Fapet UGM dorong inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas
Sampah plastik sampai saat ini masih menjadi persoalan yang cukup serius karena sulit terurai. Maka sangat penting pengelolaan sampah melalui konsep recycling, downcycling, dan upcycling. Bagaimana sampah plastik diolah agar bisa meningkatkan nilai dan kualitas produk hasil olahan sampah plastik.
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.
Sampah plastik sampai saat ini masih menjadi persoalan yang cukup serius karena sulit terurai. Maka sangat penting pengelolaan sampah melalui konsep recycling, downcycling, dan upcycling. Bagaimana sampah plastik diolah agar bisa meningkatkan nilai dan kualitas produk hasil olahan sampah plastik.
Ilham Zulfa Pradipta, S.T., M.Eng dari Jogja Life Cycle menjelaskan bahwa plastik melalui proses panjang sejak ekstraksi bahan baku, polimerisasi, hingga digunakan dan didistribusikan ke masyarakat. Berbagai jenis plastik seperti PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, dan PS banyak digunakan sehari-hari dan berkontribusi terhadap timbulan sampah. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kelima di dunia.
“Sampah plastik menjadi persoalan serius karena sulit terurai, dapat berubah menjadi mikroplastik, serta mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan,” ujar Ilham pada Workshop Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 Batch ke-3 bertema Community-Driven Waste Management and Circular Economy in Yogyakarta, yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Rabu (7/1).
Solusinya, Ilham menekankan pentingnya pengelolaan sampah melalui konsep recycling, downcycling, dan upcycling. Ia menyoroti upcycling sebagai pendekatan yang mampu meningkatkan nilai dan kualitas produk hasil olahan sampah plastik. Pendekatan ini telah diterapkan oleh Jogja Life Cycle yang dirintis sejak 2021 di Lab RINDU (Rumah Inovasi Daur Ulang) PIAT UGM dan kini bekerja sama dengan 13 bank sampah di Kelurahan Giwangan, dua pengepul sampah, dua sekolah dasar, serta sejumlah komunitas. Jogja Life Cycle juga mengembangkan usaha pencacahan plastik sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.
Sementara itu, pembicara kedua, Maria Ratih dari Dadio Home, mengangkat topik pengolahan limbah minyak jelantah. Ia menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari lingkungan dan saluran air. Melalui Dadio Home, minyak jelantah diolah kembali menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis rumah tangga dan komunitas.
“Limbah minyak jelantah sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat dan berkelanjutan,” ujar Maria Ratih seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Kamis (8/1).
Koordinator Proyek CircuLife-SLI 2025, Rima Amalia Eka Widya, S.S., M.A., berharap nantinya Fapet UGM dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan lingkungan dan ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Kegiatan workshop ini menjadi upaya konkret mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas dan penerapan ekonomi sirkular di Yogyakarta. Workshop menghadirkan praktisi pengelolaan sampah yang berbagi pengalaman dan praktik baik, mulai dari pengolahan sampah plastik hingga pemanfaatan limbah minyak jelantah.


