Sebanyak 18.215 riset kampus raih pendanaan total Rp1,7 triliun
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto ditemui usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Persiden
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengumumkan penerima pendanaan riset dan pengembangan tahun 2026 dengan total anggaran sebesar Rp1,7 triliun untuk mendukung 18.215 kegiatan riset dan pengembangan di perguruan tinggi seluruh Indonesia.
"Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam keterangan di Jakarta, Jumat (10/4).
Menteri Brian menyampaikan bahwa kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci agar inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium dan ruang kelas, tetapi dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat maupun industri.
"Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing," ujarnya.
Diketahui, penerima pendanaan berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi yang tersebar di 38 provinsi. Dari total penerima, sebanyak 40 persen berasal dari perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi negeri berbadan hukum, dan 60 persen berasal dari perguruan tinggi swasta.
Sektor kesehatan mendapat pendanaan porsi terbesar dengan 27 persen, disusul ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, digitalisasi yang mencakup kecerdasan buatan dan semikonduktor 15 persen. Sementara energi mendapat 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen.
Secara rinci, pada Program Penelitian, sebanyak 13.028 proposal dinyatakan lolos dari total 83.284 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp1,04 triliun dengan fokus memperkuat kapasitas riset dosen, sekaligus mendorong riset dasar dan terapan yang relevan dengan kebutuhan nyata.
Sedangkan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menetapkan sebanyak 3.328 tim penerima dari total 15.728 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp167 miliar, dengan fokus pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), kelompok rentan, serta masyarakat adat, termasuk yang terintegrasi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Adapun pada Program Hilirisasi Riset Prioritas, sebanyak 925 proposal terseleksi mendapatkan pendanaan dari total 2.488 proposal di tahun 2026, dengan total pendanaan sebesar Rp318 miliar, dengan fokus pada percepatan pemanfaatan hasil riset melalui hilirisasi dan transfer teknologi, termasuk penguatan kemitraan dengan industri, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah melalui skema Ajakan Industri, Dorongan Teknologi, dan SINERGI.
Sementara pada Program Pengujian Model dan Prototipe, sebanyak 354 proposal dinyatakan lolos dari total 985 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp46 miliar, dengan fokus pengujian dan penyempurnaan hasil riset agar siap digunakan secara lebih luas.
Selanjutnya, Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) menetapkan 102 konsorsium sebagai penerima pendanaan yang terdiri atas 49 konsorsium multi-tahun lanjutan dan 53 konsorsium proposal ajuan baru dari total 565 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp62,4 miliar.
Untuk memperkuat kapasitas kelembagaan riset di perguruan tinggi melalui pengembangan pusat unggulan, sebanyak 17 Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT) ditetapkan sebagai penerima pendanaan dengan total anggaran sebesar Rp7,85 miliar.
Kemudian Program Mahasiswa Berdampak mencatat 608 usulan kegiatan, dengan 202 judul dinyatakan lolos dan didanai senilai Rp21,9 miliar. Melalui program ini, sebanyak 10.090 mahasiswa diterjunkan ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk mendukung percepatan pemulihan pascabencana melalui pemanfaatan ilmu, teknologi, dan inovasi.
Pada Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) terdapat 244 judul yang didanai dengan total pendanaan sebesar Rp17,5 miliar. Program ini merupakan upaya pembaruan dan pengembangan karya seni yang berakar pada tradisi budaya Indonesia.
Terakhir, Program PHC-Nusantara menetapkan sebanyak 15 judul riset kolaborasi tim riset Indonesia–Prancis dari total 72 proposal yang mengajukan, dengan total anggaran sebesar Rp2,2 miliar.
Informasi status pendanaan proposal dapat diakses melalui akun masing-masing pengusul pada sistem BIMA (bima.kemdiktisaintek.go.id) dan Hiliriset (hiliriset.kemdiktisaintek.go.id) sesuai program yang diusulkan.


