Kemenangan di meja makan
Lantunan gema takbir menandai datangnya Idul Fitri setelah satu bulan lamanya menjalani ibadah puasa. Dalam tradisi masyarakat, perayaan hari kemenangan ini hampir selalu dirayakan kolektif di meja-meja makan.
Ilustrasi - Hidangan Lebaran. ANTARA/Siti Zulaikha/am.
Lantunan gema takbir menandai datangnya Idul Fitri setelah satu bulan lamanya menjalani ibadah puasa. Dalam tradisi masyarakat, perayaan hari kemenangan ini hampir selalu dirayakan kolektif di meja-meja makan.
Sajian ketupat, opor ayam, rendang, kue-kue kering, hingga aneka hidangan istimewa lainnya melengkapi momen bahagia berkumpul bersama keluarga.
Namun, deretan hidangan istimewa ini tidak boleh lantas dianggap sebagai "hadiah" setelah sebulan berpuasa, karena esensi dari kemenangan adalah ketika Idul Fitri menjadikan kita kembali ke fitrah, kembali ke keseimbangan.
Seimbang antara menjalani Lebaran dengan bahagia, namun tetap bijaksana dan tidak berlebihan dengan cara mengatur porsi makan.
Selama Ramadhan, tentunya tubuh telah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, sehingga perlu dipastikan, saat Lebaran, pola tersebut jangan berubah.
Hal ini senada dengan yang disampaikan Asisten Deputi Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Linda Restaningrum bahwa di balik kelezatan hidangan Lebaran ada risiko kesehatan yang kadang luput disadari.
Makanan tinggi lemak, gula, dan garam, ketika dikonsumsi secara berlebihan bisa menjadi faktor risiko yang memicu berbagai keluhan kesehatan.
Mulai dari gangguan pencernaan, kenaikan berat badan secara cepat, hingga peningkatan kadar gula darah. Sehingga pengaturan porsi makan menjadi kunci agar bisa tetap sehat di hari yang fitri.
Pengaturan pola konsumsi tersebut bisa dimulai dari memperhatikan keseimbangan isi piring. Memastikan asupan makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan telah sesuai dengan kampanye "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan.
Selain itu, mengambil makan dalam porsi kecil, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak air putih juga menjadi salah satu kunci untuk menghindari berbagai faktor risiko kesehatan.
Linda Restaningrum juga mengingatkan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh, karena tubuh memiliki mekanisme alami untuk memberitahu jika ada yang tidak berjalan normal.
Misalkan, ketika dehidrasi maka akan terasa pusing, bibir kering, atau kulit kering. Makan terlalu banyak lemak akan berdampak pada perut yang terasa tidak nyaman, kembung, hingga kolesterol meningkat.
Jangan abaikan keluhan-keluhan sekecil apapun. Sinyal-sinyal tersebut harus didengar dan dilakukan upaya untuk memperbaikinya.
Untuk memastikan kondisi kesehatan, maka bisa melakukan cek kesehatan sederhana di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang terdekat. Hasil pemeriksaan tersebut bisa menjadi panduan dan rem untuk memperbaiki pola makan, dan menjalani pola hidup yang lebih sehat.
Aktivitas fisik
Hal serupa juga disampaikan Peneliti dari Kedeputian Kebijakan Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Ketut Aryastami yang mengingatkan pentingnya mengatur porsi makan, beraktivitas fisik, konsumsi air putih, hingga memastikan pola tidur yang baik.
Masyarakat perlu memperhatikan menu makan yang seimbang dan bervariasi dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi secara optimal.
Aktivitas fisik merupakan hal utama yang perlu dilakukan tidak hanya ketika hari Lebaran. Melainkan setiap hari, sekitar 30 menit per hari.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, sebesar 37,4 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik. Alasan kurang aktivitas fisik di antaranya adalah tidak ada waktu, rasa malas, lanjut usia, hingga tidak ada rekan.
Ni Ketut Aryastami mengingatkan bahwa aktivitas fisik seperti jalan cepat, bersepeda santai, berenang, senam aerobik, dan lain sebagainya yang dilakukan minimal 30 menit per hari akan dapat menurunkan risiko obesitas, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, hingga stroke.
Selain aktivitas fisik, penting juga bagi masyarakat untuk tidak berbaring atau tidur setidaknya 1,5 jam setelah makan, selain menjaga kesehatan pencernaan, juga untuk memberikan jeda waktu bagi tubuh untuk mencerna dengan baik makanan yang dikonsumsi.
Menurut Ni Ketut Aryastami yang juga merupakan anggota Komisi Etik Persatuan Ahli Gizi Indonesia itu, dengan mengatur porsi makan, beraktivitas fisik, konsumsi air putih, hingga memastikan pola tidur yang baik, maka diharapkan dapat menekan berbagai risiko penyakit. Terutama di tengah kebahagiaan menikmati momen Lebaran.
Bijaksana dan komitmen penuh dalam menjalani pola hidup, pola makan, dan pola tidur yang baik tentu akan mengantarkan masyarakat pada momen perayaan Lebaran tanpa perlu rasa khawatir.
Sehat pada saat dan setelah Lebaran tentunya akan menjadi bukti pengendalian pola makan secara cerdas di tengah gempuran hidangan yang lezat.
Karena Lebaran bisa dinikmati tanpa harus makan secara berlebihan, kuncinya sederhana, ambil secukupnya, pilih makanan dengan bijak, dan tetap aktif bergerak.
Selain itu, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan padahal memiliki dampak kesehatan yang sangat masif adalah menjadikan momen Idul Fitri sebagai hari pertama berhenti merokok untuk selamanya.
Menurut Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama, selama bulan suci Ramadhan, tentu tubuh sudah terbiasa untuk tidak merokok mulai dari sahur hingga waktu berbuka. Kebiasaan ini harus dibawa hingga seterusnya.
Tentu hari kemenangan bisa menjadi momentum yang paling tepat untuk memberikan hadiah terbaik bagi kesehatan paru-paru dan jantung. Karena momen Lebaran tentu akan lebih bermakna jika dinikmati dengan tubuh yang bugar dan sehat.


