Jejak solidaritas warga di Kota Cirebon dalam semangkuk bubur Ramadan

Dari rumah inilah seratus porsi kuliner khas Timur Tengah di Cirebon selalu dibagikan kepada warga sekitar, sesaat sebelum azan magrib berkumandang.

By :  Widodo
Update: 2026-02-22 12:45 GMT

Warga saat menunjukkan arisp foto zaman Belanda yang sudah diwarnai terkait kondisi Jalan Panjunan di Kota Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

Elshinta Peduli

Rumah itu tampak lelah dimakan usia. Cat dindingnya tak lagi rata. Jendela kayunya memudar dan pilar putih di terasnya menyisakan guratan waktu.

Orang mungkin melintas begitu saja saat melewati Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Sekilas, tak ada yang istimewa dari bangunan tua tersebut.

Namun, dari rumah inilah seratus porsi kuliner khas Timur Tengah di Cirebon selalu dibagikan kepada warga sekitar, sesaat sebelum azan magrib berkumandang.

Jika wangi rempah tajam mulai menyusup ke sela-sela jendela rumah tua berarsitektur indis tersebut, maka itu tandanya Ramadhan telah tiba.

Pada Sabtu (21/2) siang itu, ANTARA menyambangi rumah tersebut untuk melihat lebih dekat rutinitas warga Panjunan yang hanya hadir setiap Ramadhan.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.23 WIB. Pada salah satu ruangan ada meja panjang berlapis taplak bermotif batik, yang di atasnya terdapat kotak-kotak styrofoam.

Uap tipis membumbung dari baskom besar berwarna biru. Di dalamnya tampak adonan bertekstur liat namun lembut luluh bersama santan dan daging kambing.

Sendok plastik hijau bergerak perlahan, mengaduknya dengan ritme teratur. Batang serai dan daun rempah menyembul dari permukaan, menebarkan aroma hangat yang meruap dan mengendap di langit-langit.Fatimah Bayasut (67) berdiri di samping meja. Tangannya bergerak cekatan. Satu sendok diangkat, dituangkan, lalu diratakan. Kotak penuh digeser, diganti yang kosong.

Elshinta Peduli

Di salah satu dinding, potret pendiri yayasan tergantung rapi. Seolah mengawasi dalam diam, mengingatkan kegiatan ini telah menjadi tradisi lintas generasi.

Beginilah suasana penyajian bubur harisah, kuliner khas Ramadhan yang masih bertahan di Kampung Arab Panjunan, Cirebon.

Rasa yang melekat

Tradisi memasak bubur harisah di rumah ini telah berlangsung turun-temurun. Fatimah beserta kakak laki-lakinya, yakni Abdullah bin Muhammad bin Sahil, merupakan generasi ketiga yang menjaga warisan kuliner tersebut.


“Bubur harisah ini sudah ada sejak nenek moyang saya, yang diadakan setiap bulan Ramadhan,” katanya kepada ANTARA.

Fatimah tumbuh dengan aroma harisah yang sama saban Ramadhan. Dalam ingatannya, bulan suci selalu identik dengan panci besar dan adukan bubur yang tak pernah absen dari dapur keluarganya.

Proses pembuatan bubur harisah berlangsung sekitar tiga jam. Sejak pukul 10.00 WIB, Fatimah bersama keluarganya sudah berada di dapur.

Ia menjelaskan untuk membuat kuliner ini, mulanya beras beserta santan dimasukkan lebih dulu ke dalam panci. Kemudian kedua bahan tadi direbus agar menyatu.

Nyala api pun dijaga stabil, agar adonan yang dihasilkan tidak pecah atau terlalu lengket di dasar panci. Setelahnya, daging kambing ditambahkan untuk membangun rasa gurih yang dalam.

Menurut dia, kunci untuk menciptakan cita rasa yang melekat di lidah, terletak pada penggunaan rempah-rempah khas Timur Tengah.

Bahan seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, jahe dan ketumbar ditumbuk. Kemudian dimasukkan satu per satu ke dalam panci.

Tidak ada takaran tertulis. Semua bahan tadi diracik, berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Proses pembuatan bubur harisah bisa selesai pada pukul 13.00 WIB. Setelah matang, bubur tidak langsung dibagikan.


Kuliner tersebut, kata dia, mesti didiamkan selama kurang lebih setengah jam supaya suhu turun dan teksturnya semakin mantap. Barulah setelah itu masuk ke tahap pengemasan.

Fatimah mengatakan karakteristik bubur harisah dominan dengan aroma rempah. Bila disantap, suapan pertama dari hidangan ini bisa membawa rasa gurih dengan tekstur kental yang padat namun lumer saat menyentuh lidah, lalu mengendap perlahan di tenggorokan.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, keluarganya memproduksi sekitar 100 porsi bubur harisah per hari, dimulai pada awal puasa hingga mendekati akhir bulan Ramadhan.

Kuliner ini pun didistribusikan secara gratis. Sebagian disalurkan ke Masjid Asy-Syafi’i Bayasut dan ada pula yang diberikan kepada warga sekitar Kampung Arab Panjunan. Pembagian dilakukan menjelang waktu berbuka puasa.

Menariknya, seluruh biaya produksi berasal dari dana yayasan keluarga. Artinya, tradisi ini berjalan tanpa mengandalkan sumbangan dari luar.

Solidaritas yang mengakar

Istilah harisah sendiri konon memiliki arti diam. Warga berhenti sejenak dari aktivitas, berkumpul di masjid, lalu menyantap bubur sebagai takjil.

Di kawasan Panjunan, bubur tersebut kerap disebut pula sebagai bubur Bayasut, merujuk pada keluarga yang menjaga resep dan tradisinya.

