Mama-mama Kampung Enggros jaga hutan bakau

Hutan bakau yang tersebar di pinggir pantai Kampung Enggros atau sering juga disebut Injros, Kota Jayapura, punya arti sangat penting bagi perempuan di daerah itu.

Update: 2026-03-31 14:30 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Indomie

Mama-mama Kampung Enggros jaga hutan bakau

Hutan bakau yang tersebar di pinggir pantai Kampung Enggros atau sering juga disebut Injros, Kota Jayapura, punya arti sangat penting bagi perempuan di daerah itu.Hutan bakau yang tersebar di pinggir pantai Kampung Enggros atau sering juga disebut Injros, Kota Jayapura, punya arti sangat penting bagi perempuan di daerah itu.

Di hutan itulah mereka, ibu-ibu ramah tangga di sana yang biasa disebut dengan mama-mama, menghabiskan waktu setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah. Mereka mencari ikan atau berbagai jenis hasil laut lainnya seperti udang, kepiting dan aneka kerang di hutan bakau itu.

Itu sebabnya, hutan bakau merupakan harta tak ternilai bagi mereka.

Kampung Enggros yang terletak di Teluk Youtefa dihuni sekitar 371 kepala keluarga (KK). Daerah itu dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan hingga ke pinggir pantai.

Dari pinggir pantai, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor sekitar 10 menit menyusuri kawasan hutan bakau di pesisir pantai menuju kampung tersebut.

Kampung yang dihuni oleh 571 jiwa itu dapat ditelusuri dengan dengan berjalan kaki kecuali beberapa rumah yang terpisah yang hanya dapat dijangkau dengan menggunakan perahu bermotor maupun perahu dayung.

Tersebutlah nama Petronela Merauje, perempuan yang menjadi pemerhati lingkungan di sana. Dia sangat paham bahwa kawasan hutan bakau di sana begitu penting untuk terus dipertahankan dan dilestarikan oleh mama-mama di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Elshinta Peduli

Perempuan asli Enggros itu tidak henti-hentinya mengajak rekan-rekannya untuk ikut menjaga dan menanami setiap lahan yang ada di pinggir pantai dengan bakau. Tanaman itu selain dapat menjaga kampung dari abrasi juga memberi penghasilan bagi mama-mama yang mencari berbagai hasil laut di dalam kawasan hutan bakau.

Dia merupakan representasi perempuan di sana yang dengan lancar bisa bercerita tentang bagaimana hutan bakau harus dilestarikan. Di hutan bakau itulah mama-mama Enggros berinteraksi. Selain menjadi tempat untuk mencari berbagai hasil laut, hutan bakau juga sebagai tempat untuk bertemu dan bercengkerama serta bercerita tentang berbagai hal.

"Bahkan di tempat itulah terkadang kita bercerita hingga tertawa lebar tanpa takut ada yang mendengar selain kami," kata Petronela yang berusia 45 tahun.

Di Enggros, hutan bakau adalah daerah khusus perempuan. Kaum pria tidak diizinkan masuk apapun alasannya. Hanya perempuan yang diizinkan untuk masuk mencari hasil laut, dan tentu saja sambil ngobrol kiri kanan tanpa diganggu kaum Adam.

Itu juga yang menjadi motivasi khusus bagi mama-mama di sana untuk melestarikan kawasan hutan bakau itu. Mereka ingin agar hutan bakau itu terus ada hingga anak-cucu.

"Agar anak-anak perempuan kami nantinya masih bisa melanjutkan tradisi mencari hasil laut di dalam hutan bakau," kata Petronela.

Menanam bibit

Keinginan mama-mama Enggros melestarikan hutan bakau mereka juga makin kuat ketika mereka mengetahui bagaimana keberadaan hutan bakau makin menyusut di beberapa wilayah di Papua.

Kenyataan itu makin membuat perempuan di Enggros bersemangat mempertahankan hutan bakau mereka, termasuk dengan menanam anakan bakau di lahan-lahan yang ada di pesisir pantai Enggros yang masih ditanami.

Bibit pohon bakau itu didapat dengan mengumpulkan biji dari pohon bakau dengan mandiri. bibit itu disemai di dalam polibag dan bila sudah keluar beberapa lembar daun akan ditanam sehingga pesisir pantai Enggros tetap dikelilingi tanaman tersebut.

Untuk mencari bibit bakau di sana tidak sulit, cukup mencari bijinya yang jatuh di sekitar pohon bakau kemudian disortir dan yang masih bagus dimasukkan ke dalam polibag bersama tanah.

Bila sudah mengeluarkan tunas, bibit tersebut akan ditanam di lahan yang ada di pinggir pantai. Dengan begitu, mereka terus menjaga keberadaan hutan bakaunya, yang selain berfungsi untuk menahan abrasi juga menjadi tempat bagi berbagai komoditi laut untuk hidup dan berkembang biak.

Selain bersama mama-mama, Petronela juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk semakin menghijaukan kawasan mangrove yang ada di Kampung Enggros.

Dengan terjaganya hutan bakau maka kebiasaan perempuan Enggros untuk mencari hasil laut di dalam hutan tersebut dapat terus dilakukan.

Keberadaan hutan bakau sangat penting bagi perempuan karena disana selain sebagai tempat untuk mencari berbagai jenis hasil laut juga sebagai ajang pertemuan dengan rekan-rekan sesama perempuan.

"Kami tidak saja mencari ikan dan hasil laut lainnya tetapi juga sebagai tempat bertemu dan saling bercerita karena biasanya saat masuk ke hutan bakau dilakukan bersama beberapa orang teman," kata Petronela, penerima Kalpataru 2023.

Untuk menjangkau kawasan hutan bakau dapat dilakukan dengan menggunakan perahu kecil tanpa mesin.

"Kita dapat mendayung menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu hingga ke pinggiran hutan dan turun kemudian berjalan kaki masuk ke dalam rimbunnya hutan bakau untuk mencari berbagai hasil laut," kata dia. Namun hal itu hanya dapat dilakukan saat air surut karena bila pasang tidak ada yang bisa dilakukan di sana, termasuk tidak bisa mencari kerang, kepiting dan udang.

Guru Besar bidang Ilmu Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Cenderawasih Prof Dr Fredrik Sokoy mengapresiasi apa yang dilakukan perempuan Enggros dengan terus berupaya melestarikan kawasan hutan bakau yang dalam bahasa setempat disebut ton weyat.

"Ton weyat berarti ajakan ke hutan bakau karena tonot dalam bahasa Enggros berarti hutan bakau dan weyat artinya ajakan di mana kawasan itu hanya bisa dimasuki perempuan.

Hutan bakau itu, kata Frederick Sokoy, menjadi sarana bagi perempuan untuk mewariskan nilai-nilai pendidikan kultural sekaligus melatih tanggung jawab terutama bagi perempuan yang menanjak dewasa dan akan berkeluarga.

Selain itu, hutan bakau juga menjadi tempat pembelajaran sopan-santun, kerja sama, saling tolong-menolong yang diajarkan oleh perempuan tertentu yang dianggap sebagai orangtua.

Karena itu apa yang dilakukan perempuan di Kampung Enggros dengan menanam kembali tanaman bakau di pinggiran kampungnya perlu diapresiasi dan didukung.

Mereka telah melestarikan keberadaan tanaman tersebut yang tidak saja sebagai penahan abrasi dan erosi tetapi juga menjadi benteng alami di kawasan pesisir. Upaya itu harus dilestarikan sehingga keberadaan hutan bakau tetap terjaga dan aktivitas perempuan di hutan tersebut juga tetap berlangsung hingga ke masa depan.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News