Forum Bahtsul Masail minta Rais Aam segera gelar Muktamar Ke-35 NU

Forum Bahtsul Masail para Kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Kempek Cirebon untuk membahas sejumlah permasalahan yang tengah hangat di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Update: 2026-01-22 16:50 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta Peduli

Forum Bahtsul Masail para Kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Kempek Cirebon untuk membahas sejumlah permasalahan yang tengah hangat di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Salah satu yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah soal percepatan muktamar untuk secepatnya memulihkan nama baik PBNU.

“Para kiai menyuarakan percepatan muktamar," kata Pengasuh Pesantren Kempek Kiai Muhammad Shofy Bin Mustofa Aqiel dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, alasan pelaksanaan muktamar harus dipercepat berlandaskan pada kaidah fikih "menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan".

"Adapun mafsadat (kerusakan) yang sedang berlangsung yang harus segera dihindari dengan percepatan muktamar," kata Shofy.

Shofy menilai saat ini muncul polarisasi atau keterbelahan sosial di tengah warga NU. Menurut dia, hal itu sangat terasa dan tampak di media sosial dan interaksi sosial mengalami kerenggangan yang mengarah pada ketegangan.

Ia menilai perlu ada pembenahan terhadap organisasi NU secara keseluruhan, perlu evaluasi dan pembenahan kepemimpinan struktural yang ada di PBNU.

"Harus dibersihkan dari unsur-unsur yang tidak sesuai dengan amanat muktamar. Intinya, PBNU sebagai sebuah organisasi perlu di-reset ulang, dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, integritas, moralitas, dan kapasitas keulamaan,” ujarnya.

Elshinta Peduli

Selain itu, kata Shofy, percepatan muktamar PBNU adalah ikhtiar untuk segera keluar dari prahara konflik.

Dia menekankan pentingnya segera keluar dari keruwetan konflik atau polemik agar tidak memunculkan persoalan baru yang lain yang dapat menambah konflik dan polemik berkepanjangan.

"Atau konflik yang berkepanjangan akan menimbulkan konflik-konflik baru bermunculan yang harus dihindari," ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, dalam Forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, para kiai mendukung kepada Rois Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk sesegera mungkin menggelar muktamar PBNU

“Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU. Yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum, termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk),” tuturnya.

Maksudnya, kata Shofy, adalah tidak menggunakan ilmu, jabatan dan organisasi untuk memperkaya diri. Pemimpin harus bisa menempatkan dirinya sebagai khadim (pelayan) organisasi; karismatik; memiliki basis dan pijakan lokal dan nasional.

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain KH. Muhammad Shofy, KH. Ahmad Ashif Shofiyullah, KH. Nanang Umar Faruq, KH. Ghufron, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH Jamaluddin Muhammad, KH. Ahmad Baiquni, KH. Mukti Ali, KH. Muchlis, KH. Asnawi Ridwan, KH. Roland Gunawan, Ustadz Ahmad Subhan, Ustadz Muhammad Sirojuddin, KH. Khozinatul Asror, dan puluhan kiai muda lainnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News