Bahaya brain rot: Saat Gen Z candu akan tontonan nirfaedah

Bahaya brain rot pada Gen Z akibat kecanduan tontonan nirfaedah berdampak pada fokus, kesehatan mental, dan kemampuan berpikir kritis.

Update: 2026-02-12 12:40 GMT

Bahaya brain rot pada Gen Z akibat kecanduan tontonan nirfaedah berdampak pada fokus, kesehatan mental, dan kemampuan berpikir kritis.

Elshinta Peduli

Brain rot, sebagai tontonan nirfaedah kini menjadi candu di kalangan anak muda sekarang, khususnya Gen Z. Hal ini ternyata membawa dampak yang berbahaya di tengah masifnya konsumsi konten digital. Penyebaran video pendek, live streaming absurd, dan podcast hiburan ringan kian mendominasi layar keseharian generasi muda. Masalahnya, kalau dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini tidak hanya menurunkan kemampuan atensi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, produktivitas, hingga kemampuan berpikir kritis mereka.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan konten  dalam durasi panjang memicu kelelahan kognitif, gangguan konsentrasi, serta penurunan kapasitas reflektif. Kondisi inilah yang kemudian populer disebut sebagai brain rot, yakni kemunduran fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang minim nilai edukatif.

Ancaman brain rot pada Gen Z

Brain rot merujuk pada kondisi penurunan daya pikir, fokus, dan kualitas pemrosesan informasi akibat paparan konten dangkal secara terus-menerus. Istilah ini memang bukan diagnosis medis formal, tetapi digunakan luas dalam kajian psikologi digital untuk menggambarkan dampak kognitif dari konsumsi media berlebihan.

Penelitian Zhang dan Pan (2023) berjudul Mind over Matter: Examining the Role of Cognitive Dissonance and Self-Efficacy in Discontinuous Usage Intentions on Pan-Entertainment Mobile Live Broadcast Platforms menyebutkan bahwa information overload dan service overload pada platform digital dapat memicu cognitive dissonance, kelelahan mental, serta kecenderungan mencari hiburan rendah beban berpikir. Studi ini menunjukkan bahwa pengguna yang mengalami kelelahan kognitif lebih memilih konten hiburan singkat, repetitif, dan minim kompleksitas.

Elshinta Peduli

Dominasi video pendek dan live streaming absurd

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menghadirkan format video cepat, padat, dan serba instan. Riset Lestari dan Islami (2024) dari Universitas Sahid berjudul, The Power of Parasocial Interaction: Relatability, Trust, and Ethical Engagement in Gen Z Influencer Marketing menunjukkan bahwa Gen Z memiliki ketertarikan tinggi terhadap konten yang bersifat relatable, santai, dan emosional, bahkan ketika isinya tidak informatif secara substansial.

Kecenderungan ini membuat konten dengan elemen absurd, humor receh, dan obrolan tanpa arah menjadi konsumsi utama harian. Paparan semacam ini menciptakan siklus adiktif: semakin banyak dikonsumsi, semakin menurun kapasitas fokus dan daya refleksi.

Dampak brain rot terhadap kesehatan mental

1. Menurunnya konsentrasi dan daya fokus

Menurut Zhang dan Pan (2023),  paparan konten digital berintensitas tinggi, terutama video pendek yang bersifat cepat dan repetitif, meningkatkan kelelahan kognitif (cognitive fatigue) serta menurunkan kapasitas pemrosesan informasi, yang pada akhirnya mengganggu kemampuan individu dalam mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam durasi panjang.

2. Peningkatan risiko kecemasan dan stres

Paparan konten intens tanpa jeda memperbesar risiko kelelahan mental. Hal ini berdampak pada meningkatnya kecemasan, sulit tidur, dan gangguan emosi. Konsumsi konten nirfaedah yang berlebihan juga memicu perasaan hampa, karena otak tidak mendapatkan stimulasi bermakna.

3. Melemahnya kemampuan berpikir kritis

Brain rot berkontribusi pada penurunan kemampuan analisis, refleksi, serta pemahaman mendalam. Generasi muda cenderung mengonsumsi informasi secara sepintas tanpa proses evaluasi, sehingga rentan terhadap misinformasi.

Parasosial yang memperparah adiksi

Lestari dan Islami (2024) menemukan bahwa parasocial interaction atau hubungan semu antara audiens dan kreator memperkuat keterikatan emosional. Streamer atau podcaster terasa seperti “teman ngobrol” bagi mereka, sehingga meningkatkan durasi konsumsi konten.

Hubungan parasosial ini membuat Gen Z:

  • Merasa ditemani
  • Merasa dipahami
  • Terikat emosional dengan kreator

Masalahnya keterikatan ini juga meningkatkan risiko kecanduan, terutama jika konten yang dikonsumsi minim nilai edukatif.

Mengapa konten nirfaedah terasa menarik?

Fenomena ini tidak lepas dari kelelahan kognitif akibat tekanan akademik, sosial, dan ekonomi. Studi Zhang dan Pan (2023) menyebutkan bahwa individu yang mengalami mental overload cenderung mencari hiburan tanpa tuntutan berpikir sebagai mekanisme regulasi emosi. Dengan kata lain, tontonan nirfaedah menjadi “pelarian” yang memberikan rasa lega, meskipun berdampak negatif dalam jangka panjang.

Isolasi sosial dan rasa Kesepian pada Gen Z

Melalui artikel The Times berjudul, Gen Z are lonely: here’s another point of view, 4 dari 5 Gen Z di Inggris mengaku merasa kesepian. Salah satu faktor pentingnya ialah karena menyempitnya ruang sosial akibat fragmentasi identitas, polarisasi pandangan, dan melemahnya kemampuan membangun relasi lintas perbedaan. Ini yang menjadi alasan konten streaming atau podcast yang terasa "nongkrong" menjadi teman untuk mereka seakan-akan mereka ikut hadir dalam obrolan tersebut

Bahaya brain rot pada Gen Z merupakan persoalan serius yang menyangkut kesehatan mental dan masa depan kognitif generasi muda. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten dangkal secara berlebihan dapat menurunkan fokus, meningkatkan kecemasan, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk membangun pola konsumsi media yang lebih sehat juga seimbang.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News