Hari Pendidikan Nasional 2026 momentum siswa bangun pertemanan yang baik

Ketua Asosiasi Guru Penulis (AGP) PGRI Jakarta Yoyon Pujo Utomo menilai Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 pada tanggal 2 Mei merupakan momentum siswa membangun pertemanan yang baik. Kedekatan bisa tercipta dengan cepat, namun kesalahpahaman bisa muncul dalam sekejap.

Update: 2026-03-19 07:55 GMT

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Indomie

Ketua Asosiasi Guru Penulis (AGP) PGRI Jakarta Yoyon Pujo Utomo menilai Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 pada tanggal 2 Mei merupakan momentum siswa membangun pertemanan yang baik. Kedekatan bisa tercipta dengan cepat, namun kesalahpahaman bisa muncul dalam sekejap.

“Di tengah realitas itu, pesan tentang rukun sama teman menjadi semakin penting. Apakah rukun sama teman hanya sebagai slogan yang terdengar indah? Ataukah menjadi kebiasaan yang benar-benar hidup dalam keseharian siswa di sekolah?” kata Yoyon. Dalam siaran persnya.

Menurutnya, kemampuan saling menghargai, memahami perbedaan, dan hidup rukun adalah pelajaran hidup yang harus dipahami dan dipelajari di ruang kelas. Apalagi, kebijakan Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang melahirkan Gerakan Rukun Sama Teman.

“Ini bertujuan menumbuhkan budaya pergaulan yang lebih sehat di lingkungan sekolah, terutama pada generasi muda yang sedang membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap orang lain,” kata Yoyon.

Yoyon menilai rukun sama teman bukan sekadar tidak bertengkar atau saling diam ketika ada masalah. Lebih dari itu, kerukunan adalah kemampuan untuk saling menghormati, memahami perbedaan, dan membangun kebersamaan yang positif.

“Anak-anak perlu belajar tentang hal itu, dimana hidup bersama orang lain membutuhkan empati, kesabaran, dan kemampuan berkomunikasi dengan baik,” kata Yoyon yang juga Kepala SDN Semanan 03 Pagi Jakarta Barat.

Elshinta Peduli

Dalam pandangan Yoyon, sekolah sebagai tempat pertama di mana anak-anak belajar tentang keberagaman. Dalam satu kelas, mereka bertemu dengan berbagai karakter: ada yang aktif berbicara, ada yang lebih pendiam, ada yang cepat menangkap pelajaran, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.

“Perbedaan tersebut sering kali memunculkan kesalahpahaman diantara mereka, jika tidak disikapi dengan bijak,” ujarnya.

Ia menilai generasi digital punya banyak tantangan dalam menjaga kerukunan dan merambah ke ruang maya. Interaksi tidak hanya terjadi di kelas, tetapi juga melalui pesan singkat, grup percakapan, atau media sosial. Candaan yang dianggap sepele bisa saja hal itu melukai perasaan teman. Bahkan perundungan kini bisa terjadi tanpa tatap muka.

“Inilah alasan mengapa nilai rukun sama teman harus dipahami sebagai bentuk sebuah sikap yang berlaku di dunia nyata sekaligus di ruang digital,” ucapnya.

Gerakan Rukun Sama Teman yang digulirkan pemerintah tentunya mengajarkan bahwa persahabatan tidak harus dibangun dari kesamaan. Justru dari adanya perbedaan itulah anak-anak belajar saling melengkapi. Ada yang unggul dalam olahraga, ada yang berbakat dalam seni, ada pula yang piawai berbicara di depan kelas.

“Ketika setiap anak dihargai kelebihannya, suasana belajar akan terasa lebih hangat dan menyenangkan,” katanya.

Disamping itu, kerukunan juga berhubungan erat dengan rasa aman di sekolah. Anak yang merasa diterima oleh lingkungannya akan lebih percaya diri dalam belajar. Ia berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi ejekan atau sikap meremehkan dapat membuat anak merasa tertekan dan enggan berpartisipasi.

Oleh karenanya sekolah memiliki peran besar dalam menumbuhkan budaya rukun sama teman. Nilai tersebut perlu ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari. Guru dapat mengajak siswa bekerja sama dalam kelompok, membangun kebiasaan saling menyapa, serta membantu anak menyelesaikan konflik kecil dengan cara yang baik.

“Dari proses sederhana inilah anak-anak belajar bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan dialog dan saling pengertian. Makan disinilah peran guru sebagai guru wali dan guru bimbingan konsuling dibutuhkan,” katanya.

Di sisi lain, orang tua juga memiliki tanggung jawab yang sama. Apa yang diajarkan di sekolah akan lebih kuat jika diperkuat di rumah. Ketika anak menceritakan konflik dengan temannya, orang tua dapat membantu anak memahami perasaan orang lain dan mencari solusi yang lebih bijak.

Bagi generasi muda, kemampuan rukun dengan teman sebenarnya merupakan bekal penting untuk masa depan. Kehidupan dewasa kelak menuntut mereka bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki latar belakang berbeda. Mereka yang sejak kecil terbiasa menghargai orang lain dan mudah beradaptasi dalam lingkungan sosial yang beragam.

Adanya Gerakan Rukun Sama Teman, lanjutnya, diingatkan Kembali bahwa sekolah tidak hanya tempat menimba ilmu pengetahuan. Sekolah yang merupakan ruang untuk belajar menjadi manusia yang mampu hidup berdampingan dengan damai

Rukun dengan teman tidak cukup hanya menjadi slogan. Nilai ini perlu diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari. Melalui hal-hal sederhana seperti saling menyapa, menghargai perbedaan, dan mau memaafkan, anak-anak belajar arti hidup berdampingan dengan penuh kepedulian.

“Jika sikap ini tumbuh di lingkungan sekolah, maka ruang kelas tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat lahirnya generasi yang lebih peduli dan menghargai orang lain,” kata Yoyon mengakhiri.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News