Teater Indonesia saingi kualitas global lewat Musikal Perahu Kertas
Pementasan "Musikal Perahu Kertas" di Ciputra Artpreneur Jakarta akan memperlihatkan kualitas menyaingi standar panggung teater bergengsi di kancah global seperti di Broadway (New York) dan West End (London) kepada penonton.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Pementasan "Musikal Perahu Kertas" di Ciputra Artpreneur Jakarta akan memperlihatkan kualitas menyaingi standar panggung teater bergengsi di kancah global seperti di Broadway (New York) dan West End (London) kepada penonton.
Produser Chriskevin Adefrid mengatakan salah satunya lewat penerapan teknologi set dinamis berputar dalam pementasan yang mana itu sistem panggung yang kompleks tapi umum digunakan dalam pementasan teater di Jakarta.
"Itu (set berputar) sudah banyak di antara kita sudah eksplorasi karena teater kita sanggup bersanding dan bersaing dengan semua teater di luar negeri," kata Chriskevin di Jakarta, Rabu.
Kemampuan bersaing itu, menurut Chriskevin, muncul karena seniman teater Indonesia memiliki visi artistik yang matang.
Produser menegaskan, ia tidak akan berani sesumbar duluan jika di dalam negeri pelaku seni teater hanya modal anggaran besar tanpa menawarkan visi kreatif dan prinsip seni yang kuat.
Ketersediaan anggaran besar bisa saja membuat set seperti itu, tapi menurut dia, itu tidak akan mampu menciptakan pengalaman menonton yang bermakna di depan penonton.
"Karena enggak cuma kita punya budget, kita bisa bikinnya dar-dar-dar, kalau tanpa visi yang bagus, tanpa satu prinsip yang mau dibangun itu enggak ada artinya," kata Chriskevin.
Sutradara dan koreografer Venytha Yoshiantini juga telah mengungkap visinya pada pementasan "Musikal Perahu Kertas" yaitu menghadirkan elemen boneka atau puppets untuk mengejawantahkan nuansa imajinatif dalam novel Perahu Kertas ke tampilan panggung.
Sedangkan teknologi panggung berputar sengaja dipilih sebagai elemen artistik yang melambangkan dinamika perjalanan hidup manusia.
Sutradara menggunakan pergerakan mesin panggung itu untuk memberikan kedalaman makna pada setiap babak cerita yang ditampilkan kepada audiens.
"Di mana metaforanya tadi Venytha sempat ngobrol, setiap pilihan yang dilakukan setiap karakter ini, setnya akan berputar gitu... Jadi kita tidak bikin sekadar transisi scene dengan berputar, tapi itu ada makna khusus," kata Chriskevin.
Seluruh pergerakan di panggung teater Ciputra Artpreneur itu diharapkan berjalan mulus selama dua setengah jam pertunjukan tanpa ada kesalahan teknis.
Masyarakat dapat menyaksikan keajaiban teknologi panggung ini mulai 30 Januari hingga 15 Februari 2026.
Tiket pementasan sudah tersedia dan dapat dipesan secara daring melalui laman resmi loket.com/musikalperahukertas untuk total 21 pertunjukan yang akan dipersembahkan sebagai adaptasi cerita novel karya Dewi "Dee" Lestari itu.


