Cerita Prabowo geluti Silat sejak muda, masih ada bekas luka
Prabowo kenang perjalanan silat sejak muda, hingga bekas luka dan harapan untuk pelestarian budaya.
Presiden Prabowo Subianto menceritakan perjalanannya mengenal dan menekuni pencak silat sejak usia muda, termasuk pengalaman latihan yang meninggalkan bekas luka di tubuhnya.
Dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (11/4), Prabowo mengenang masa mudanya berlatih bela diri.
“Masih ada bekas-bekas luka sedikit,” ujarnya saat menceritakan pengalaman masa lalunya berlatih teknik silat.
Prabowo juga mengisahkan latar belakang keluarganya yang dekat dengan dunia silat. Kakeknya merupakan salah satu pendiri perguruan Persaudaraan Setia Hati di Madiun, sebelum kemerdekaan Indonesia. Sementara orang tuanya juga pernah terlibat sebagai pembina di Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).
Ketertarikan Prabowo terhadap bela diri semakin kuat saat menjalani pendidikan militer. Para taruna diwajibkan mempelajari berbagai disiplin bela diri seperti judo, tinju, anggar, hingga pencak silat.
Saat bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), prajurit diwajibkan mempelajari aliran Perguruan Pencak Silat Merpati Putih, yang dibina oleh Mung Parhadimulyo.
“Jadi kita semua harus belajar Merpati Putih,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, pencak silat bukan sekadar bela diri, tetapi warisan budaya yang mengandung nilai-nilai ksatria, pembentukan karakter, sopan santun, keberanian, dan pembelaan terhadap kebenaran.
Ia menekankan bahwa pencak silat harus terus dilestarikan sebagai identitas bangsa dan bagian penting dari budaya nasional. Prabowo juga mengapresiasi peran IPSI dan berbagai perguruan dalam menjaga serta mengembangkan pencak silat.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menegaskan tidak akan kembali menjabat sebagai Ketua Umum PB IPSI. Meski begitu, ia menyatakan akan terus mendukung upaya pelestarian silat dan mendorong pencak silat masuk dalam ajang Olimpiade.


