Merayu Tuhan dari masjid darurat

Sali mengambil tempat paling depan untuk memimpin pengajian. Suaranya tenang mengalun melalui pengeras suara dengan echo yang sengaja diperkuat, menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada lantunan imam di Masjidil Haram, Makkah.

By :  Widodo
Update: 2026-03-18 05:50 GMT

Sali, tokoh masyarakat sekaligus penyintas bencana banjir bandang beriktikaf di Masjid darurat Al-Muhsinin, Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh, Senin (16/3/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja. 

Indomie

Sali mengambil tempat paling depan untuk memimpin pengajian. Suaranya tenang mengalun melalui pengeras suara dengan echo yang sengaja diperkuat, menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada lantunan imam di Masjidil Haram, Makkah. Dari ruang sederhana itu, ia memandu jamaah memasuki malam dengan khusyuk.

Rutinitas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Sali, imam masjid, sekaligus tokoh masyarakat yang dituakan di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Malam itu, udara pegunungan terasa kian dingin, menyusup di sela dinding papan masjid darurat yang berdiri di tengah permukiman warga.

Dari dalam bangunan tersebut, lelaki berusia 62 tahun itu melantunkan ayat-ayat suci Al Quran sepanjang malam, selama Ramadhan. Suaranya berpadu dengan deru arus sungai, aliran yang tak pernah benar-benar lepas dari ingatan warga sejak banjir bandang melanda desa pada 26 November 2025.

Ingatan itu membawa Sali pada masa beberapa bulan sebelumnya, ketika ia masih berdiri di Masjid Al-Muhsinin yang kokoh dan luas. Masjid itu menjadi pusat kehidupan warga, tempat ibadah, sekaligus ruang pertemuan sosial. Hanya saja, dalam satu malam, bangunan tersebut hilang tersapu arus deras dari hulu pegunungan bersama puluhan rumah warga.

Peristiwa itu meninggalkan luka yang dalam, tetapi tidak memberi ruang bagi Sali untuk berlama-lama larut dalam kesedihan. Sehari, setelah bencana, ia bersama warga mulai kembali mengumandangkan azan dari bangunan seadanya. Dari bale sederhana, hingga akhirnya berdiri masjid darurat, ia memastikan ibadah tetap berjalan.

Perubahan ruang ibadah itu membawa suasana yang berbeda. Jika sebelumnya, Ramadhan berlangsung dalam kelapangan, kini jamaah berkumpul dalam ruang sempit dengan fasilitas terbatas. Keterbatasan tersebut justru menghadirkan ketenangan lain yang lebih sunyi dan bermakna dalam.

Elshinta Peduli

Bagi Sali, Ramadhan tahun ini menjadi momentum untuk meneguhkan keyakinan. Ia memaknai bulan suci bukan hanya sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat keimanan, terutama di tengah ujian yang belum lama mereka alami.

Keyakinan itu perlahan tumbuh di tengah warga. Malam demi malam, jamaah datang sejak selepas berbuka puasa. Mereka duduk bersila di atas tikar tipis, merapatkan sarung, dan menundukkan kepala dalam doa. Wajah-wajah yang lelah, setelah seharian berjuang memenuhi kebutuhan hidup, perlahan berubah menjadi tenang.

Memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, suasana masjid darurat semakin hidup. Sali memimpin rangkaian ibadah panjang, mulai dari shalat Isya, tarawih dan witir 23 rakaat, tilawah Al Quran, hingga tahajud menjelang sahur. Sebagian warga memilih tetap tinggal untuk beriktikaf, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam ruang yang sederhana.

Di tengah suasana itu, kenangan masa lalu kerap hadir dalam benak Sali. Ia teringat halaman masjid lama yang ramai oleh anak-anak, percakapan warga sebelum tarawih, serta ruang luas yang kini hanya tersisa dalam ingatan. Meskipun demikian, kenangan tersebut tidak melemahkannya. Justru dari situlah ia menemukan alasan untuk terus bertahan.

