Energy Management System tingkatkan efisiensi energi di perusahaan

Di tengah kenaikan kebutuhan energi dan dorongan efisiensi operasional, perusahaan kini dituntut untuk memiliki pengelolaan energi yang lebih terukur. Tidak sedikit organisasi yang sebenarnya mengeluarkan biaya listrik besar, tetapi belum memiliki gambaran detail mengenai pola konsumsi dan potensi pemborosan di dalam sistem operasionalnya.

Update: 2026-02-26 07:50 GMT

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.

Indomie

Di tengah kenaikan kebutuhan energi dan dorongan efisiensi operasional, perusahaan kini dituntut untuk memiliki pengelolaan energi yang lebih terukur. Tidak sedikit organisasi yang sebenarnya mengeluarkan biaya listrik besar, tetapi belum memiliki gambaran detail mengenai pola konsumsi dan potensi pemborosan di dalam sistem operasionalnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, sektor industri merupakan salah satu konsumen energi terbesar di Indonesia. Di beberapa jenis industri, biaya energi bahkan dapat menyumbang hingga 20–30% dari total biaya produksi. Sementara itu, laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa penerapan sistem manajemen energi berbasis digital mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi sebesar 10–20% pada bangunan komersial dan industri.

Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi listrik sektor industri dan bisnis terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kawasan industri. Tanpa sistem monitoring yang akurat, lonjakan beban listrik, peralatan yang bekerja di luar jam operasional, maupun inefisiensi sistem pendingin dan pencahayaan dapat menambah beban biaya secara signifikan.

Di sinilah peran Energy Management System (EMS) menjadi semakin relevan. EMS memungkinkan perusahaan memantau konsumsi energi secara real-time melalui dashboard terpusat. Manajemen dapat melihat detail penggunaan energi per gedung, per lantai, bahkan per peralatan, sehingga potensi pemborosan dapat diidentifikasi lebih cepat dan akurat.

Pendekatan berbasis data ini membantu perusahaan beralih dari sistem reaktif menjadi sistem yang lebih proaktif. Dengan visibilitas penuh terhadap pola konsumsi, perusahaan dapat menyusun strategi pengendalian beban puncak, melakukan optimalisasi operasional, hingga merencanakan investasi efisiensi energi yang lebih tepat sasaran.

Lebih dari sekadar efisiensi biaya, penerapan EMS juga mendukung agenda keberlanjutan. Pemerintah Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, dan sektor industri memiliki peran penting dalam pencapaian target tersebut. Dengan data energi yang terukur, perusahaan dapat menghitung intensitas konsumsi energi dan potensi pengurangan emisi karbon secara lebih transparan.

Elshinta Peduli

Energy Management System pada akhirnya bukan hanya alat pemantauan, melainkan fondasi penting bagi perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing, mengontrol biaya operasional, serta menjalankan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Direktur Utama PLN Icon Plus, Chipta Perdana, dalam berbagai kesempatan menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong transformasi digital dan energi hijau keberlanjutan yang berkualitas. 

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News