Jembatan Dua Benua: Menenun asa 75 tahun diplomasi di jantung Istanbul

Diplomasi ekonomi RI-Turki di KJRI Istanbul hadapi tantangan tarif tinggi. Investasi Turki ke RI naik 144%, namun perdagangan masih jauh dari target $10 miliar. Diaspora RI aktif di sektor jasa.

Update: 2026-01-24 11:29 GMT

Darianto Harsono, Konjen RI Istanbul Turkiye

Elshinta Peduli

Di balik kemegahan Hagia Sophia, ada sebuah diplomasi yang sedang berjuang menembus "tembok tinggi", Istanbul tidak pernah tidur. Di kota yang membelah diri antara Asia dan Eropa ini, tidak hanya terdengar Bunyi klakson kapal feri di Selat Bosphorus, dengan riuh rendah suara pedagang di Grand Bazaar. Namun, di tengah hiruk-pikuk metropolis berpenduduk 15 juta jiwa ini, ada sebuah simpul diplomasi yang masih terhitung muda namun bergerak sangat lincah.


Konjen RI, Darianto Harsono Saat sedang Berbincang dengan Jurnalis dari Indonesia yang berkesempatan Mengunjungi Istanbul.

 

Tahun ini, hubungan diplomatik Indonesia dan Turki genap menginjak usia perak ke-75. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Erdogan bahkan telah menegaskan komitmen strategis baru dalam pertemuan tingkat tinggi di awal 2025. Di tengah sejarah panjang itu, KJRI Istanbul hadir sebagai "adik bungsu" yang strategis. Meski payung hukum pembukaannya sudah ada sejak 2011 melalui Perpres No. 22 Tahun 2011, gerbangnya baru resmi terbuka pada 2013. Dua belas tahun sudah ia berdiri, memikul mandat berat di kota yang menjadi pusat napas ekonomi Turki.

Lebih dari Sekadar Stempel Paspor

Jika KBRI di Ankara sibuk dengan urusan politik dan keamanan, KJRI Istanbul adalah "ujung tombak" lapangan. Fokusnya tajam, ekonomi, sosial budaya pendidikan, dan perlindungan warga. Istanbul bukan sekadar kota wisata, ia adalah raksasa bisnis. Bayangkan saja, lebih dari 50 persen aktivitas ekonomi Turki berputar di sini. Di bidang pendidikan pun serupa, sekitar 75 persen institusi pendidikan tinggi Turki terkonsentrasi di Istanbul, menjadikannya magnet luar biasa bagi pelajar Indonesia.

Elshinta Peduli

Di sudut-sudut kota, pemberdayaan diaspora Indonesia mulai menampakkan taringnya. Melalui wadah seperti Ipemi hingga gerakan kreatif Yayasan Pasar Senggol, diaspora kita tidak lagi sekadar menetap, tapi juga menjadi duta produk-produk tanah air. Mereka bersosialisasi sekaligus berdagang, membawa aroma rempah dan tekstil Indonesia ke pasar internasional.



Konjen RI Istanbul, Bersama dengan Ibu Ida Darianto menjamu dengan Makanan Tradisional Indonesia seperti Bakso dan Tempe Goreng.

 

Angka yang Berbicara

Konjen RI Istanbul, Darianto Harsono saat ditemui oleh Jurnalis Elshinta pada Bulan Januari 2026 di Istanbul Menyampaikan, Persahabatan Indonesia Turkiye bukan sekadar retorika di atas kertas. Investasi Turki ke Indonesia sedang mengalami lonjakan yang cukup mengejutkan. Jika pada 2024 nilai investasinya berada di angka 19,3 juta USD, maka hingga September 2025, angkanya melesat hingga 47,2 juta USD, sebuah kenaikan fantastis sebesar 144 persen.

