Bursa, paduan sejarah dan alam nan indah di Anatolia

Update: 2026-02-28 04:30 GMT
Indomie

Perjalanan selama 1 hingga 3 jam menuju Provinsi Bursa dari Istanbul menggunakan bus terasa menenangkan.

Hujan deras dan udara dingin yang menyelimuti Istanbul pada awal Februari, sedikit menghangat saat pemandangan kota wisata nan padat berubah menjadi deretan pohon zaitun dan ragam pabrik di sepanjang jalan menuju provinsi yang terletak di barat laut Turki itu.

Sebelum menjadi pusat industri tekstil hingga otomotif, Bursa merupakan kota yang sangat kaya dengan alam dan nilai sejarahnya.

Letak geografisnya yang unik menjadikannya salah satu kota terpenting dalam peradaban di era Kekaisaran Ottoman dari tahun 1335 hingga tahun 1360-an.

Lokasinya yang berada tepat di sisi Asia dari Laut Marmara, membuat letak Bursa jauh lebih dekat ke Asia daripada Eropa.

Meskipun berada di wilayah Marmara yang berfungsi sebagai jembatan antar benua, kota ini terletak di Anatolia atau Turki yang lebih dekat dengan benua Asia.

Kini, Bursa tumbuh menjadi perkotaan yang cukup teratur dan berbatasan dengan dataran subur.

Di tengah modernisasi dan industrialisasi yang tak terelakkan, bangunan-bangunan peninggalan Kekaisaran Ottoman masih berbaur dengan kokoh dan terawat.

Tak hanya itu, Bursa juga menawarkan objek wisata alam yang tak kalah magis, seperti salah satunya Gunung Uludag, yang dikenal pada zaman dulu sebagai Olympus Mysia atau Olympus Bithynia.

Elshinta Peduli

ANTARA bersama AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA) berkesempatan untuk menjelajahi beberapa destinasi menarik di kota yang berdekatan dengan Istanbul ini.

Iznik

Iznik yang dulunya dikenal sebagai Nicaea, merupakan kota dengan daya tarik sejarah, terutama terkait perjalanan Kekristenan.

Kota ini pertama kali berada di bawah kekuasaan Bithynia, Kekaisaran Romawi, dan Kekaisaran Romawi Timur. Tak hanya dianggap sebagai salah satu kota penting bagi Kekristenan, Iznik juga menjadi tempat di mana Paus Leo XIV melakukan kunjungan internasional pertamanya.

Di kota ini, Anda dapat mengunjungi Masjid Hagia Sofia yang dulunya merupakan sebuah gereja, sejumlah workshop untuk mempelajari pembuatan ubin dan keramik khas Turki yang terkenal dengan warna turquoise, hingga Museum Iznik.

Di Museum Iznik, pengunjung dapat menjumpai berbagai macam artefak dari 6.500 SM, hingga pameran interior dan taman museum yang disusun secara kronologis mulai dari zaman Neolitikum, Romawi Timur (Bizantium), sampai dengan Periode Ottoman.

Desa Cumalikizik

Cumalikizik merupakan sebuah desa dari periode di mana Bursa masih menjadi ibu kota pertama Kekaisaran Ottoman.

Saat memasuki kawasan ini, waktu seolah berhenti karena bangunan-bangunan tua dan gaya hidup tradisional warganya masih terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Dengan cara ini, Desa Cumalikizik memberikan kesan yang berbeda kepada pengunjung, melalui suasana yang menyimpan jejak dari masa lalu.

Toko-toko kelontong dengan terbuka menjajakan camilan lokal, pedagang-pedagang kecil tiba-tiba muncul menawarkan parfum hingga minuman hangat dengan rasa vanila dan kayu manis.

Tata letak dari desa ini pun cukup unik karena jalannya masih menggunakan bebatuan, dan pelancong dipaksa untuk mendaki dan menuruninya.

Namun, hal itu lah yang membuat para wisatawan mudah untuk berhenti sejenak: entah untuk berfoto, berbelanja, atau bahkan membeli jagung manis untuk dinikmati selama mengelilingi salah satu Warisan Dunia UNESCO tersebut.

Masjid Agung (Ulu Cami)

Ulu Cami adalah masjid bersejarah di Bursa. Masjid ini dibangun atas perintah Sultan Ottoman Bayezid I untuk memperingati kemenangan besarnya dalam Pertempuran Nicopolis, dibangun antara tahun 1396 dan 1399.

Masjid ini merupakan monumen utama arsitektur Ottoman awal dan salah satu masjid terpenting di kota ini, terletak di jantung kota tua di samping pasar-pasar bersejarahnya.

Ulu Cami juga dijuluki sebagai “museum kaligrafi” karena dinding-dindingnya dipenuhi oleh setidaknya puluhan kaligrafi Arab dari tahun 1778-1938 sebagai elemen utama untuk dekorasi visual dan mengkomunikasikan makna Islami kepada pengunjung.

Kozahan

Setelah menunaikan salat di Ulu Cami, wisatawan cukup berjalan beberapa langkah saja untuk sampai ke Kozahan, sebuah tempat belanja tradisional nan ikonik di Bursa.

Tatanan Kozahan terlihat cukup unik untuk sebuah tempat belanja. Hal ini karena mulanya, tempat ini merupakan sebuah tempat peristirahatan bagi para pedagang beserta unta-unta mereka.

Kozahan dibangun atas perintah Sultan Bayezid II pada tahun 1492, tepat di antara Orhan Cami dan Ulu Cami. Tempat ini, sebagian besar dibangun dengan batu bata dan memiliki dua lantai.

Dulunya, semua kamar di lantai atas digunakan sebagai toko untuk menjual sutera dan produk tekstil. Karena itulah, penginapan ini mendapatkan namanya dari kata “koza” yang berarti kepompong dalam bahasa Turki.

Kini, wisatawan dapat menghabiskan waktu untuk membeli kain sutera, oleh-oleh, atau bahkan sekadar menghabiskan waktu dengan meneguk kopi khas Turki.

Gunung Uludag

Dari jalanan yang hangat, Anda bisa menemukan suasana yang begitu kontras di Bursa, yakni dengan mengunjungi Gunung Uludag, yang merupakan gunung tertinggi di Anatolia Barat.

Pada awal bulan Februari, salju putih masih bertumpuk dan udara nan sejuk turut melengkapi di gunung yang juga berstatus taman nasional ini.

Di sini, para pelancong bisa melakukan berbagai macam aktivitas menarik, mulai dari menaiki cable car, meluncur dengan sliding board, membuat boneka salju, belajar ski bersama instruktur profesional, hingga menikmati teh hangat di berbagai resor ski.

Resor ski di Uludag pun termasuk di antara resor terpopuler di Turki karena kedekatannya dengan Istanbul. Area ski berada di ketinggian 1.750-2.543 meter.

Namun, ketika cuaca mulai menghangat dan salju sudah mencair mulai pertengahan Maret, Uludag seketika bertransformasi menjadi bentangan karpet hijau yang dipenuhi aneka bunga penuh warna dan cantik, yang seakan cocok untuk berpiknik bersama keluarga.

Entah itu musim panas atau pun dingin, Bursa seakan tidak habis menawarkan keindahan dari Sang Pencipta, dan nilai sejarah yang terus terjaga oleh umat manusia.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News