Jalan Nasional Muba–Mura mulai diperbaiki, PJN I tambal 30 titik rusak parah

Kerusakan jalan nasional di wilayah Batas Kabupaten Musi Banyuasin–Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang sempat ramai di medsos dan menuai protes masyarakat, kini mulai ditangani.

Update: 2026-02-03 10:40 GMT

Sumber foto: Adi Asmara/elshinta.com.

Elshinta Peduli

Kerusakan jalan nasional di wilayah Batas Kabupaten Musi Banyuasin–Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang sempat ramai di medsos dan menuai protes masyarakat, kini mulai ditangani. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumsel melalui Satuan Kerja PJN I memastikan perbaikan telah berjalan secara bertahap sejak pertengahan Januari 2026.

Perbaikan dilakukan oleh penyedia jasa PJN I Sumatera Selatan sejak 13 Januari 2026, dimulai di Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, salah satu titik dengan tingkat kerusakan paling parah. Di lokasi tersebut, badan jalan mengalami kerusakan berat dan kerap tergenang air sehingga mengganggu arus lalu lintas.

Kasatker PJN I Sumatera Selatan Alfredo Lukman, melalui PPK 1.4 A Fathur Rahman, mengatakan bahwa hingga awal Februari 2026, pihaknya telah melakukan perbaikan fungsional di sekitar 30 titik kerusakan.

“Penanganan saat ini bersifat fungsional, yakni menutup lubang-lubang dalam agar jalan tetap bisa dilalui kendaraan dan tidak membahayakan pengguna jalan,” kata Fathur, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, pekerjaan perbaikan dilakukan bersamaan dengan persiapan nonfisik, seperti mobilisasi alat berat, mendatangkan material, penempatan personel, serta survei kondisi lapangan secara menyeluruh. Penyisiran dilakukan di sepanjang ruas Mangun Jaya hingga Muara Beliti, karena hampir seluruh desa di lintasan tersebut mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Musi Banyuasin, kerusakan parah ditemukan di Kecamatan Babat Toman, meliputi Desa Baruge dan Desa Sugiwaras, serta di Kecamatan Sanga Desa, tepatnya Desa Ngulak dan Desa Jud. Sementara di Kabupaten Musi Rawas, titik-titik rusak tersebar di Desa Prabumulih, Semete, Semangus, Bingin Jungur, Petunang, Rengas, hingga Simpang Muara Beliti.

“Prioritas kami adalah titik yang berpotensi menimbulkan kemacetan parah atau kondisi jalan yang hampir putus. Jika ditemukan kondisi darurat, alat langsung kami mobilisasi ke lokasi,” tegas Fathur seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Adi Asmara, Selasa (3/2). 

Elshinta Peduli

Namun demikian, proses perbaikan tidak berjalan tanpa hambatan. Musim hujan menjadi tantangan utama karena genangan air kerap menutup badan jalan dan memaksa pekerjaan dihentikan sementara.

“Jika hujan turun, pekerjaan tambal sulam harus kami hentikan. Yang bisa dilakukan hanya mengalirkan air agar genangan tidak semakin parah,” ujarnya.

Menurut Fathur, penanganan fungsional akan terus dilakukan hingga musim hujan berakhir, diperkirakan sampai setelah masa angkutan mudik Lebaran 2026. Selanjutnya, PJN I akan melanjutkan dengan penanganan permanen berupa rekonstruksi jalan.

Pada tahun 2026, PJN I menargetkan rekonstruksi jalan sepanjang 500 meter, dengan dua metode, yakni perkerasan aspal dan cor beton. Untuk cor beton, akan difokuskan sepanjang 200 meter di titik-titik krusial yang memiliki tingkat kerusakan tertinggi.

“Penanganan permanen membutuhkan waktu karena proses perkerasan tidak bisa dilakukan dalam kondisi basah. Titik pastinya masih dalam tahap survei,” kata Fathur.

PJN I Sumatera Selatan juga memastikan akan terus melakukan monitoring intensif, mengingat kondisi jalan yang sudah lama tidak tersentuh perbaikan berpotensi menimbulkan titik kerusakan baru.

“Tidak menutup kemungkinan muncul kerusakan tambahan. Karena itu, pemantauan akan terus kami lakukan agar kondisi jalan tetap fungsional,” pungkasnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News