Piala AFF akan jadi panggung untuk pemain lapis kedua, kata Herdman

Pelatih kepala baru timnas Indonesia John Herdman menyebut Kejuaraan ASEAN atau yang dulu dikenal dengan nama Piala AFF pada bulan Juli mendatang akan menjadi panggung untuk pemain lapis kedua.

Update: 2026-01-13 10:50 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta Peduli

Pelatih kepala baru timnas Indonesia John Herdman menyebut Kejuaraan ASEAN atau yang dulu dikenal dengan nama Piala AFF pada bulan Juli mendatang akan menjadi panggung untuk pemain lapis kedua.

Menurut Herdman, Kejuaraan ASEAN tak masuk dalam kalender FIFA sehingga pemain-pemain utama Indonesia kemungkinan akan sulit mendapatkan izin dari klubnya.

Dengan situasi ini, kata Herdman, Kejuaraan ASEAN akan dijadikannya sebagai ajang untuk melihat seberapa luas talent pool timnas Indonesia. "Turnamen di bulan Juli dan Agustus adalah sesuatu yang berbeda. Akan sulit untuk membawa pemain tier 1 dan 2, karena mereka punya komitmen kepada klubnya, dan itu di luar kalender FIFA. Jadi, itulah pentingnya memiliki kolam talenta yang luas," kata Herdman pada jumpa pers pertamanya di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa.

"Dan, saya pikir turnamen AFF jadi sebuah kesempatan yang bagus untuk saya memahami seberapa dalam kolam talenta yang dimiliki Indonesia. Lalu juga memberikan kesempatan kepada para pemain yang tidak mendapatkannya saat Maret atau Juni di kalender FIFA," katanya menambahkan.

Selain mereka yang bukan tim utama tim Garuda, Kejuaraan ASEAN menurut Herdman juga menjadi ajang dirinya untuk memberikan kesempatan para pemain-pemain muda.

Ia mencontohkan Kejuaraan ASEAN seperti halnya saat ia melatih Kanada di Piala Emas, turnamen yang diselenggarakan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).

Adapun, selama keikutsertaan Kanada di Piala Emas pada era kepelatihannya, prestasi terbaik Alphonso Davies dan kawan-kawan menjadi semifinalis pada edisi 2021.

"Anda punya kesempatan untuk menggunakan kolam yang jauh lebih besar, dan itu mirip dengan apa yang kita lakukan di CONCACAF dengan Gold Cup (Piala Emas). Kita tidak punya akses untuk mendatangkan Alphonso Davies atau Jonathan David untuk turnamen itu. Anda harus menggunakan pemain lokal dan kolam yang jauh lebih besar. Dan, Anda bisa belajar dan melihat pemain di situasi itu," kata pelatih 50 tahun itu menjelaskan.

Elshinta Peduli

Indonesia sudah tampil 15 kali di turnamen bergengsi di kawasan Asia Tenggara ini sejak pertama kali digelar pada 1996 di Singapura. Indonesia menembus laga final sebanyak enam kali, namun mereka belum pernah mengakhirinya dengan juara.

Pada edisi terakhir tahun 2024 yang dimulai Desember, Indonesia yang kala itu dilatih Shin Tae-yong gagal melewati babak grup saat mereka menurunkan pemain-pemain muda, setelah mereka menghuni posisi ketiga dengan empat poin.

Itu adalah turnamen terakhir yang dipimpin Shin Tae-yong sebelum pelatih asal Korea Selatan itu diganti oleh Patrick Kluivert pada Januari 2025.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News