Ribuan umat Hindu Bekasi gelar Melasti di Jembatan Cinta

Ribuan umat Hindu asal Kota Bekasi menggelar upacara Melasti dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis (19/3) di Jembatan Cinta Muara Tawar, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Update: 2026-03-16 16:10 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Indomie

Ribuan umat Hindu asal Kota Bekasi menggelar upacara Melasti dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis (19/3) di Jembatan Cinta Muara Tawar, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Lautan umat berpakaian putih-putih memadati lokasi sejak Minggu (15/3) pagi, membawa perlengkapan upacara dari Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dalam sebuah arak-arakan khidmat "mepeed" menuju lokasi ritual.

Mereka berasal dari dua komunitas besar, yakni Banjar Suka Duka Hindu Dharma Bekasi dari Pura Agung Tirta Bhuana dan Banjar Hitakarma Pondok Gede.

Selain sembahyang bersama diikuti sekitar 1.500 umat yang dipimpin Ida Pedanda Gde Sebali Waisnawa Mahardika dan Ida Pandita Istri Puspasari, puncak prosesi ditandai ritual Mendak Tirta, pengambilan air suci dari tengah laut menggunakan perahu, sebagai simbol penyucian diri (bhuwana alit) dan alam semesta (bhuwana agung).

Suasana semakin sakral dengan iringan tari Rejang Dewa, tari Rejang Sari serta alunan musik tradisional Baleganjur yang menggetarkan suasana pantai.

Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Jawa Barat Brigjen TNI (Purn) I Made Riawan menegaskan bahwa Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan pesan universal tentang kebersamaan dan kedamaian.

"Tahun ini kami mengusung tema 'Wasudewa Kutumbakam' yang bermakna Kita Semua Adalah Saudara, Seluruh Dunia Adalah Satu Keluarga. Melalui tema ini, kami ingin menekankan bahwa meski kita berasal dari latar belakang, suku, atau agama yang berbeda, kita tetap merupakan bagian dari satu kesatuan kemanusiaan yang utuh," kata Riawan.

Elshinta Peduli

Riawan menjelaskan pemilihan kawasan Pelabuhan Paljaya Jembatan Cinta sebagai lokasi upacara melasti setiap tahun untuk yang ketiga kalinya bukan tanpa alasan. Selain mampu menampung ribuan umat, hamparan laut di lokasi tersebut secara filosofis merepresentasikan kesucian air atau tirta amerta yang menjadi inti dari ritual Melasti.

Menurut Riawan, Upacara ini juga terbuka untuk disaksikan masyarakat umum sebagai wujud keterbukaan budaya dan penguatan moderasi beragama di Jawa Barat.

Sementara Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik yang hadir mewakili Gubernur Jawa Barat Benny Bachtiar menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya upacara Melasti ini.

Menurutnya, filosofi perdamaian yang terkandung dalam Nyepi, menjaga harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta, sangat selaras dengan visi pembangunan Jawa Barat Istimewa.

"Gubernur sering menekankan bahwa membangun Jawa Barat harus berangkat dari akar kultur. Pembangunan berkarakter yang tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga ketenangan batin dan kelestarian alam," kata Benny.

Momen Melasti tahun ini juga menjadi ajang laboratorium pendidikan karakter bagi generasi muda. Pasraman Tirta Bhuana Bekasi mengerahkan tidak kurang dari 300 siswa untuk ikut serta langsung dalam prosesi.

Ketua Pasraman I Nyoman Suranta, menyebut keterlibatan anak-anak ini sebagai bagian dari penguatan pengetahuan dan spiritualitas, mengingat pelajaran agama Hindu tidak tersedia di sekolah umum tempat para siswa belajar.

"Kami mengajak anak-anak pasraman agar Melasti menjadi sarana pengenalan budaya yang perlu terus dilestarikan oleh generasi muda," ujar Suranta.

Upacara Melasti umat hindu Kota Bekasi 2026 ditutup dengan suasana penuh kekhidmatan dan semangat toleransi, menegaskan bahwa keberagaman di tengah masyarakat Jawa Barat yang majemuk justru menjadi kekuatan dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News