Menjaga Muria lewat buah mitologi Parijoto

Sejumlah pemuda komunitas Penggiat Konservasi (Peka) Muria yang dikomandoi Triyanto tampak cekatan memetik buah Parijoto yang sudah memerah keungguan. Buah mitologi khas Gunung Muria ini sering diburu warga yang sedang berwisata ziarah ke Makam Sunan Muria (Raden Umar Said) salah satu Wali Songo yang berada di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah. Sebab, buah ini dipercaya membawa berkah bagi wanita hamil yang memakannya, demikian juga bagi wanita yang berkeinginan mempunyai keturunan.

Update: 2026-02-26 07:10 GMT

Sumber foto: Sutini/elshinta.com.

Indomie

Sejumlah pemuda komunitas Penggiat Konservasi (Peka) Muria yang dikomandoi Triyanto tampak cekatan memetik buah Parijoto yang sudah memerah keungguan. Buah mitologi khas Gunung Muria ini sering diburu warga yang sedang berwisata ziarah ke Makam Sunan Muria (Raden Umar Said) salah satu Wali Songo yang berada di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah. Sebab, buah ini dipercaya membawa berkah bagi wanita hamil yang memakannya, demikian juga bagi wanita yang berkeinginan mempunyai keturunan.

Menurut, Triyanto, buah-buah hasil panen ini akan diolah menjadi sirup, permen, teh dan lainnya yang bisa menjadi oleh-oleh bagi wisatawan usai berziarah.

"Munculnya ide untuk budidaya, karena rasa khawatir saya dengan kondisi tanaman Parijoto asli Muria yang mulai punah, akibat dari perambahan oleh para pendaki. Akhirnya saya ajak warga untuk membudidayakan tanaman Parijoto yang nantinya diolah menjadi sirup.

Namun, upaya tersebut tidak bisa berjalan mulus karena bagi sebagian warga lereng Muria tanaman ini merupakan tanaman liar yang bisa dijual tanpa harus repot mengolahnya", kata Triyanto yang sekaligus pemilik usaha sirup Parijoto Alammu, Sabtu (21/2).

Tanaman Parijoto sebenarnya banyak juga ditemukan di daerah lain. Namun, untuk tanaman asli dari gunung Muria ini mempunyai perbedaan dibanding dengan tanaman Parijoto di daerah lain seperti dari kawasan Dieng Wonosobo, Gunung Lawu maupun Panglipuran Bali. Tanaman Parijoto Muria mempunyai batang pohon yang beruas-ruas dan tinggi dengan buah yang berwarna merah keungguan. "Rasa buah ini asem sepat. Tapi karena sudah dipercaya turun temurun dari jaman Sunan Muria makanya warga dari luar daerah juga tertarik dan membeli untuk oleh-oleh", jelasnya.

Elshinta Peduli

Triyanto yang mengaku banyak belajar tentang kandungan tanaman Parijoto menyebut tanaman bernama latin

Medinilla speciosa ini kaya akan senyawa antioksidan, terutama flavonoid (khususnya antosianin), saponin, tanin, dan senyawa fenolik. Kandungan bioaktif ini berkhasiat sebagai antibakteri, anti-inflamasi, antikanker, serta diyakini dapat meningkatkan kesuburan bagi perempuan yang sedang program hamil dan menjaga keseatan ibu hamil.

Triyanto bercerita kegiatan konservasi alam Muria melibatkan anak-anak muda yang berusia 20 tahunan. Hal ini bukan tanpa alasan sebab sebagai warga asli lereng Gunung Muria, ia ingin mendoktrin anak muda untuk peduli pada lingkungan dengan action dilapangan. "Kami bersama beberapa warga yang peduli lingkungan membuat komunitas Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Saat ini sudah ada 20 anggota yang rata-rata anak muda. Dengan Slogan "Hutan adalah amanah menjaganya adalah ibadah". Membuat tekad kami membuat alam memberi manfaat bagi masyarakat", tuturnya

"Kami sangat bersyukur dibantu oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation dalam penyediaan bibit seperti Ficus sebab tanaman ini yang cocok. Kami menanam Ficus secara masif sudah ada ribuan, sebagai upaya konservasi, karena kemampuannya menahan air lebih lama dan melindungi lereng dari longsor, yang krusial untuk menjaga debit air di Pegunungan Muria. Untuk penanaman berfokus pada titik kritis di kawasan Rejenu, Colo, hingga Rahtawu yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 2015 lalu", Triyanto menambahkan.

Upaya pelestarian lereng gunung Muria dengan tanaman mitologi Parijoto telah membuat ekonomi warga sekitar terangkat. Menurutnya, saat ini sudah ada 16 petani di Desa Colo, 6 Petani di Desa Japan kecamatan Dawe dan petani 2 dari Desa Rahtawu kecamatan Gebog yang ikut budidaya tanaman Parijoto. Luasannya telah mencapai 4 hektar.

"Kami bisa panen setiap hari dan itu menjadi berkah, bisa menambah penghasilan. Apalagi tanaman ini tidak terlalu sulit untuk dibudidayakan', ungkap Triyanto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Kamis (26/2). 

Terkait pemasaran dari olahan buah Parijoto, ia mengaku lebih mudah jika dibandingkan buah segar. Dengan adanya media sosial dan marketplace memudahkan untuk mencari pembeli. "Kami menerima pesanan dari berbagai daerah sehingga terus bisa berproduksi. Kami juga mengemas produk sedemikian menarik makanya kami tetap bisa berproduksi dan membantu para petani yang tergabung dalam paguyuban petani Parijoto", imbuhnya.

Inovasi yang dilakukan telah membawa meraih beberapa penghargaan seperti Juara 1 Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Tingkat Kabupaten Kudus pada tahun 2018.

Finalis 100 Terbaik dalam Ajang "The Big Start Indonesia" yang diselenggarakan oleh Blibli.com pada tahun 2018.Serta deretan penghargaan lainnya. 

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News