Bagaimana sebatang pohon menghubungkan masa depan Indonesia-Tiongkok?

Update: 2026-03-12 11:30 GMT
Indomie

Setiap tanggal 12 Maret, Tiongkok memperingati Hari Menanam Pohon. Pada hari ini, jutaan warga Tiongkok keluar rumah untuk menghijaukan bumi. Namun makna peringatan ini lebih dari sekadar menanam—ia adalah sebuah jendela untuk melihat bagaimana Tiongkok mengintegrasikan konsep pembangunan hijau ke dalam kebijakan domestik, dan melalui kerja sama internasional, berbagi pengalaman serta peluang pembangunan peradaban ekologis dengan mitra-mitranya termasuk Indonesia.

Tradisi menanam pohon masyarakat Tiongkok menyimpan kearifan peradaban. Selama lebih dari 40 tahun, tutupan hutan Tiongkok telah meningkat dari 12% menjadi lebih dari 24%, menciptakan kawasan hutan tanaman terbesar di dunia. Setiap pohon adalah praktik dari konsep "air jernih dan gunung hijau adalah gunung emas dan perak". Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam benih filosofi pembangunan bahwa modernisasi sejati bukanlah menaklukkan alam, melainkan hidup berdampingan dengannya.

Konsep ini kini melintasi lautan. Di Sumatra, perusahaan Tiongkok membantu komunitas lokal menanam hutan jati; di Kalimantan, proyek infrastruktur hijau melindungi habitat orangutan; di Jawa, kerja sama energi bersih membuat gunung lebih hijau dan air lebih jernih. Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok menekankan "produktivitas berkualitas baru", yang bukan hanya terobosan teknologi, tetapi juga menyediakan jalur baru pembangunan hijau bagi Global Selatan—tidak mengulang jalan lama "polusi dulu, baru diatasi", tetapi langsung memasuki jalur baru peradaban ekologis.

Elshinta Peduli

Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, sekaligus menjadi paru-paru bumi. Menjaga kehijauan ini berarti menjaga masa depan seluruh umat manusia. Dari Hari Menanam Pohon, kita tidak hanya melihat kerja sama teknis Tiongkok-Indonesia, tetapi juga tanggung jawab kedua peradaban terhadap generasi mendatang. Saat teknisi Tiongkok mengajari petani Indonesia menanam bibit jati, saat ilmuwan kedua negara bersama-sama meneliti perlindungan lahan gambut, yang mereka tanam adalah harapan terhadap keamanan iklim, masa depan keanekaragaman hayati, dan fondasi komunitas senasib sepenanggungan umat manusia.

Sebuah bibit pohon membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menjadi pohon dan seratus tahun untuk menjadi hutan. Kerja sama hijau Tiongkok-Indonesia bagaikan pohon-pohon yang sedang tumbuh. Akar, tertancap di tanah masing-masing; dedaunan, bertemu di angkasa bersama-sama menaungi bumi. Di Hari Menanam Pohon ini, marilah kita percaya bahwa setiap upaya hijau membentuk masa depan yang kita inginkan.

Elshinta Peduli

Similar News