Program bioskup keliling, tanamkan pelajar `nguri uri` budaya Jawi

Diskusi budaya bertema “Nguri-uri Kebudayaan Jawi” digelar di salah satu rumah makan bernuansa Jawa di Kecamatan Ngemplak,Kabupaten Boyolali Jawatengah, Kamis (2/4/2026).

Update: 2026-04-03 13:30 GMT

Sumber foto: Sarwoto/elshinta.com.

Indomie

Diskusi budaya bertema “Nguri-uri Kebudayaan Jawi” digelar di salah satu rumah makan bernuansa Jawa di Kecamatan Ngemplak,Kabupaten Boyolali Jawatengah, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini menyasar generasi muda sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.

Acara yang diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Jawa Tengah ini tidak hanya menghadirkan diskusi, tetapi juga pemutaran film melalui program bioskop keliling yang mengangkat nilai-nilai kebudayaan Jawa.

Pamong Budaya Ahli Muda, Wahyu Kristanto, mengatakan, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan yang lebih menarik agar mudah diterima generasi muda, khususnya pelajar.

“Kalau tidak kita tularkan dan ajarkan kepada generasi sekarang, lama-lama budaya kita bisa hilang. Maka kegiatan ini kami kemas dengan pergelaran singkat, diskusi, dan pemutaran film budaya agar lebih dekat dengan anak-anak,” Kata Wahyu Kristanto,seperti di laporkan Kontributor Elshinta Sarwoto.

Peserta kegiatan merupakan siswa dari SMA Negeri 1 Ngemplak Boyolali yang dikenal memiliki minat di bidang seni dan budaya. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan sanggar seni setempat sebagai wadah pengembangan bakat.

Dalam diskusi tersebut, seni wayang dan karawitan menjadi fokus utama. Para pelajar diajak memahami bahwa kebudayaan Jawa tetap relevan dan bisa dikemas mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai luhur di dalamnya.

Elshinta Peduli

“Harapannya setelah kegiatan ini, anak-anak tertarik untuk belajar lebih jauh. Mereka bisa bergabung dengan sanggar-sanggar di sekitar tempat tinggal untuk mengembangkan potensi seni dan budaya,” tambah Wahyu.

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah dalang muda kondang, Ki Gondo Wartoyo. Ia mengangkat pentingnya pendidikan karakter melalui cerita wayang, khususnya lakon Dewa Ruci.

Menurutnya, tokoh Bima atau Bratasena dalam lakon tersebut menggambarkan sosok berkarakter kuat yang dibentuk dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga pengalaman hidup.

“Karakter anak dibentuk dari rumah, sekolah, dan lingkungan. Dalam kisah Dewa Ruci, Bratasena menjadi sosok pemberani, pembela kebenaran, dan berintegritas, meskipun menghadapi berbagai konflik, termasuk dari keluarganya sendiri,” jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto, Jumat (3/4).

Ia juga menekankan bahwa pendidikan karakter sejatinya telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia, termasuk melalui seni tradisi seperti wayang.

Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Selain mendapatkan wawasan baru, mereka juga terinspirasi untuk ikut melestarikan budaya Jawa dengan cara yang lebih kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul bibit-bibit unggul pelestari budaya yang mampu menjaga eksistensi kebudayaan Jawa di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Dalam acara tersebut juga dipentaskan wayang kulit dengan dalang cilik Kondang Kalimosodo dan pesinden juga masih anak anak.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News