Akademisi nilai pariwisata syariah kunci penjenamaan daerah
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Baiq El Badriati menilai pariwisata syariah memiliki peran strategis sebagai instrumen branding atau penjenamaan bagi daerah-daerah di Indonesia.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Baiq El Badriati menilai pariwisata syariah memiliki peran strategis sebagai instrumen branding atau penjenamaan bagi daerah-daerah di Indonesia.
"Pariwisata syariah adalah image view dari kedaerahan yang menarik untuk dijadikan sebagai sebuah branding," ujar dia saat ditemui di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa.
Badriati menjelaskan konsep pariwisata syariah tidak hanya gambaran identitas kultural masyarakat Muslim, tetapi juga menjadi daya tarik kompetitif dalam pasar wisata global yang terus berkembang.
Ia mencontohkan sejumlah daerah seperti Aceh dengan nuansa syariah yang kuat dan Lombok dengan penjenamaan Pulau Seribu Masjid yang telah dikenal luas oleh para turis domestik maupun mancanegara.
"Pariwisata syariah menjadi suatu keniscayaan yang menarik untuk dijadikan sebagai salah satu parameter dalam pengembangan pariwisata syariah di Indonesia," kata Badriati.
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang diperkirakan mencapai 248 juta jiwa atau setara 87 persen dari total jumlah penduduk.
Badriati memandang penguatan pariwisata syariah sangat penting dalam konteks sistem dan pemosisian global, karena bisa memperjelas citra destinasi wisata daerah di mata para wisatawan dari seluruh dunia.
"Apalagi berbagai reward yang disematkan bagi Lombok, seperti Best Halal Honeymoon dan Best Halal Food dapat menjadi faktor utama sebagai alat dukung pariwisata syariah," pungkas dia.
Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), Indonesia secara konsisten berada dalam jajaran destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia selama satu dekade terakhir.
Pada 2024, Indonesia mempertahankan peringkat pertama dengan skor kuat 76 poin yang mencerminkan komitmen terhadap layanan berkualitas tinggi, infrastruktur berkualitas, dan reputasi yang berkembang di kalangan wisatawan Muslim.
Posisi Indonesia sempat mengalami pergeseran ke peringkat kelima, meski tetap mempertahankan skor keseluruhan yang sama sebesar 76 poin pada 2025.
Jumlah wisatawan Muslim yang datang ke Indonesia sepanjang tahun 2024 mencapai 1,9 juta jiwa dari total keseluruhan turis asing sebanyak 13,8 juta jiwa.
Populasi warga negara ASEAN mencakup 75 persen dari wisatawan Muslim mancanegara yang datang ke Indonesia, sedangkan negara non-ASEAN hanya menyumbang 25 persen. Dominasi itu sebagian besar disebabkan oleh Malaysia yang menjadi penyumbang wisatawan asing terbesar ke Indonesia sejak 2022.
Turis asal Malaysia yang datang ke Indonesia mencapai 2,27 juta jiwa pada 2024. Jumlah itu melampaui pasar utama, seperti Australia, Singapura, Tiongkok, Timor-Leste, dan India.