Tradisi ini sudah berumur lebih dari seabad. Sekitar 1924, sosok bernama Syekh Mohammad Islam Bayasut yang pertama kali merintisnya. Ia dikenal sebagai saudagar keturunan Yaman yang tinggal di Panjunan, Cirebon.


Rumahnya luas, bahkan halaman depannya dulu sering menjadi tempat singgah musafir yang datang dari berbagai daerah.

Berdasarkan data yang dihimpun ANTARA, pada masa itu tokoh ini tersohor sebagai pedagang besar yang memelihara banyak kuda dan sapi. Namun, di balik kesibukan bisnisnya, hatinya tertambat pada Masjid Asy-Syafi’i yang ia bangun.

Ia tak ingin para musafir yang beristirahat dan shalat di masjidnya didera lapar, terlebih di bulan suci yang penuh berkah.

Maka, ia menyuguhkan bubur harisah secara cuma-cuma, agar para musafir yang singgah dapat mengenyangkan perutnya saat waktu berbuka puasa tiba.

Dari momen itulah, kelezatan bubur ini mengakar dan menjadi salah satu tradisi unik yang dapat dijumpai di Kampung Arab Panjunan, Cirebon selama bulan Ramadhan.

Peninggalan

Kampung Arab Panjunan sendiri adalah mozaik budaya yang unik di Kota Cirebon. Sejumlah literatur masa lampau mencatat sejak abad ke-15, kawasan ini menjadi titik temu antara pedagang Arab, terutama dari Yaman dengan masyarakat pesisir.

Mereka datang melalui jalur laut, memanfaatkan posisi strategis Cirebon sebagai pelabuhan penting di pantai utara Jawa. Di tengah lalu lintas dagang tersebut, interaksi sosial dan keagamaan berkembang pesat.

Pengaruh Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon, turut membentuk jaringan keilmuan sekaligus kekerabatan yang kokoh dengan para pedagang tersebut.

Di sini, silsilah marga seperti Alaydrus hingga Alatas masih dijaga. Aktivitas ekonomi berjalan beriringan dengan kegiatan sosial dan keagamaan.

Namun, dalam urusan kuliner seperti harisah, sekat-sekat itu seolah melebur. Bubur ini menjadi simbol bagaimana pengaruh Timur Tengah, bisa berpadu harmonis dengan lidah lokal.

Mereka pun membangun rumah-rumah besar dengan halaman luas, langit-langit tinggi, dan ventilasi lebar. Seiring waktu, Kampung Arab Panjunan berkembang sebagai komunitas tersendiri.

Rutinitas pembacaan sholawat, pengajian rutin, hingga kebiasaan berbagi makanan saat Ramadhan menjadi bagian dari identitas kawasan ini.

Salah satu penanda sejarah penting di kawasan ini adalah Masjid Merah Panjunan. Berdiri sejak abad ke-15, masjid ini dikenal dengan dinding bata merah dan ornamen keramik Tiongkok yang menempel di sejumlah bagian.

Bangunannya pun menjadi simbol akulturasi yakni pengaruh Arab dalam dakwahnya, Jawa pada tata ruangnya, dan Tiongkok dari sisi detail estetikanya.

Daya tarik

Pemerintah Kota Cirebon mulai memetakan ulang kekuatan wisatanya, dengan menoleh ke akar sejarah dan kebudayaan yang sejak lama berkembang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, sudah merancang lima destinasi wisata, yang bertumpu pada potensi budaya dan jejak historis kota pesisir tersebut.

Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyebut dua dari lima destinasi itu, berbentuk kampung wisata yang telah dirancang sejak 2023. Konsepnya mengangkat kearifan lokal sebagai daya tarik utama.

Dua kampung wisata yang dimaksud adalah Kampung Wisata Kacirebonan dan Kampung Arab Panjunan. Keduanya menawarkan lanskap pengalaman yang berbeda.

Di Kacirebonan, pengunjung dapat menyusuri jejak keraton, menyimak tradisi kesultanan, serta melihat bagaimana nilai-nilai budaya diwariskan dalam keseharian warga.

Sementara di Panjunan, wisatawan diajak mengenali potret akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa yang telah berabad-abad membentuk wajah kawasan tersebut.

Kampung Arab Panjunan, dikenal dengan rumah-rumah tua berarsitektur campuran, tradisi keagamaan yang masih hidup, serta kedekatannya dengan situs-situs bersejarah seperti Masjid Merah Panjunan.

Di lorong-lorong sempitnya, wisatawan bisa merasakan atmosfer kampung yang religius dan komunal.

Pengalaman berjalan kaki, berbincang dengan warga, hingga mencicipi kuliner khas menjadi bagian dari paket narasi yang ditawarkan.

Meski demikian, Agus memastikan kedua kampung wisata itu masih memerlukan penataan lanjutan. Akses, papan informasi, hingga pengemasan atraksi budaya terus disempurnakan agar kunjungan wisatawan lebih nyaman dan terarah.

“Sudah bisa dikunjungi, tetapi tetap ada pembenahan supaya pengalaman wisatawan semakin maksimal,” katanya.

Kehadiran destinasi tersebut dapat memperluas spektrum wisata heritage di Kota Cirebon, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan selain wisata kuliner yang selama ini identik dengan kota tersebut.

Pada prinsipnya, keberadaan Kampung Arab Panjunan, termasuk tradisi pembuatan bubur harisah saat Ramadhan, kini telah menjadi identitas budaya di Kota Cirebon.

Berangkat dari rumah tua keluarga Bayasut, kekayaan budaya tersebut terus dijaga seperti amanah yang tak boleh terputus.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News