Pengamat HI: Konflik Iran-Amerika masih berkaitan persoalan minyak
ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py
Pengamat hubungan internasional Alexius Jemadu menilai ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat merupakan kelanjutan konflik lama yang berkaitan dengan kepentingan minyak dan gas di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, Amerika membutuhkan akses sumber daya energi, sementara Iran memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar.
“Jangan lupa bahwa Amerika Serikat sangat membutuhkan akses kepada sumber daya alam di Timur Tengah dan Iran di sini kan negara dengan cadangan minyak dan gas yang sangat tinggi,” ujarnya dalam wawancara di Radio Elshinta, Selasa (12/1/2026).
Alexius menjelaskan, situasi konflik yang berkembang saat ini dimanfaatkan Amerika Serikat untuk memperkuat konsolidasi kekuatan di Timur Tengah. Ia menilai ancaman terbuka Presiden Donald Trump terhadap Iran tidak bisa dianggap sekadar retorika politik, karena Amerika memiliki instrumen ekonomi, militer, dan diplomasi yang kuat.
“Kalau situasinya memburuk dan korban meningkat, saya kira ancaman Trump itu serius dan bisa diwujudkan,” katanya.
Alexius juga menyoroti keterlibatan Israel dalam dinamika konflik Iran–Amerika. Menurutnya, hubungan strategis kedua negara membuat keterlibatan Israel tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Ia menilai aliansi tersebut berpotensi memperbesar eskalasi konflik, terlebih setelah Iran secara terbuka melancarkan serangan ke Israel.
“Amerika dan Israel itu tandem, berbagi intelijen dan sumber daya militer karena kepentingan strategis mereka beririsan,” jelas Guru Besar Politik Internasional Universitas Pelita Harapan itu.
Meski demikian, Alexius menegaskan Iran bukan pihak yang mudah ditaklukkan, mengingat kesiapan militer dan sumber daya strategis yang telah dibangun bertahun-tahun. Konflik terbuka, menurutnya, hanya akan memperbesar risiko perang regional bahkan global.
Steffi Anastasia/Mgg/Rama

