Try Sutrisno, menjaga marwah bulu tangkis Indonesia dengan senyap

Update: 2026-03-03 05:10 GMT

Presiden Prabowo Subianto memberikan salam hormat saat memimpin upacara militer pemakaman Wakil Presiden Ke-6 Try Sutrisno di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Senin (2/3/2026). ANTARA/HO-Tim Media Presiden Prabowo Subianto.

Indomie

Ada orang yang dikenang karena kemenangan. Ada pula yang diingat karena ia memungkinkan kemenangan terjadi. Try Sutrisno mungkin termasuk yang kedua.

Ketika Jenderal (Pur) Try Sutrisno berpulang pada usia 90 tahun lebih empat bulan, Senin (2/3/2026) pagi di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat Jakarta, sebagian besar publik kembali mengingat seorang prajurit, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, sekaligus figur negarawan yang hidup melewati berbagai fase sejarah Indonesia modern.

Ia pergi dalam ketenangan, cara yang terasa selaras dengan perjalanan hidupnya yang jarang mencari sorotan. Dalam ingatan nasional, namanya, terutama terhubung dengan militer dan pemerintahan, namun, di luar ruang politik dan kekuasaan, ada jejak lain yang tak selalu disebut, meski dampaknya terasa panjang, yakni perannya dalam perjalanan bulu tangkis Indonesia.

Jejak itu jauh dari gaduh, bahkan, cenderung sunyi. Jauh sebelum Indonesia meraih emas Olimpiade pertama, Try Sutrisno sudah lebih dahulu menaruh perhatian pada bulu tangkis, olahraga yang kala itu menjadi salah satu sumber kebanggaan nasional di tengah berbagai keterbatasan Indonesia sebagai negara berkembang.

Pada 1985, Try Sutrisno didapuk memimpin Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Masa kepemimpinannya berlangsung hingga 1993, sebuah periode yang kini dikenang sebagai fondasi penting kejayaan bulu tangkis Indonesia di panggung dunia.

Di bawah kepemimpinan sang jenderal kelahiran 15 November 1935 itu, pembinaan atlet diperkuat secara lebih sistematis. Pelatnas Cipayung pun berkembang menjadi pusat latihan nasional, sebuah candradimuka yang kemudian melahirkan generasi atlet yang mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.

Elshinta Peduli

Puncaknya terjadi pada Olimpiade Barcelona 1992, saat dunia mendengar lagu “Indonesia Raya” berkumandang untuk pertama kalinya di ajang multievent olimpiade melalui cabang bulu tangkis.

Susi Susanti meraih emas tunggal putri, disusul Alan Budikusuma di nomor tunggal putra. Momen itu bukan sekadar kemenangan olahraga, tapi menjadi pengalaman emosional kolektif bagi bangsa Indonesia yang sedang mencari alasan untuk percaya pada dirinya sendiri.

Banyak orang menangis, ketika itu. Bukan hanya karena kemenangan kontes olahraga, tetapi karena tiba-tiba Indonesia terasa nyata sebagai sebuah “kita”.

Prestasi itu dilengkapi medali perak Ardy Wiranata dan pasangan Eddy Hartono/Rudy Gunawan, serta perunggu Hermawan Susanto. Sebuah generasi emas lahir, dan bulu tangkis menjadi simbol optimisme nasional.

Selama masa kepemimpinan Pak Try, tim nasional juga mencatat berbagai prestasi penting, antara lain runner-up Piala Thomas 1986 dan 1992, serta capaian serupa di Piala Uber. Di level individu, Susi Susanti menjuarai All England 1990 dan 1991, Ardy Wiranata menjadi juara All England 1991, dan pasangan Rudy Gunawan/Eddy Hartono meraih gelar All England 1992.

Periode stabil

Banyak atlet, pelatih, dan pembina bulu tangkis mengenang masa kepemimplinan Try Sutrisno tersebut sebagai periode stabil. Latihan berlangsung terarah, organisasi berjalan tertib, dan dukungan negara terasa nyata. Stabilitas semacam itu jarang menjadi berita utama, tetapi tanpa stabilitas, prestasi sulit bertahan lama.

Try Sutrisno memahami bahwa untuk mencapai prestasi olahraga, bukan hanya soal bakat individual, tapi membutuhkan sistem, perhatian, dan keyakinan bersama bahwa kemenangan di lapangan memiliki makna sosial yang lebih luas. Dalam konteks ini, bulu tangkis menjadi semacam diplomasi kultural, cara Indonesia berbicara kepada dunia tanpa kata-kata. Semangat ini ia tanamkan kepada para pemain, sehingga menjadi energi tambahan di lapangan.

Saat atlet binaannya meraih prestasi, Try Sutrisno jarang tampil sebagai pusat perayaan kemenangan. Perannya lebih menyerupai penjaga yang memastikan ekosistem bekerja, konflik mereda, dan atlet memiliki ruang untuk bertumbuh.

Pengalaman panjangnya sebagai prajurit membentuk cara pandang tersebut. Disiplin, ketekunan, dan kerja kolektif menjadi nilai yang ia bawa ke dunia bulu tangkis. Prestasi, baginya, bukan hasil kejadian sesaat, melainkan buah dari proses yang dijaga terus-menerus.

Seiring waktu, nama-nama atlet lebih mudah diingat publik, dan memang seharusnya demikian, karena mereka yang berdiri di lapangan membawa beban pertandingan secara langsung.

Hanya saja, sejarah selalu memiliki lapisan lain. Mereka adalah orang-orang yang memungkinkan kemenangan itu terjadi. Try Sutrisno berada di lapisan ini. Ia hadir sebagai penghubung antara negara, organisasi olahraga, atlet, dan masyarakat. Dalam masa ketika dukungan institusional sangat menentukan keberhasilan pembinaan atlet, peran semacam ini menjadi penting, meski jarang terlihat.

Barangkali karena itulah warisannya tidak selalu terasa segera. Ia bekerja seperti fondasi bangunan yang tidak tampak dari luar, tetapi menentukan kekokohan seluruh struktur. Kini, ketika ia telah tiada, bulu tangkis Indonesia tetap berjalan. Generasi baru terus lahir, dan lagu kebangsaan masih berkumandang di berbagai arena dunia.

Setiap kemenangan nyaris tak pernah membawa ingatan pada banyak tangan yang pernah bekerja di belakangnya. Memang tidak semua jasa dikenang melalui sorotan kamera. Namun, sebagian hidup dalam kesinambungan yang nyaris tak disadari. Mungkin itulah bentuk pengabdian yang paling sunyi, ketika seseorang tidak lagi hadir, tetapi sistem yang ia bantu bangun tetap bekerja.

Try Sutrisno tidak mengayunkan raket, namun, ia pernah menjaga agar raket-raket itu memiliki tempat untuk diayunkan. Try Sutrisno memang tak pernah berdiri di podium juara bulu tangkis, bahkan ia tak terampil melakukan lob serang atau backhand smash. Hidup memang bukan soal berdiri di podium, tapi memastikan podium itu tetap ada ketika kita sudah tidak lagi di sana.

Selamat jalan Jenderal!

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News