Kontroversi lagu Pildun edisi 2026 'Lighter': Dinilai jelek?

Lagu Pildun “Lighter” oleh Jelly Roll dan Carín León menuai kritik. Simak kontroversi, perbandingan, dan daftar lagu Pildun yang paling ikonik.

Update: 2026-04-07 10:40 GMT

Kontroversi lagu Pildun edisi 2026 'Lighter': Dinilai jelek? (Sumber: YouTube/FIFA)

Indomie

Sebentar lagi ajang sepakbola terbesar di dunia akan dimulai. Pildun menjadi salah satu produk FIFA terbesar yang banyak dinanti oleh hampir semua penggemar sepakbola dunia. Pada edisi 2026 ini, Pildun resmi merilis soundtrack utama mereka pada Jumat, 20 Maret 2026. 'Lighter' sebuah lagu karya Jelly Roll dan Carín León yang jadi soundtrack utama Pildun edisi 2026. Seperti yang kita tahu, Pildun punya tradisi soundtrack yang cheerfull, menggugah spirit, dan menyatu dengan emosi dari ajang sepakbola ini, Namun Lighter disebut-sebut berbeda dari tradisi lagu-lagu sebelumnya.

Beberapa hari setelah perisilisan respon publik terbelah, bahkan cenderung mengarah ke pada satu sisi yaitu menganggap kualitasnya di bawah ekspektasi dibandingkan dengan semua daftar lagu Pildun yang legendaris. Meski sebagian lagi ada yang mengapresiasi pendekatan baru lagu tersebut. Sebenarnya, apa masalah dari lagu ini yang menjadikannya kontroversial?

Latar belakang perilisan lagu “Lighter”

Lighter dirilisan sebagai bagian dari kampanye dan rangkaian promosi ajang Pildun 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Proyek ambisius ini melibat seorang musisi atau rapper kenamaan asal Amerika Serikat Jolly Roll dengan Carín León seroang musisi asal Meksiko. Mereka berdua punya gaya dan genre berbeda dalam bermusik, Jolly Roll cenderung membawa nuansa southern hip-hop sedangkan Carín León sebagai musisi Meksiko yang membawakan genre regional yang dikenal sebagai regional Mexican music (seperti banda, norteño, dan corridos).

Kolaborasi lintas genre ini dinilai FIFA sebagai upaya demi menjangkau audiens yang lebih luas, terutama pasar dari Amerika Utara dan Latin. Sayangnya, pendekatan yang dipilih oleh FIFA ini justru membawa perdebatan dan kontroversi oleh publik serta penggemar Pildun di hampir seluruh dunia. Lagu ini dianggap meninggalkan identitas lagu "anthemic" yang khas dimiliki oleh lagu-lagu Pildun sebelumnya. 

Elshinta Peduli

Mengapa 'Lighter' menuai kritik?

Sejak perilisan awalnya pada Jumat, 20 Maret 2026, mulai muncul banyak kritik yang tertuju pada lagu tersebut di berbagai platform digital, khususnya pada media sosial. Poin-poin utama yang kerap disorot atas kritik pada lagu inia ialah:

  • Kurangnya nuansa stadiun yang megah dan ramai atau "chanT" yang memorable.
  • Struktur lagu dianggap masih terlalu datar dan tidak klimaks
  • Minimnya elemen global atau multikiltural dibanding edisi sebelumnya
  • Tidak memiliki hook kuat seperti lagu-lagu Pildun terdahulu

Meskipun mencapai posisi 20 besar di beberapa tangga lagu Amerika Utara, jumlah putaran lagu ini di radio-radio olahraga internasional menunjukkan angka yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rilisan lagu resmi edisi 2010 atau 2014 dalam periode waktu yang sama. Mmebuktikan bahwa engagement 'Lighter' masih tertinggal dibanding lagu resmi Pildun sebelumnya pada periode yang sama.