Namun, di meja perdagangan, tantangan masih membentang. Realisasi perdagangan 2024 yang mencapai 2,81 miliar USD sebenarnya masih jauh di bawah potensi asli kedua negara. Pemerintah telah mematok target ambisius, volume perdagangan harus menyentuh 10 miliar USD. Ujar Darianto Harsono di Istanbul Turkiye. Darianto mengatakan Hambatan utamanya berujung di meja negosiasi. Indonesia sangat mendorong kesepakatan IT-CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement), namun pihak Turki masih berhati-hati karena posisi Indonesia yang saat ini sedang surplus. Saat ini, jalur tengah yang diambil adalah perjanjian perdagangan terbatas (PTA) untuk komoditas tertentu. KJRI Istanbul kini terus bergerilya, mengetuk pintu para pengusaha Turki agar mau melihat potensi besar di balik hambatan birokrasi tersebut.

Masa Depan di Ujung Jari

Potensi perdagangan kedua negara itu nyata. Dari gulungan stainless steel hingga minyak sawit dan tekstil, komoditas Indonesia punya daya tawar tinggi di pasar Turki. Di tengah kota yang dulunya adalah sentra Bizantium dan titik temu agama-agama dunia ini, Indonesia sedang membangun jembatan ekonominya sendiri.

Tujuh puluh lima tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah persahabatan, namun bagi KJRI Istanbul, perjalanan baru saja dimulai. Di antara deru angin Bosphorus, ada harapan bahwa perdagangan yang macet akan segera mengalir deras, menyamai semangat dua bangsa yang sama-sama ingin berjaya di panggung dunia.

Tembok Tarif dan Asa di Balik Jemari Terampil: Wajah Indonesia di Istanbul

Meski hubungan Indonesia dan Turki telah berusia 75 tahun, urusan isi piring dan dompet masih menemui jalan terjal. Perang Tarif di Gerbang Bosphorus

Masalahnya klasik namun pelik, seperti tarif bea masuk. Saat ini, komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit dan batu bara harus memikul beban tarif hingga 35 persen untuk bisa masuk ke pasar Turki. Angka yang sangat tinggi ini membuat produk kita kalah saing. Bayangkan bedanya jika kesepakatan CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) atau PTA (Preferential Trade Agreement) terwujud, tarif itu bisa terjun bebas hingga ke angka 0 sampai 5 persen. Mengapa Turki masih enggan mengetuk palu? Ada kekhawatiran besar di Ankara. Pemerintah Turki khawatir jika pintu dibuka terlalu lebar untuk Indonesia, produk-produk asal China akan "menumpang lewat" melalui skema re-export untuk membanjiri pasar mereka. Inilah "buntu" yang sedang coba diurai oleh KJRI Istanbul. Mereka tidak hanya mendekati pejabat, tapi juga bergerilya ke asosiasi pengusaha dan importir besar Turki, membujuk mereka agar menekan pemerintahnya sendiri demi aliran barang yang lebih lancar.


Konjen RI Istanbul, Bersama dengan Ibu Ida Darianto menjamu dengan Makanan Tradisional Indonesia seperti Bakso dan Tempe Goreng.


Misteri Angka dan Diplomasi "Jegeg Bali"

Namun, diplomasi bukan hanya soal komoditas. Di sela-sela gedung pencakar langit Istanbul, ada ribuan "duta bangsa" yang bekerja dalam senyap. Secara resmi, data Portal Peduli WNI mencatat sekitar 3.000 warga negara Indonesia yang melapor diri di wilayah kerja KJRI Istanbul. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain.

Diperkirakan, ada sekitar 6.000 WNI yang sebenarnya menetap di Istanbul. Banyak di antara mereka yang belum melapor diri, namun keberadaannya sangat terasa di sektor perhotelan dan jasa wellness. Jika Anda masuk ke hotel-hotel mewah di Turki, besar kemungkinan ketenangan yang Anda rasakan berasal dari jemari terampil para terapis asal Bali. tidak hanya berbicara ekonomi, Masalah perlindungan WNI dan pekerja Migran juga menjadi hal krusial dan utama bagi KJRI Istanbul, dari Urusan Administrasi, Sampai Urusan Menata Hati juga diurus oleh para Diplomat. Darianto Harsono pun Mengamini bila urusan Asmara juga dan hubungan pribadi menjadi urusan yang harus di selesaikan oleh KJRI. (Riskianto)

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News