Wamenpar: Sinergitas penting wujudkan pariwisata Indonesia cerdas dan berkelanjutan

Pentingnya sinergi antara teknologi digital, penguatan SDM, dan transformasi kebijakan untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang cerdas dan berkelanjutan.

Update: 2026-03-13 07:10 GMT

Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com.

Indomie

Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya menggelar kuliah tamu bertema Smart and Sustainable Hospitality: Sinergi Teknologi Digital, Penguatan SDM, dan Transformasi Kebijakan Pariwisata Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam bidang pendidikan maupun layanan akademik di Gedung Widyaloka, Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, serta diikuti mahasiswa dan pelaku industri pariwisata.

“Sektor pariwisata saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang besar seiring pesatnya perkembangan teknologi digital,” ujar Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Jumat (13/3).

Ditambahkannya transformasi tersebut dilakukan melalui digitalisasi layanan, integrasi berbagai platform, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata.

Fakultas Vokasi UB juga memiliki komitmen untuk berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata nasional melalui tiga bidang utama, yakni pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan di sektor pariwisata, tetapi juga dilatih untuk menguasai teknologi serta memahami nilai-nilai budaya lokal Indonesia. Menurutnya, integrasi antara teknologi dan budaya menjadi penting agar generasi muda mampu beradaptasi dengan perkembangan digital tanpa meninggalkan identitas budaya bangsa.

Elshinta Peduli

“Kami berharap mahasiswa memiliki kompetensi yang kuat di sektor pariwisata sekaligus mampu menjaga dan mempromosikan nilai-nilai budaya Indonesia di tengah perkembangan digitalisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UB Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Andi Kurniawan, menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pariwisata yang kuat. Ia menyampaikan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri.

“Pariwisata memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan berbagai sektor lain, termasuk pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, lebih dari 30 persen mahasiswa UB berasal dari wilayah Jabodetabek, dan banyak di antaranya memilih berkuliah di UB karena daya tarik Malang sebagai kota pendidikan sekaligus destinasi wisata.

“Ini menunjukkan bagaimana sektor pariwisata mampu mendorong pertumbuhan sektor lain, termasuk pendidikan tinggi,” ujarnya.

Andi juga menyoroti bahwa industri pariwisata saat ini menghadapi tiga transformasi utama, yaitu transformasi digital, penguatan sumber daya manusia, serta keberlanjutan (sustainability). Katanya, pariwisata global tidak lagi hanya berbicara tentang keindahan destinasi, tetapi juga bagaimana destinasi tersebut mampu menjaga keberlanjutan lingkungan dan menghormati budaya lokal.

“Pariwisata tidak hanya menjadi fondasi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis sektor ini dapat berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menegaskan pentingnya sinergi antara teknologi digital, penguatan SDM, dan transformasi kebijakan untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang cerdas dan berkelanjutan. Menurutnya, teknologi telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan merencanakan perjalanan wisata, namun peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan.

“Teknologi mungkin memudahkan banyak hal, tetapi manusia yang membuat orang ingin kembali. Dalam pariwisata ada tiga hal penting, yaitu service, hospitality, dan experience,” ujarnya.

Ia juga memaparkan perkembangan sektor pariwisata Indonesia dalam lima tahun terakhir yang menunjukkan tren pertumbuhan positif pasca pandemi COVID-19. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta kunjungan, melampaui target pemerintah yang berada pada kisaran 14 hingga 15 juta kunjungan. Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara juga mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan, lebih tinggi dari target 1,08 miliar perjalanan.

“Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menargetkan transformasi pariwisata Indonesia menuju quality and sustainable tourism. Pada tahun 2029, sektor pariwisata ditargetkan mampu menghasilkan devisa puluhan miliar dolar Amerika Serikat, dengan 20 hingga 23,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara serta 1,5 miliar perjalanan wisatawan nusantara. “ tandasnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News