Beijing: Perjanjian dagang AS-Taiwan langgar prinsip Satu-China
Pemerintah China mengecam kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Taiwan yang mencakup relokasi pabrik semikonduktor dari Taiwan ke AS dengan imbalan penurunan tarif impor. Hal itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam jumpa pers di Beijing pada Jumat (16/1), satu hari setelah AS dan Taiwan mengumumkan kesepakatan dagang.
"China dengan tegas menentang negosiasi dan penandatanganan perjanjian apa pun yang memiliki konotasi kedaulatan dan bersifat resmi antara wilayah Taiwan milik China dan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan China," katanya.
Kesepakatan dagang tersebut mencakup komitmen investasi Taiwan senilai 250 miliar dolar AS (sekitar 4.227,2 triliun) di sektor manufaktur semikonduktor dan teknologi AS. Sebagai imbalannya, tarif impor terhadap produk Taiwan diturunkan dari 20 persen menjadi 15 persen.
Kesepakatan tersebut mengakhiri negosiasi berbulan-bulan terkait industri semikonduktor Taiwan, menyusul permintaan Presiden AS Donald Trump agar produksi cip dipindahkan ke negaranya. Selain itu, Taiwan disebut akan menyediakan tambahan jaminan kredit sebesar 250 miliar dolar AS untuk membantu perusahaan kecil dalam rantai pasok semikonduktor yang berekspansi di AS.
"AS perlu sungguh-sungguh mematuhi prinsip Satu-China dan tiga komunike bersama China–AS," kata Guo, seraya menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, produsen cip Taiwan yang berekspansi di AS akan diberi fasilitas impor semikonduktor tanpa tarif tambahan selama masa konstruksi tertentu. TSMC, raksasa semikonduktor Taiwan, sebelumnya berkomitmen menginvestasikan 100 miliar dolar AS untuk memperluas bisnisnya di Arizona.
Pemerintah AS menyatakan kesepakatan dengan Taiwan adalah untuk memperkuat rantai pasok dan produksi semikonduktor AS, di tengah persaingan global di sektor teknologi strategis.

