Setiket harapan dari Stasiun Pasar Senen menuju kampung halaman

Stasiun Pasar Senin pada hari ini bukan hanya titik keberangkatan, melainkan juga saksi dari banyak cerita yang berulang setiap tahun --tentang perantau yang sejenak ingin melepas beban, tentang kampung halaman yang selalu hadir dalam ingatan.

Update: 2026-03-18 13:20 GMT

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Indomie

Stasiun Pasar Senin pada hari ini bukan hanya titik keberangkatan, melainkan juga saksi dari banyak cerita yang berulang setiap tahun --tentang perantau yang sejenak ingin melepas beban, tentang kampung halaman yang selalu hadir dalam ingatan.

Ini bukan sekadar perjalanan biasa. Hari-hari sebelum lebaran adalah hari-hari ketika Jakarta seolah mengeluarkan semua kerinduan yang selama ini ditelan oleh kesibukan.

Semua kursi yang disediakan di stasiun terisi penuh, sehingga banyak penumpang yang duduk di lantai sembari memainkan ponsel mereka atau saling bercengkrama menunggu waktu keberangkatan.

Di bawah layar informasi kereta yang menampilkan nama-nama kota tujuan, terlihat tulisan “Selamat Idul Fitri 1447 H” dengan latar belakang warna-warni dan ratusan penumpang mengantre untuk naik ke kereta, bercampur dengan beberapa porter yang juga ikut mengantre karena membawakan koper dan tas penumpang.

Terlihat juga beberapa porter yang lalu lalang membawakan koper dan tas para penumpang yang baru turun dari kendaraan menuju ruang tunggu yang berisikan kursi, serta mereka yang juga menawarkan jasa porter kepada para penumpang tapi ditolak dengan halus.

Cukup banyak para ibu yang membawa anak-anak mereka untuk mudik terlihat duduk di lantai karena tidak kebagian kursi, sembari menjaga anak-anaknya yang terlihat senang dan ingin menjelajahi stasiun, atau bermain di tempat bermain yang disediakan oleh pihak stasiun.

Elshinta Peduli

Justru di sinilah wajah mudik lebaran yang sesungguhnya hadir; bukan keindahan seperti iklan-iklan lebaran di televisi, melainkan kesabaran yang terlihat di antara suasana yang ramai, berdesakan, serta antrian panjang, karena semua orang tahu bahwa di ujung perjalanan itu ada mereka yang menunggu.

Menurut Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, antusiasme masyarakat menggunakan kereta api cukup tinggi untuk lebaran tahun ini.

Dari total kapasitas 1.083.623 tempat duduk kereta api jarak jauh yang disediakan selama periode lebaran, sebanyak 743.786 tiket telah terjual, dengan rata-rata okupansi mencapai 69 persen.

KAI juga menghadirkan program diskon tarif sebesar 30 persen untuk kelas ekonomi komersial pada periode 14-29 Maret 2026. Khusus wilayah Jakarta, tersedia 329 ribu kursi dengan tarif diskon, dan masih tersisa sekitar 53 ribu kursi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, kata Franoto.

Nurma, perempuan berusia 23 tahun yang bekerja sebagai babysitter di daerah Grogol, pun memanfaatkan program diskon tarif 30 persen oleh KAI tersebut.

Dia mengatakan bahwa dirinya dan temannya, Esa (20 tahun), telah berusaha membeli tiket kereta sejak awal Februari dengan memanfaatkan diskon tarif tersebut.

Keduanya mengatakan bahwa mereka sempat gagal memesan tiket kereta beberapa kali, terhambat di bagian verifikasi data. Meskipun begitu, keduanya tetap berusaha mencari dan memesan tiket dengan mengakses aplikasi Access by KAI dari tengah malam hingga dini hari, dan akhirnya mendapat tiket dengan harga yang diinginkan.

Lain halnya dengan R. Ardi Martareja, penumpang berusia 43 tahun asal Kabupaten Tangerang. Dia dan istrinya, Tri Nuryanti (38), memanfaatkan program mudik yang difasilitasi oleh InJourney.

Dia dan istrinya mulai memesan tiket kereta ke Kutoarjo pada 12 Maret. Ardi mengatakan mereka berdua selalu siaga dari malam hingga dini hari agar bisa mendapatkan tiket dari program mudik tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa dirinya dan keluarga telah membeli tiket pulang dengan memanfaatkan program diskon tarif KAI, di mana dengan diskon tersebut, harga tiket dapat mencapai 175 ribu per orang.

Ardi pun berharap agar pemerintah selalu mengadakan program mudik tersebut setiap tahun karena keluarganya sangat terbantu dengan mendapat tiket kereta dengan harga yang lebih murah dari biasanya.

Senada dengan Ardi, Salsabila, perempuan berusia 23 tahun yang baru lulus kuliah, memanfaatkan program mudik yang difasilitasi oleh PLN.

Salsabila mulai memesan tiket ke Yogyakarta pada awal Maret. Ia mengatakan bahwa untuk tahun ini, pemesanan tiket dengan program mudik pemerintah itu semakin sulit.

“Tahun kemarin lebih gampang (pesan tiket), dan lebih sulit untuk verifikasi (data). Kalau tahun ini ‘war’ tiketnya susah, cuma verifikasi (data) gampang,” kata Salsabila.

Menurutnya, harga tiket yang didapat melalui program mudik yang diselenggarakan pemerintah itu sepadan dengan manfaat yang didapat.

Dia juga mengatakan telah mencoba membeli tiket balik ke Jakarta melalui program mudik dari pemerintah tersebut, tetapi tidak berhasil.

Meskipun begitu, dia mengatakan tetap senang berhasil mendapatkan tiket dari program mudik pemerintah itu.

Nurma dan temannya Esa, Ardi beserta istrinya Tri Nuryanti dan anaknya, serta Salsabila adalah sebagian kecil dari mereka yang ingin pulang ke kampung halaman melalui Stasiun Pasar Senen dengan memanfaatkan program yang ada; program mudik pemerintah maupun program diskon tarif oleh KAI.

Stasiun Pasar Senen menyimpan ingatan yang sangat panjang, dan menjadi saksi dari banyak orang yang belajar bahwa rumah adalah perasaan yang selalu berhasil menarik kita kembali, sejauh apa pun kita pergi dan seberat apa pun beban hidup yang sudah dijalani.

Gelombang manusia akan terus mengalir hingga malam takbiran tiba. Menurut data KAI, volume keberangkatan penumpang per 18 Maret 2026 di Jakarta mencapai 52.278 dengan kemungkinan jumlah penumpang akan semakin meningkat.

Namun, di balik catatan statistik yang rapi, ada hal yang tak akan pernah dapat dihitung: besarnya rasa rindu yang setiap tahunnya membuat mereka rela begadang tengah malam hingga dini hari untuk memesan tiket, rela berdesakan dan menempuh jarak demi bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News