Keluarga pilot pesawat ATR bertolak ke Sulsel untuk jalani tes DNA
Keluarga Capt Andy Dahananto, pilot pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, salah satu korban kecelakaan udara, Sabtu (17/1), bertolak ke Sulawesi Selatan untuk tes DNA di Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulsel di Makassar.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Keluarga Capt Andy Dahananto, pilot pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, salah satu korban kecelakaan udara, Sabtu (17/1), bertolak ke Sulawesi Selatan untuk tes DNA di Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulsel di Makassar.
"Pagi tadi (keluarga) berangkat. Cuma tidak tahu pasti jam berapa berangkatnya, yang pasti ke Makassar memenuhi panggilan terkait peristiwa kecelakaan pesawat," kata Ketua RT 06, Perumahan PWS, Tigaraksa, Franciscus Nasir, di Tangerang, Banten, Senin.
Ia mengatakan Capt Andy Dahananto merupakan pilot senior pesawat ATR 42-500 sekaligus Direktur Operasi Indonesia Air Transport.
Ia warga Perumahan PWS RT06/RW03, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten yang tinggal sejak 1994 atau selama 31 tahun.
"Dia cukup lama. Dan beliau adalah sosok kepala keluarga yang sangat ramah dan orangnya tegas. Dan juga cukup sosial, membantu masyarakat ketika ada kesulitan apa saja," katanya.
Selain itu, sosok Andy juga cukup dikenal masyarakat sebagai ramah, sering karena membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan, mulai dari perihal kebersihan hingga keamanan lingkungan perumahan.
Ia mengatakan Franciscus latar belakang pendidikan Andy diketahui lulusan akademi penerbangan Juanda dengan memiliki satu istri dan dua anak.
"Beliau memiliki dua anak, yang satu udah selesai, dan jadi pilot juga dari jurusan penerbangan dulu. Kemudian yang satu lagi udah lulus kerja di rumah online," kata dia.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di wilayah Pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulsel saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin.
Pada hari kedua operasi SAR, sejumlah serpihan-serpihan pesawat serta satu jenazah korban yang belum teridentifikasi telah ditemukan tim SAR gabungan di gunung setempat.
Pesawat ini ditumpangi 10 orang, tujuh kru pesawat dan tiga penumpang POB (Persons on Board). Ketiganya diketahui pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), masing-masing Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Kru pesawat tujuh orang, dengan pilot Captain Andi Dahananto, copilot Muhammad Farhan Gunawan, kru pesawat Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita.


