Tiba di Haneda, Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia siap berlaga di ICC 2026 Tokyo

Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia tiba di Terminal 2 Bandara Haneda Tokyo, pada Rabu 14 Januari 2026 petang waktu Jepang. Skuad Merah Putih Sepak Bola Amputasi akan mengikuti kejuaraan International Challenge Cup (ICC) 2026 di Tokyo, Jepang pada 16-18 Januari 2026.

Update: 2026-01-13 17:10 GMT
Elshinta Peduli

Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia tiba di Terminal 2 Bandara Haneda Tokyo, pada Rabu 14 Januari 2026 petang waktu Jepang. Skuad Merah Putih Sepak Bola Amputasi akan mengikuti kejuaraan International Challenge Cup (ICC) 2026 di Tokyo, Jepang pada 16-18 Januari 2026.

Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula yang hadir langsung menyambut Tim Merah Putih di Bandara Haneda mengapresiasi kesiapan dari para atlet dalam mengikuti ajang internasional ini.

“Selamat datang kepada Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia yang akan membawa nama bangsa Indonesia di laga ICC 2026 Tokyo berhadapan dengan tim Jepang, Polandia dan Spayol. Tentunya menjadi harapan kita bersama agar Indonesia mendapatkan hasil yang positif, bisa berkompetisi dengan tim-tim tangguh dunia, serta kita harapkan Merah Putih akan berkibar di turnamen ini. Namun yang tidak kalah penting adalah permainan fair play dari skuad Merah Putih, menjaga nama baik Indonesia. KBRI Tokyo dan seluruh warga Indonesia di Jepang senantiasa akan memberikan dukungan penuh kepada Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia,” ujar Muhammad Al Aula.

ICC 2026 Tokyo digelar di Komazawa Olympic Park General Sports Ground, Athletics Stadium pada 16-18 Januari 2026. Di hari pertama Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia akan berhadapan dengan Jepang. Berturut-turut di hari kedua dan ketiga, skuad Merah Putih akan berhadapan dengan Polandia dan Spanyol.

Ketua Umum Perkumpulan Sepak Bola amputasi Indonesia (PSAI) Yudi Yahya memastikan seluruh pemain dalam kondisi prima.

Elshinta Peduli

“Alhamdulillah kami telah tiba di Tokyo untuk mengikuti ICC 2026. Kami pastikan seluruh pemain dalam kondisi prima dan siap bertanding. Dengan Jepang kita sudah dua kali bertemu, untuk Polandia dan Spanyol baru kali pertama. Target kami minimal runner up bisa tercapai,” terangnya.

Sementara itu, Aditya selaku Kapten Timnas menyatakan kesiapan tanding dari seluruh pemain.

“Dalam kondisi apapun kami upayakan teman-teman senantiasa siap bertanding dengan taktik dan arahan pelatih. Sebuah pengalaman baru bagi kami dalam menghadapi Polandia dan Spanyol. Kami upayakan yang maksimal untuk Indonesia,” tegas Aditya.

Berikut komposisi pemain Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia:

Aditya

Ajis Pirmansyah

Agung Rizki Satria

Sahata Sianturi

Ahmad Anuar

Ilham Zam Zami

Riski Adi Pradana

Piat Supriatna

Imat Hermawan

Junaidi Abdillah

Rahmad Yusuf

Sepak bola amputasi adalah permainan sepak bola 7 vs 7 yang dimainkan oleh atlet dengan amputasi anggota tubuh bagian atas atau bawah. Ide permainan muncul dari Don Bennett, seorang penyandang amputasi asal Amerika pada tahun 1980-an setelah ia secara tidak sengaja menendang bola. Permainan ini dengan cepat populer setelah diadopsi sebagai bagian dari program rehabilitasi untuk tentara AS yang terluka.

Permainan ini tidak memerlukan peralatan khusus yang dibutuhkan untuk olahraga bagi penyandang disabilitas. Para pemain bermain menggunakan alat bantu (terutama alat bantu Lofstrand) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk rehabilitasi medis.

Di bawah pengawasan Federasi Sepak Bola Amputasi Dunia (WAFF), aturan dasar dalam permainan ini adalah jumlah pemain 7 orang dengan 6 pemain lapangan dan 1 penjaga gawang. Durasi pertandingan dalam turnamen internasional adalah 50 menit, terdiri dari dua babak masing-masing 25 menit, dan istirahat 10 menit.

Di Indonesia, Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) dibentuk pada 3 Maret 2018. PSAI tergabung dalam WAFF dan menjadi Anggota Sepak Bola Amputasi Asia. PSAI dibentuk untuk mewadahi pelaksanaan program dan kegiatan pembinaan atlet Tim Nasional sepakbola amputasi Indonesia agar mampu berprestasi pada tingkat regional maupun internasional.

Pada 2022, saat kualifikasi Piala Dunia zona Asia Timur diselenggarakan di Dhaka Banglades, Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia merebut satu tiket bersama dengan Jepang mewakili Asia Timur pada kompetisi tertinggi sepakbola amputasi dunia.

Pada gelaran Piala Dunia Sepakbola Amputasi di Istanbul Turki 2022, Indonesia menempati grup C bersama dengan Argentina, Amerika dan Inggris. Di ajang ini, Indonesia berhasil finish di peringkat 22 dunia.

Tahun 2023, PSAI membentuk Timnas U-23 yang disiapkan untuk mengikuti kompetisi Artalive Chalenge Cup Malaysia berhasil menjuarai kompetisi yang diselenggarakan di Shah Alam, Malaysia 21-23 Juli 2023. Selain itu, dua punggawa Timnas U-23 berhasil menyabet penghargaan sebagai Top Scorer dan Best Player.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News