Perbandingan dengan lagu Pildun ikonik

Kekecewaan publik terhadap lagu edisi 2026 ini tidak lepas dari kesuksesan lagu-lagu pendahulunya. Tentunya lagu lagu tersebut memang punya standar tinggi. Beberapa karya ikonik yang pernah dimiliki FIFA sebagai soundtrack utama Pildun di edisi-edisi sebelumnya seperti: 

  • Waka Waka (This Time for Africa)” oleh Shakira (2010)
  • Wavin' Flag oleh K'naan (2010)
  • “We Are One (Ole Ola)” (2014)

Karya Shakira seperti "Waka Waka" (2010) atau "La La La" (2014) berhasil memadukan etnisitas lokal dengan ritme pop global yang adiktif. Lagu "Waka Waka" juga masih mengumpulkan jutaan penonton setiap bulannya meskipun turnamennya sudah lewat satu dekade, membuktikan bahwa lagu tersebut memiliki resonansi jangka panjang. Permasalahanya adalah, apakah 'Lighter' punya potensi yang serupa?

Selain itu, kesuksesan Wavin' Flag karya K'naan pada tahun 2010 juga sering jadi tolok ukur sebagai pernadingan untuk lagu-lagu yang akan riis setelahnya. Lagu tersebut memiliki struktur yang sederhana namun kuat, dengan lirik yang mudah dihafal oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh dunia tanpa memandang batasan bahasa.

Berikut adalah beberapa elemen yang membuat lagu sebelumnya lebih disukai dibandingkan rilisan terbaru:

  • Ritme antemik: Penggunaan drum dan perkusi dengan ritme kuat mampu meningkatkan euforia pendengar.
  • Lirik universal: Penggunaan frasa-frasa atau pilihan kata sederhana yang melambangkan persatuan dan kemenangan.
  • Melodi ikonik: Adanya bagian hook yang mudah bersenandung (humming) tanpa harus fasih berbahasa Inggris atau Spanyol.
  • Visualisasi musik: Video klip yang menampilkan budaya sepak bola jalanan dan kemeriahan suporter sepakbola.

Lagu-lagu tersebut memang punya ciri khas kuat berupa ritme energik, chorus yang mudah diingat, serta representasi budaya global yang kuat. Sementara itu, “Lighter” lebih fokus pada storytelling emosional, yang tidak selalu cocok untuk atmosfer pertandingan sepak bola.

Strategi FIFA dalam memilih musisi

Pemilihan Jelly Roll dan Carín León bukan tanpa alasan. FIFA dalam beberapa tahun terakhir cenderung mengadopsi strategi diversifikasi pasar musik, dengan mempertimbangkan:

  • Dominasi pasar musik Amerika Latin yang meningkat
  • Tren kolaborasi lintas genre di industri musik terkini
  • Target audiens Gen Z dan milenial

tapi yang bermasalah adalah pendekatan ini tak selalu selaras atau membuahkan hasil yang diharapkan. Masalah utamanya lebihseperti kualitas aransemen yang cenderung "standar" dan pendekatan narasi storytelling emosional yang justru tidak tepat sebagai pilihan dalam lagu ini.

Dampak terhadap citra lagu Piala Dunia

Kontroversi ini memunculkan pertanyaan lebih besar tentang arah kreatif lagu Piala Dunia ke depan. Apakah FIFA akan tetap mempertahankan formula lama atau terus bereksperimen?

Namun perlu diakui bahwa kegagalan yang dianggap publik semenjak masa perilisannya demi memenuhi ekspektasi awal bubkan berarti akan gagal secara keseluruhan. Dalam kasus-kasus tertentu lagu bisa saja menumbuhkan pendengarnya perlahan-lahan seiring waktu, apalagi ketika lagunya diputar saat momen pertandingan atau laga berlangsung.

Kontroversi lagu Pildun 2026 “Lighter” mencerminkan perubahan selera musik dunia sekaeang sekaligus tingginya ekspektasi publik terhadap lagu resmi turnamen sepak bola terbesar di dunia ini. Terlepas dari kritik yang muncul, “Lighter” tetap menjadi bagian penting dari rangkaian wacana menuju Pildun edisi 2026, meski perdebatan soal kualitasnya masih terus berlangsung.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News