Imlek 2026 di Solo usung kolaborasi budaya, beririsan dengan Ramadan
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Solo terasa istimewa karena bertepatan dengan sejumlah agenda besar, termasuk datangnya bulan Ramadan.
Sumber foto: Agung Santoso/elshinta.com.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Solo terasa istimewa karena bertepatan dengan sejumlah agenda besar, termasuk datangnya bulan Ramadan. Momentum ini mendorong Panitia Bersama Imlek 2026 mengusung semangat kolaborasi dan harmonisasi budaya di Kota Bengawan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kawasan Gladag hingga Pasar Gede akan dihiasi lampion warna-warni dan ornamen tematik shio. Namun kali ini, dekorasi tersebut akan dipadukan dengan nuansa Ramadan guna menegaskan kebhinekaan di Kota Solo.
Ketua Panitia Bersama Imlek 2026, Sumartono Hadinoto, mengatakan rangkaian acara tahun ini berbeda karena sebagian berlangsung saat umat Muslim mulai berpuasa.
“Imlek 2026 ini ada beberapa acara yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di pertengahan Imlek, pada 17 Februari mendatang saudara kita yang muslim sudah mulai puasa, jadi ada juga berbagi makanan ringan atau takjil saat buka puasa,” ujarnya di Kantor PMS, Sabtu (31/01/2026).
Ia menjelaskan, di sela lampion shio akan dipasang lampion bernuansa Idul Fitri dengan sentuhan Tionghoa, seperti ornamen Masjid Cheng Ho. Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya merawat toleransi di Kota Solo.
“Kami betul-betul terus merawat kebhinekaan di Kota Solo agar semakin ke depan semakin toleran,” tambahnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Agung Santoso, Sabtu (31/1).
Panitia juga menyiapkan beragam kegiatan, antara lain Imlek Fun Run pada 1 Februari, workshop dan turnamen mahjong pada 7–8 Februari, talk show motivasi serta aksi sosial donor darah pada 12 Februari, hingga Grebeg Sudiro pada 15 Februari. Rangkaian acara akan ditutup dengan Kirab Barongsai dan hiburan lainnya pada 3 Maret, bertepatan dengan perayaan Hari Jadi ke-281 Kota Solo.
Sumartono menambahkan, puncak perayaan tidak akan dimeriahkan dengan kembang api. Sebagai gantinya, akan digelar berbagai pertunjukan budaya seperti ketoprak sebagai simbol harmonisasi masyarakat.
“Kami putuskan tidak ada penyalaan kembang api. Tetapi puncak kegiatannya ada di Grebeg Sudiro dan sepertinya pemerintah kota juga akan menggelar ketoprak serta hiburan lainnya. Ini bentuk harmonisasi di Kota Solo,” katanya.
Sementara itu, Walikota Solo, Respati Ardi menilai Imlek tahun ini menjadi momentum spesial karena berbarengan dengan Ramadan. Ia meminta seluruh jajaran memperkuat koordinasi demi menjaga ketertiban dan keamanan selama rangkaian acara berlangsung.
“Saya mengajak semua unsur Forkopimda untuk memperkuat koordinasi, menjaga ketertiban umum, dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan agar suasana aman, nyaman, dan kondusif. Kita ingin Surakarta menjadi kota yang ramah bagi seluruh budaya, etnis, dan agama,” tegasnya.
Terkait Hari Jadi ke-281 Kota Solo, Respati berharap peringatan tersebut menjadi refleksi perjalanan kota sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam pembangunan Kota Solo.


