Waspadai erosi genetik, UGM-Ewindo kerja sama pengembangan Bank Sumber Daya Genetik Sayuran
Sebagai fondasi utama pertanian, benih unggul memegang peranan penting dalam sistem pangan nasional yang menentukan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta kualitas hasil panen.
Sumber foto: Tita Sopandi/elshinta.com.
Sebagai fondasi utama pertanian, benih unggul memegang peranan penting dalam sistem pangan nasional yang menentukan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta kualitas hasil panen.
Di tengah tantangan global seperti krisis iklim, degradasi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati, upaya menjaga sumber daya genetik tanaman menjadi semakin mendesak.Tanpa upaya konservasi yang sistematis, Indonesia berisiko kehilangan kekayaan genetik tanaman yang menjadi fondasi utama produksi pangan. Kehilangan ini tidak hanya berdampak pada menurunnya keberagaman hayati, tetapi juga dapat membatasi kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim dan serangan hama di masa depan.
Salah satu langkah nyata dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan tersebut diwujudkan melalui pengembangan Bank Sumber Daya Genetik Sayuran yang dikelola secara kolaboratif oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT East West Seed Indonesia (Ewindo). Melalui kerja sama yang telah berlangsung sejak 2018 dan diperkuat kembali pada April 2026. Kedua institusi berkomitmen untuk mencegah erosi genetik, menjaga kekayaan genetik tanaman asli Indonesia (plasma nutfah), sekaligus mendorong hilirisasi guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ini menjadi semakin penting di tengah laju erosi genetik yang terjadi secara global akibat modernisasi pertanian dan hilangnya varietas lokal. Hingga saat ini, sebanyak lebih dari 2.000 aksesi kekayaan genetik tanaman lokal Indonesia berhasil dikoleksi, mencakup berbagai jenis sayuran seperti tomat, timun, wortel, pare, terong, seledri, paprika, labu, okra, cabai, dan komoditas lainnya yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Koleksi ini menjadi representasi penting dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang perlu dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Setiap aksesi yang tersimpan merepresentasikan potensi solusi bagi tantangan pertanian—mulai dari ketahanan terhadap iklim ekstrem hingga peningkatan produktivitas pangan.
Bank Genetik Sayuran tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih, tetapi juga sebagai pusat konservasi aktif yang memastikan benih-benih lokal tetap lestari melalui proses perbanyakan dan evaluasi. Keberadaannya menjadi benteng penting dalam menghadapi ancaman erosi genetik yang dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional.Tanpa intervensi seperti ini, banyak varietas lokal berpotensi hilang sebelum sempat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian masa depan.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia menyampaikan bahwa penguatan sektor hulu melalui konservasi genetik merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Langkah ini menjadi penting di tengah modernisasi pertanian dan hilangnya tanaman varietas lokal.
“Kalau kita berbicara tentang pengembangan bibit yang unggul itu akan sampai pada kebiasaan orang dalam mengolah dan mengonsumsinya. Dengan memahami rantai pasok dari sumber, kita akan bisa memastikan kualitas dan gizi komoditas. Sumber daya genetik tanaman perlu kita lestarikan bersama-sama,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Tita Sopandi, Senin (6/4).
Ke depan, UGM dan Ewindo akan memperkuat dan memperluas program ini melalui kegiatan collecting di berbagai daerah di Indonesia dengan melibatkan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa akan dibekali pelatihan terkait teknik pengumpulan benih sesuai standar operasional prosedur, serta melakukan eksplorasi dan identifikasi kekayaan genetik tanaman lokal di wilayah penugasan.
Langkah ini tidak hanya memperkaya koleksi genetik nasional, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya konservasi sumber daya genetik. Keterlibatan generasi muda ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya pelestarian benih terus berlanjut di masa depan.
Presiden Direktur Ewindo, Glenn Pardede, menekankan bahwa investasi pada benih merupakan investasi jangka panjang bagi sistem pangan Indonesia. “Sistem pangan nasional sangat bergantung pada kualitas benih yang kita miliki. Indonesia memiliki kekayaan genetik tanaman yang luar biasa, namun tanpa upaya konservasi yang sistematis, kekayaan ini bisa hilang. Melalui kolaborasi ini, kami berupaya memastikan bahwa sumber daya genetik tersebut tidak hanya terlindungi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan varietas unggul yang adaptif, produktif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Glenn menjelaskan bahwa pendekatan 3C ( Collect, Conserve, Convey ) menjadi dasar dalam pengelolaan Bank Genetik ini. Tahapan Collect dilakukan melalui eksplorasi dan pengumpulan benih lokal dari berbagai daerah. Selanjutnya, Conserve memastikan benih disimpan, diperbanyak, dan dievaluasi agar tetap hidup dan tidak punah. Sementara Convey bertujuan memperluas pemanfaatan benih bagi riset, pemuliaan, hingga pengembangan produk pertanian.Dengan pendekatan ini, Bank Genetik tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga secara aktif menciptakan solusi untuk masa depan sistem pangan Indonesia.
Melalui sinergi antara dunia akademik dan industri, Bank Genetik Sayuran diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga keberagaman hayati Indonesia sekaligus memastikan ketersediaan benih unggul yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing di masa depan, sekaligus wujud kontribusi lebih dari benih EWINDO untuk terus membersamai kehidupan. Karena pada akhirnya, menjaga benih hari ini berarti menjaga keberlanjutan pangan Indonesia di masa depan.


