Ghompok angkat bahasa Palembang lama via fotografi dan visual storytelling

Update: 2026-01-23 13:29 GMT

Pengurus Ghompok, Ahmad Rizki Prabu, S.Sos., M.Ag., dalam program Beladas di Radio Elshinta Palembang yang dipandu oleh Ariek Kristo, Kamis, (22/1/2026)

Elshinta Peduli

Mungkin belum banyak yang mengetahui keberadaan Ghompok, sebuah komunitas fotografi yang secara konsisten menggunakan bahasa Palembang lama sebagai identitas. Mulai dari penamaan komunitas hingga program yang dijalankan, Ghompok menjadikan unsur lokal sebagai dasar dalam berkarya.

Digawangi anak muda lintas generasi, Ghompok mengembangkan fotografi dan visual storytelling sebagai medium bercerita melalui karya visual. Komunitas ini tidak hanya menitikberatkan pada hasil foto, tetapi juga pada narasi dan pesan yang dibangun dari setiap karya.

Kiprah Ghompok semakin terlihat setelah menjadi satu-satunya komunitas fotografi di Sumatera Selatan yang menerima Hibah LPDP Indonesian 2024. Hibah tersebut digunakan untuk memproduksi film dokumenter tentang budaya Tunggu Tubang di Semende, yang mengangkat nilai tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.

Selain itu, Ghompok juga pernah menggelar Musi Fotografis Festival sebagai ruang temu dan apresiasi bagi pegiat fotografi. Festival ini menjadi wadah pertukaran gagasan, pameran karya, serta upaya memperluas ekosistem fotografi di Sumatera Selatan.

Hal tersebut disampaikan pengurus Ghompok, Ahmad Rizki Prabu, S.Sos., M.Ag., dalam program Beladas di Radio Elshinta Palembang yang dipandu oleh Ariek Kristo, Kamis, (22/1/2026). Ia menjelaskan bahwa nama Ghompok diambil dari bahasa Palembang lama yang bermakna rumah.

“Ghompok itu artinya rumah. Kami ingin membangun ruang yang bisa menjadi tempat bertumbuh bersama bagi siapa saja yang tertarik pada fotografi dan cerita visual,” ujar Prabu.

Elshinta Peduli

Ghompok berdiri sejak November 2023. Pada awalnya, komunitas ini beranggotakan 16 orang dan kini berkembang menjadi sekitar 24 anggota, dengan sekitar 10 hingga 12 orang yang aktif terlibat dalam kegiatan rutin.

Salah satu program unggulan Ghompok adalah Garang, yang dalam bahasa Palembang lama berarti teras rumah. Program ini menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk mempelajari fotografi dan visual storytelling secara bertahap.

Dalam program Garang, peserta mendapatkan materi fotografi dasar, penyusunan foto cerita, hingga penulisan narasi visual. Proses pembelajaran berlangsung selama tiga bulan dan diakhiri dengan pameran karya sebagai bentuk pertanggungjawaban kreatif peserta.

Ghompok tidak membatasi peserta untuk menggunakan kamera profesional. Peserta diperbolehkan menggunakan telepon genggam, dan komunitas juga menyediakan fasilitas peminjaman kamera bagi peserta yang membutuhkan.

“Yang terpenting bukan alatnya, tetapi bagaimana seseorang dapat menyampaikan cerita melalui visual,” kata Prabu.

Selain Garang, Ghompok juga memiliki program Buri yang berfokus pada penguatan kapasitas internal anggota, serta Mendep, program residensi dengan jumlah peserta terbatas untuk pendalaman proses kreatif. Setiap program diakhiri dengan pameran sebagai ruang dialog antara karya dan publik.

Dalam kesempatan yang sama, pengurus Ghompok lainnya, Yuni Rahma S.Sos., yang juga berprofesi sebagai jurnalis, mengatakan bahwa keterlibatannya di Ghompok memberinya ruang untuk melihat realitas dari sudut pandang yang lebih luas melalui visual.

“Di Ghompok, kami belajar bagaimana apa yang kami lihat bisa disampaikan kepada orang lain melalui foto dan visual storytelling,” ujarnya.

Melalui berbagai program, pameran, dan Musi Fotografis Festival, Ghompok tidak hanya mendorong lahirnya karya visual, tetapi juga mengajak publik memahami isu sosial dan budaya melalui fotografi sebagai medium komunikasi.

Selvi Trisanti/Akun Pay/Ter

Elshinta Peduli

Similar News