ESDM: Hingga Februari terjadi 790 gempa embusan Gunung Karangetang
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga pertengahan Februari 2026 terjadi 790 kali gempa embusan Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut).
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga pertengahan Februari 2026 terjadi 790 kali gempa embusan Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut).
"Selain gempa embusan, terekam sebanyak 102 kali tremor harmonik, 127 kali tremor nonharmonik, empat kali gempa hybrid/fase banyak," kata Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam laporan aktivitas Gunung Karangetang periode 1-15 Februari 2026, yang di terima ANTARA di Manado, Kamis.
Pada periode tersebut juga tercatat ada 36 kali gempa vulkanik dangkal, 63 kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa tektonik lokal, satu kali gempa terasa pada skala MMI I dan 50 kali gempa tektonik jauh.
Berdasarkan evaluasi, kondisi visual pada kawah utama (selatan) tidak teramati adanya kejadian guguran/erupsi efusif, sementara tinggi asap maksimum mencapai 100 meter di atas puncak, suara gemuruh kadang terdengar di pos PGA.
Selanjutnya, kondisi kawah utara teramati asap putih sedang hingga tebal tinggi maksimum 100 meter di atas puncak, sinar api pada kolom asap tidak tampak, suara gemuruh kadang terdengar lemah hingga kuat, guguran lava tidak terjadi.
Kegempaan dalam periode ini menunjukkan penurunan dibanding pekan sebelumnya, gempa embusan juga menurun, namun intensitasnya masih tinggi.
Warga diharapkan mewaspadai awan panas guguran dimana kubah lava lama masih ada di puncak yang sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava.
Karakteristik awan panas guguran Gunung Karangetang terjadi dari penumpukan material lava yang gugur/longsor, serta mewaspadai kejadian lahar di waktu hujan deras di puncak.
Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi secara menyeluruh hingga 15 Februari 2026, tingkat aktivitas Gunung Karangetang pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi disesuaikan potensi ancaman bahaya terkini.
Warga, pengunjung ataupun wisatawan diharapkan mematuhi radius bahaya, di antaranya tidak diperbolehkan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama (selatan) dan kawah kedua (utara), serta 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah utama.
Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut guna mengantisipasi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
Selanjutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang.


