Sambut 7 Syawal, warga Maluku di Jayapura saling baku pukul sapu

Masyarakat Maluku Tengah (khususnya Desa Mamala dan Morela) yang ada di Jayapura, Papua, menggelar tradisi pukul sapu atau baku pukul menyapu bertempat di Taman Imbi Jayapura, Sabtu (28/3/2026).

Update: 2026-03-30 07:40 GMT

Sumber foto: Aman Hasibuan/elshinta.com.

Indomie

Masyarakat Maluku Tengah (khususnya Desa Mamala dan Morela) yang ada di Jayapura, Papua, menggelar tradisi pukul sapu atau baku pukul menyapu bertempat di Taman Imbi Jayapura, Sabtu (28/3/2026).

Tradisi baku pukul sapu ini dilaksanakan secara serentak di Maluku setiap tanggal 7 Syawal atau sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, Pukul menyapu ini sudah menjadi agenda tahunan dan sudah masuk dalam kalender festival pariwisata tahunan di Provinsi Maluku.

“Kami dari masyarakat Ikemal di Papua sangat mendukung baku puluk sapu yang dilaksanakan pemuda di Jayapura hari ini. Kegiatan ini setiap tahun dilakukan di Desa Morela setelah 7 Syawal atau setelah Idul Fitri ,” kata Sekretatis Ikemal Pusat dI Tanah Papua, Haris Siloe kepada wartawan usai mengikuti kegiatan baku pukul sapu di Jayapura.

Ia menjelaskan, tradisi baku pukul sapu lidi ini sudah dilakukan sejak dahulu yang merupakan kegiatan budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh pemudah. “Kegiatan ini juga berlangsung di Ambon karena pelaksanaannya tidak bisa ditunda. Kalau ditunda sudah tidak sesuai dengan adatnya,”ucapnya.

Menurut dia makna dari pukul sapu ini adalah menunjukkan keperkasaan mereka sebagai pemuda yang tahan mendapat pukulan-pukulan. Jika dilihat secara kemanusiaan hal ini memang cukup memprihatinkan karena mereka sampai terluka.

Mereka yang terluka akan disembuhkan menggunakan minyak khusus sehingga tidak ada cacat atau bekas pukul sapu tersebut karena ini sebagai budaya lelulur.

“Kami berpesan kepada pemuda Ikemal di Tanah Papua agar budaya ini tetap dilestarikan meskipun mereka merantau,” ungkap Haris Siloe seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Aman Hasibuan, Senin (30/3).

Elshinta Peduli

Di tempat yang sama Ketua Morela Ilham didampingi salah satu peserta Abdul menyampaikan, baku pukul menyapu sebagai tanda mata dan setelah itu mereka pulang ke negeri atau kampung masing-masing, dan hari ini dilaksanakan di Jayapura.

“Baku pukul sapu ini memang sakit, tetapi ini sudah menjadi budaya atau adat dari leluhur. Pada saat pertama di pukul sapu tidak terasa dan semakin lama di pukul semakin tidak ada rasanya,” ucapnya.

Ia mengaku, setiap tahun selalu mengikuti pukul sapu bersama teman-temanya, karena ini merupakan adat maluku. “Setelah saling pukul tidak ada rasa dendam, karena ini adat Malaku. Dan siapa saja yang mau bisa ikut dalam kegiatan. Mereka yang terluka diberi obat daun jarak untuk penyembuhan lukanya, dan tidak menimbulkan bekas,” bebernya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News