Dialog bersama Menhan, PPI Turki rekomendasi 2 poin strategis

Update: 2026-01-11 05:10 GMT

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turkiye melakukan dialog bersama Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia, Jumat (9/1/2026).

Elshinta Peduli

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turkiye melakukan dialog bersama Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia, Jumat (9/1/2026). PPI Turkiye menegaskan pentingnya integrasi secara sistematis lulusan Indonesia dari Turkiye ke dalam perencanaan sumber daya manusia (SDM) pertahanan nasional.

Hal ini seiring upaya pemerintah membangun kemandirian industri pertahanan nasional dan memperkuat kapasitas human capital strategis.

PPI Turkiye menilai Indonesia masih menghadapi tantangan struktural pada aspek penyiapan dan penyerapan SDM berkompetensi tinggi, khususnya lulusan pendidikan tinggi luar negeri di bidang sains, teknologi, dan pertahanan.

Urgensi ini semakin memuncak mengingat data internal PPI Turkiye yang memproyeksikan bahwa lonjakan lulusan terbesar (bonus demografi intelektual) akan terjadi pada periode 2026-2027.

Gelombang talenta ini harus dinavigasi dengan tepat agar terserap ke sektor strategis dan tidak menjadi loss of talent. Padahal, alumni Indonesia lulusan universitas di Turkiye—baik jenjang S1, S2, maupun S3—telah terpapar langsung pada ekosistem industri pertahanan maju yang terintegrasi antara negara, industri, dan akademisi.

“Lulusan Indonesia dari Turkiye merupakan aset strategis nasional. Namun hingga kini, potensi tersebut belum terintegrasi secara sistematis dalam perencanaan SDM pertahanan nasional,” disampaikan Naura Arifa, Ketua PPI Turkiye dalam pemaparan kebijakan mereka, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Radio Elshinta, Minggu (11/1/2026).

Elshinta Peduli

Usulan Jalur Karier Khusus dan Upskilling Terstruktur

Dalam rekomendasinya, PPI Turkiye mengusulkan dua poin strategis sebagai upaya memperkuat penyiapan dan penyerapan sumber daya manusia unggul di sektor pertahanan nasional. Usulan ini menitikberatkan pada pembentukan jalur karier terstruktur serta penguatan ekosistem pembinaan pemuda berbasis industri pertahanan.

Poin pertama adalah pembentukan Defense Career Pathway & Program Upskilling Terstruktur. PPI Turkiye mengusulkan agar Kementerian Pertahanan merancang jalur karier khusus (special recruitment channel) bagi lulusan terpilih dari Turkiye melalui program magang strategis dan rekrutmen terarah di BUMN Pertahanan seperti Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan LEN, serta di lembaga riset di bawah Kementerian Pertahanan.

Selain itu, diusulkan pula penyelenggaraan Bridging Course / Program Beasiswa Pelatihan Teknis. PPI Turkiye mengimajinasikan kehadiran negara dalam menjembatani kendala tingginya biaya sertifikasi teknis yang dibutuhkan industri.

Melalui program ini, negara memfasilitasi upskilling lulusan agar memenuhi standar BUMN (seperti Pindad, PT DI) maupun mitra strategis Turki (TUSAŞ, TAI).

"Nilai tawar lulusan Turkiye bukan hanya pada ijazah, tetapi kami memiliki keunggulan penguasaan Bahasa Turki, adaptabilitas budaya, dan telah menyerap semangat kemandirian (yerli ve milli) selama bertahun-tahun. Dengan sedikit sentuhan fasilitas sertifikasi dari negara, kami siap menjadi jembatan teknologi yang efektif," tambah Naura.

Program tersebut dijalankan dengan skema komitmen pengabdian pasca-pelatihan, sehingga menjamin return on investment negara sekaligus memberikan kepastian penempatan kerja bagi para peserta setelah menyelesaikan program. Dengan demikian, pengembangan kompetensi SDM berjalan seiring dengan kebutuhan strategis industri pertahanan nasional.

Poin kedua adalah Adopsi Model Pembinaan Pemuda Berbasis Ekosistem Pertahanan (Turkish Youth Defense Ecosystem). Keberhasilan Turkiye dalam membangun kemandirian industri pertahanan ditopang oleh ekosistem integratif yang menghubungkan mahasiswa, industri, dan negara, sebagaimana tercermin dalam TEKNOFEST.

Model ini menekankan pendanaan riset mahasiswa berbasis kebutuhan industri pertahanan, keterlibatan aktif industri dalam pembinaan dan inkubasi inovasi, serta tersedianya jalur hilirisasi hasil riset ke dalam sistem produksi nasional.

Dalam konteks tersebut, PPI Turkiye menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mitra konseptor dan fasilitator transfer pengetahuan, khususnya dalam mereplikasi praktik-praktik terbaik yang relevan dan adaptif terhadap kebutuhan serta konteks pembangunan pertahanan Indonesia.

Menhan Tekankan Regenerasi Praktisi STEM

Sejalan dengan usulan tersebut, Menteri Pertahanan RI dalam pidatonya di hadapan perwakilan mahasiswa Indonesia di Turkiye menekankan pentingnya regenerasi praktisi teknologi muda berlatar belakang STEM untuk memperbaiki birokrasi dan BUMN.

Menurut Menhan, Indonesia tidak selalu membutuhkan figur yang telah berpengalaman puluhan tahun, melainkan talenta muda yang siap bekerja, berintegritas, dan berkembang dalam jangka panjang.

Pemerintah, kata Menhan, tengah menyiapkan mekanisme clearing house dan sistem cohort talenta muda untuk menyaring, membina, dan menempatkan praktisi terbaik secara bertahap dan meritokratis di posisi strategis.

“Masalah utama kita bukan pada kecerdasan intelektual, tetapi integritas, nasionalisme, dan mentalitas,” tegasnya, seraya mengingatkan ancaman korupsi dan kooptasi yang kerap menggerus institusi negara.

Ajakan Pulang dan Mengabdi

Dalam pidato tersebut, mahasiswa Indonesia di luar negeri didorong untuk kembali dan bersaing di dalam negeri. Menhan menegaskan bahwa “user” sejati dari pembangunan nasional adalah rakyat Indonesia.

“Kalau kau bersaing di luar, yang menjadi wasit adalah user kamu yang menggaji kamu. Tapi kalau yang di dalam negeri, itu pemerintah dan atas nama rakyat yang gaji,” ungkap Menhan.

Turkiye juga dipandang sebagai mitra strategis dan alternatif penting dalam pengembangan teknologi, mengingat sejarah kontribusi Indonesia di masa lalu yang perlu kembali dikejar.

Pidato tersebut ditutup dengan pesan moral agar generasi muda membangun karier secara bertahap, berani menghadapi risiko, dan tidak tergoda jalur instan tanpa pondasi kuat. Menhan juga meminta mahasiswa Indonesia untuk realistis dan tidak menghabiskan waktu berdebat tentang hal-hal yang tidak relevan atau termakan isu di media sosial.

PPI Turkiye menilai implementasi kebijakan ini akan berdampak pada penyiapan SDM pertahanan siap pakai dan berkelanjutan, optimalisasi investasi negara pada pendidikan luar negeri, penguatan agenda transfer teknologi dan kemandirian alutsista, serta pengurangan risiko brain drain dan peningkatan efektivitas perencanaan SDM nasional.

Dengan pendekatan ini, mahasiswa dan lulusan Indonesia di Turkiye diposisikan sebagai strategic human capital asset yang menjadi bagian integral dari arsitektur pembangunan pertahanan nasional. (Vit/Ter)

Elshinta Peduli

Similar News