Kemenhut gelar kick off “Operasi Merah Putih: Selamatkan Badak Jawa"

Update: 2025-08-29 11:10 GMT

Sumber foto: M Irza Farel/elshinta.com.

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) resmi melaksanakan Kick Off Meeting Operasi Merah Putih – Translokasi Badak Jawa. Acara ini dihadiri oleh Menteri Kehutanan RI, jajaran Direktorat Jenderal KSDAE, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Yayasan Badak Indonesia (YABI), serta mitra konservasi nasional dan internasional.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan salah satu satwa paling langka di dunia dengan status Critically Endangered (IUCN Red List). Saat ini, populasi badak jawa hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon, dengan jumlah yang sangat terbatas. Berdasarkan kajian ilmiah terbaru, populasi ini menghadapi ancaman kepunahan dalam waktu kurang dari 50 tahun akibat rendahnya keragaman genetik, perkawinan sedarah (inbreeding), serta keterbatasan habitat. Untuk itu, translokasi badak jawa merupakan langkah strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, menyelamatkan plasma nutfah, memperbesar peluang reproduksi, dan memperluas sebaran populasi guna menjamin keberlanjutan spesies.

Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni dalam sambutannya menegaskan bahwa translokasi ini menjadi simbol persatuan bangsa. “Operasi Merah Putih adalah bukti bahwa konservasi bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh bangsa. Translokasi badak jawa bukan sekadar memindahkan satwa, tetapi menjaga martabat bangsa sekaligus kontribusi Indonesia bagi konservasi global,” ujar Menteri Kehutanan.

Dirjen KSDAE dalam laporannya menyampaikan bahwa tahapan pra-penangkapan dan persiapan telah mencapai lebih dari 95%. Target translokasi tahap pertama adalah satu individu badak jawa yang telah teridentifikasi, dengan rencana pelaksanaan dimulai pada bulam September 2025.

“Kami memastikan bahwa translokasi ini dilakukan sesuai standar operasinal prosedur yang ditambah dengan analisa risiko dan ethic satwa yang diadopsi dari bernagai literatur dan pedoman IUCN. Keselamatan satwa, kesejahteraan hewan, dan keamanan personel menjadi prioritas utama,” ujar Dirjen KSDAE seperti dilaporkan Reporter Elshinta, M Irza Farel, Jumat (29/8). 

Tahapan translokasi akan meliputi penangkapan dengan pit-trap, transportasi darat dan laut yang melibatkan armada khusus, hingga pelepasan di kandang karantina pada area JRSCA. Seluruh proses akan dipantau secara ketat melalui camera trap untuk memastikan kesehatan dan adaptasi satwa.

Similar News