indonesia.

Kelembapan yang melimpah ini menjadi bahan bakar bagi pembentukan awan hujan dan sistem cuaca yang intens, sehingga meningkatkan frekuensi dan durasi hujan di berbagai wilayah.

Kombinasi fungsinya mirip seperti “motor cuaca besar” yang terus memasok energi dan uap air ke atmosfer, sehingga hujan dapat terjadi lebih sering atau dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding kondisi ENSO normal.

Faktor lain yang memperkuat hujan

Selain La Nina, ada beberapa faktor klimatologi dan atmosfer lain yang turut memperkuat peluang hujan, terutama di Indonesia:

  • Monsun Asia yang menguat membawa aliran angin baratan yang lembap ke wilayah Indonesia, mendukung pertumbuhan awan konvektif (cumulonimbus).
  • Gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) membantu mempercepat pembentukan awan hujan ketika berada pada fase konvektif.
  • Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase netral atau negatif masih dapat berkorelasi dengan pola hujan basah di kawasan Indonesia.

Gabungan dari fenomena-fenomena ini menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung hujan intens di berbagai wilayah Indonesia sepanjang akhir musim hujan hingga awal musim kemarau.

Sampai kapan hujan dipicu La Nina?

Menurut prakiraan BMKG, La Nina lemah diperkirakan masih bertahan hingga awal kuartal pertama tahun 2026, sebelum akhirnya berangsur menuju kondisi ENSO-netral pada periode akhir Maret hingga Mei 2026.

Meski demikian, potensi hujan lebat tetap ada hingga memasuki transisi musim kemarau pada April 2026, dengan fenomena regional seperti Monsun Asia dan gelombang atmosfer masih dapat memberikan peluang terjadinya hujan.

Mudahnya, hujan yang terus mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia dalam beberapa bulan ini bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, tetapi merupakan efek gabungan dari La Nina yang masih aktif, dinamika atmosfer regional, dan arus angin muson yang membawa kelembapan tinggi.

La Nina adalah fenomena iklim global yang ditandai oleh suhu laut Pasifik yang lebih dingin dan perubahan pola tekanan serta angin.

Kondisi ini dapat meningkatkan curah hujan di wilayah tropis, termasuk Indonesia, melalui mekanisme konveksi dan penguatan angin basah.

Keberlangsungan La Nina lemah pada awal 2026 bersama dengan faktor regional seperti Monsun dan MJO menjadi alasan utama mengapa hujan terus mengguyur berbagai wilayah di Indonesia meskipun musim kemarau mendekat.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News