Deteksi dini kunci cegah dampak fatal infeksi virus Nipah
Petugas memantau layar yang menunjukkan suhu tubuh penumpang asal Malaysia saat melalui alat pemindai suhu tubuh digital di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (05/2/2026), dalam upaya pengawasan terhadap pelaku perjalanan udara dari luar negeri guna mencegah penularan virus Nipah di Indonesia. (ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc)
Dokter menyampaikan pentingnya deteksi dini untuk mencegah dampak fatal Infeksi virus Nipah, yang potensi penularannya meningkat seiring dengan peningkatan mobilitas lintas negara.
"Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal," kata dokter spesialis penyakit dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, dalam keterangan persnya pada Sabtu.
"Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal," kata dia.
Virus Nipah (NiV) merupakan virus RNA dari kelompok Paramyxovirus yang pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama di peternakan babi. Kelelawar pemakan buah merupakan reservoir alami virus tersebut, yang bisa menular ke manusia melalui perantaraan hewan seperti babi.
Infeksi virus Nipah dapat menyerang saluran pernapasan dan sistem saraf, berisiko menyebabkan gangguan berat sampai kematian. Hingga kini belum ada vaksin maupun antivirus spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut. Menurut dr. Timoteus, gejala awal infeksi virus Nipah kerap menyerupai infeksi umum.
Gejala biasanya muncul dalam waktu lima sampai 14 hari setelah paparan, diawali dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas. Dalam kondisi berat, pasien bisa batuk, sesak napas, serta mengalami gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak (ensefalitis).
Kalau sampai mengalami penurunan kesadaran atau gangguan napas, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan supaya bisa mendapat penanganan medis yang dibutuhkan. Dokter Timoteus menyampaikan bahwa penularan virus Nipah juga bisa terjadi di Indonesia, yang memiliki habitat kelelawar buah dan menerima kedatangan orang dari negara yang pernah melaporkan kasus infeksi virus Nipah seperti India dan Bangladesh.
Kesiapan layanan kesehatan, deteksi dini, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dinilai sangat penting dalam upaya untuk mencegah dampak luas penyakit infeksi tersebut di tengah peningkatan mobilitas global.