Bagi Sali, merayu Tuhan bukan sekadar memperbanyak doa. Itu adalah cara menerima cobaan dengan ikhlas, menjaga ibadah dalam kondisi apa pun, serta tetap berdiri memimpin ketika warga membutuhkan arah dan pegangan.

"Bencana ini cobaanlah pada kami. Itulah, makanya kami menerima cobaan dari Allah SWT, selalu Dia. Hanya Dia-lah saja semua hidup ini. Tidak ada yang berkurang keimanan masyarakat kami di sini," kata Sali.

Sebagai warga asli Tetingi, Sali telah lama hidup berdampingan dengan alam yang tak selalu ramah. Desa itu berdiri sekitar tahun 1920, bermula dari kawasan yang lebih tinggi, sebelum akhirnya berpindah mendekati sungai. Seiring waktu, permukiman berkembang mengikuti aliran sungai dan akses jalan yang mulai dibuka pada akhir 1980-an.

Kedekatan dengan sungai itulah yang kemudian membawa bencana. Aliran air dari tiga hulu pegunungan Leuser menghantam permukiman dengan kekuatan besar. Sebanyak 133 kepala keluarga atau 418 jiwa terdampak. Puluhan rumah hanyut, sementara lainnya rusak berat, termasuk rumah Sali.

Kini, ia tinggal di rumah sederhana yang dibangun kembali dari papan dan seng bekas sisa banjir, tidak jauh dari masjid darurat. Kondisi itu mencerminkan kehidupan sebagian besar warga yang masih berada dalam tahap pemulihan.

Sehari-hari, Sali menjalani hidup dengan keterbatasan. Ia mengandalkan sisa hasil pertanian kemiri serta bantuan beras dari para dermawan. Meski demikian, tanggung jawabnya sebagai imam tidak pernah berkurang.

Selain memimpin ibadah, ia juga mengajak warga untuk tetap menunaikan kewajiban zakat fitrah dan zakat mal. Ajakan itu tidak mudah di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih, terlebih banyak warga kehilangan mata pencaharian akibat kebun dan sawah yang rusak.

Secara perlahan, kesadaran itu tumbuh. Warga tetap menyisihkan sebagian rezeki, baik dari hasil yang tersisa maupun dari bantuan yang diterima. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi memiliki arti penting bagi kebersamaan mereka.

Zakat tersebut kemudian disalurkan kepada warga yang paling membutuhkan, termasuk anak yatim dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Dalam situasi sulit, praktik itu menjadi bentuk nyata solidaritas sosial yang terus dijaga.

Di sisi lain, bayang-bayang bencana belum sepenuhnya hilang. Setiap kali hujan turun deras pada malam hari, sebagian warga terjaga lebih lama. Suara sungai yang meninggi menjadi pengingat akan peristiwa yang pernah terjadi.

Meski demikian, Sali tetap berdiri di masjid darurat yang berada di depan rumahnya. Ia memimpin doa dengan suara yang sama tenangnya, seolah menenangkan kecemasan yang masih tersisa di hati warga.

Masjid darurat itu kini tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia telah menjelma menjadi pusat kehidupan baru, tempat warga berkumpul, berbagi, dan saling menguatkan. Di sanalah Sali menjaga ritme kehidupan spiritual desa agar tetap berjalan.

Menjelang Idul Fitri, tidak ada kemeriahan berlebih di Tetingi. Persiapan dilakukan secukupnya, menyesuaikan dengan kondisi yang ada, namun bagi Sali, makna kemenangan tidak terletak pada perayaan, melainkan pada kemampuan untuk tetap bertahan dan menjaga iman.

Malam kembali larut. Lantunan Al Quran masih terdengar dari dalam masjid darurat, mengalun di antara dingin pegunungan. Di tengah ingatan akan bencana dan harapan akan masa depan, Sali terus memimpin doa, mengajak warga untuk tidak berhenti berharap.

Dari ruang sederhana itu, Tetingi bertahan. Mereka merayu Tuhan dengan cara paling sunyi, melalui keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan yang tidak runtuh, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka sempat hancur.

Elshinta Peduli

Similar News